Pembukaan Pelatihan Bahasa Dan Budaya Indonesia

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

“Though this course is short, but it is of prime importance for your debut in Indonesia, both in your academic activity and social life………”, demikian cuplikan singkat dari arahan Bapak Duta Besar RI untuk PNG dan Solomon Island (SI), Andreas Sitepu, pada acara pembukaan pelatihan Bahasa dan Budaya Indonesia bagi para penerima  beasiswa Pemerintah Indonesia di Ruang Serbaguna “Joglo” KBRI PoM, Rabu, 1 Agustus 2012. 

 

Hadir dalam acara pembukaan tersebut  Tim Pengajar yang dikoordinir oleh Atdikbud, peja bat pelaku fungsi dan staf KBRI PoM serta peserta kursus yang terdiri dari 27 penerima   beasiswa.  Tim Pengajar merupakan sinergi dari potensi masyarakat Indonesia dan Friends of Indonesia yang ada di PoM, yakni: WNI yg berprofesi sebagai pengajar Bhs Indonesia di perguruan setempat, para pastor/rohaniawan Indonesia, para alumni, dan mantan pejabat setempat yang pernah mengenyam kursus kedinasan di Indonesia.

 

Ini merupakan kali kedua Dubes Sitepu membuka kursus serupa selama keberadaan beliau sebagai kepala perwakilan RI di KBRI PoM.  Pada waktu yang hampir bersamaan tahun lalu (2011)  pengarahan yang sama juga diberikan oleh beliau kepada 21 para penerima beasiswa Pemerintah RI. 

 

Sebagaimana diungkapkan oleh Dubes Sitepu kepada para peserta,  beliau sangat puas atas performance batch yang terdahulu, karena dari hasil pemantauan dan laporan yang diterima, mereke merasa betah, puas, dan bangga dengan apa yang mereka alami dan peroleh dalam proses belajar mengajar serta dalam pembauran dengan masyarakat setempat. 

 

Diharapkan agar batch yang sekarang ini juga dapat meniru jejak teman-teman mereka yang  sudah terlebih dahulu berada disana. Nasehat Pak Dubes, buka diri, buka mata dan pasang telinga dan berbaurlah dengan lingkungan.

 

Program pemberian beasiswa Pemerintah RI yang dikoordinir oleh Kemdikbud RI c/q Atdikbud sejalan dengan rencana strategis KBRI PoM dalam upaya menggalakkan people-to people contact. Keberadaan para penerima beasiswa selama dan sesudah masa studinya di Indonesia diharapkan dapat menjadi “jembatan” bagi kedua bangsa (RI dan PNG) yang hingga saat ini terkesan “dekat namun terasa jauh”.

 

Dekat karena berbatasan langsung secara geografis, namun terasa jauh karena tidak saling kenal dan memahami.  Perubahan terhadap keadaan tersebut secara pelan tapi pasti sedsang diupayakan.

 

Hasilnya sudah mulai terlihat dengan mensinerjikan potensi para alumi yang tersebar di seluruh negeri PNG melalui  Asosiasi Alumni PNG-Indonesia yang sudah sah terbentuk pada bulan April 2012. 

 

Dengan semakin maraknya pengiriman para penerima  beasiswa untuk belajar ke Indonesia diharapkan “jembatan-jembatan kecil” yang sekarang dibangun pada waktunya akan menjadi “jembatan raksasa” antar kedua negara.

 

Penjaringan para calon peserta sebenarnya tidak dibatasi hanya kepada para pemuda/ pelajar PNG tapi juga yang berada di Solomon Islands sebagai wilayah rangkapan KBRI PoM. Proses sudah sempat berjalan dan persiapan sudah matang, namun adanya pergantian pemerintahan yang berdampak pada pergantian kabinet, termasuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, membuat kesepakatan yang sudah dicapai dengan menteri yang sebelumnya, dengan menteri yang baru menjadi mentah dan terpaksa ditinjuau kembali.

 

Hal ini  mengakibatkan absennya peserta dari  negara tersebut.  “Next time better” begitu ucap  Atdikbuk, Didik Wisnu W.

 

Dalam penjelasannya, Atdikbud sebagai penyelenggara, menginformasikan  bahwa animo untuk mengikuti program beasiswa tersebut sangat tinggi, tercatat dari permintaan formulir yang mencapai 800 (delapan ratus) orang. 

 

Namun sampai batas waktu yang ditetapkan formulir yang kembali (masuk) ada sekitar 300 berkas.  Mengingat bahwa proram ini merupakan bagian dari kerjasama kedua negara, maka dalam proses seleksi KBRI PoM juga melibatkan Dept of Higher Education of PNG.  Dari hasil seleksi ketat dan fair terpilih 27 calon yang kesemuanya telah disetujui oleh pusat dan universitas terkait.

 

Para penerima  beasiswa tersebut akan mengikuti kuliah di berbagai perguruan tinggi di tanah air, antara lain: Institusi Teknologi Surabaya (2 orang); Universitas Komputer Bandung (12 orang); Universitas Sriwijaya, Palembang (3 orang); Universitas Diponegoro, Semarang (5 orang); Universitas Pajajaran, Bandung (2 orang); Universitas Pasundan, Bandung (1 orang), Universitas Sam Ratulangi, Manado (1 orang) dalam berbagai strata: S1, S2, dan S3.  Empat orang dari 27 penerima beasiswa mengikuti program non-gelar melalui program Dharmasiswa. (Sumber : KBRI Port Moresby).