DIPLOMASI PUBLIK

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

“We thank Indonesian Embassy for its participation in the service of today Sunday Mass” ujar Pastor Valerie sebelum mengakhiri acara misa Minggu 5 Juni 2011 yang lalu. Selanjutnya beliau mengimbuhkan “Look at that young people, they have done their best to serve the Church with the simple things they have. I hope it will inspire others in our Parish to do the same, for the glory of God”. Agaknya pernyataan Pastor Valerie tersebut agak berlebihan, tapi telah terucap dan tidak bisa ditarik kembali karena telah didengar dan diaplaus oleh 700an umat yang mengikuti misa pukul 9.00 pagi itu. “Young people” yang dimaksudkan oleh Pastor Val termaksud adalalah sekelompok anak/remaja Indonesia (KBRI PoM) yang dibantu oleh teman-teman mereka anak-anak Filipina yang pada misa pagi itu untuk pertama kalinya mengiringi perayaan misa dengan band lengkap (drum, bass , rhitym guitar, keyboard, violin, singers). Menurut beberapa dari umat yang sempat dimintai komentarnya, mereka mengatakan bahwa iringan musik untuk perayaan misa kali ini sungguh mengesankan, ada kombinasi yang baik antara gairah/semangat yang diciptakan oleh irama drum dan alunan violin yang sendu pada saat yang tepat, sehingga membuat suasana misa kali ini lebih menyentuh. Kita bersyukur penampilan perdana mereka telah berhasil baik. Raihan ini tidak dicapai begitu saja, ceritanya panjang. Inisiatif datang dari anak-nak sendiri dalam percakapan keseharian mereka di sekolah dan semakin fokus setelah bertemu dan berbincang-bincang dengan suster yang bertugas dalam urusan liturgi di Gereja St Don Bosco (Gereja Katholik terbesar di Port Moresby). Anak-anak sepakat untuk minta bantuan Ibu Ati Brata (anggota DWP KBRI PoM) untuk melatih mereka. Sebagai seorang guru musik professional (mantan pengajar di Yamaha Musik Jakarta) beliau tanpa ragu menyanggupi permintaan anak-anak tersebut. Sebenarnya melihat apa yang telah Bu Ati lakukan selama ini dalam menyiapkan acara-acara di KBRI kita tidak perlu khawatir. Namun yang kali ini, tampil di acara luar KBRI dan dihadapan publik yang jumlahnya besar dengan materi pemain yg masih “ingusan”, bagi kita orang awam, ini benar-benar edan. Tapi bukan Bu Ati kalau tidak mampu mengubah yang tak mungkin menjadi mungkin dan bagus pula. Latihan untuk 10 buah lagu dikebut dalam 1 bulan di sela-sela kesibukan sekolah anak-anak. Bagaimana caranya hanya Ibu Ati lah yang tahu, tapi yang jelas di minggu ketiga sudah mulai kelihatan berbentuk, anak-anak “ingusan” dalam pengalaman dan kemampuan bermusik itu sudah mulai menunjukkan kemajuan pesat dan tampil percaya diri. Bayangkan saja para pemain bervariasi dari SD kelas 4, SMP dan SMA kelas 2. Malah justru sebaliknya, pada hari-hari terakhir Ibu Ati sendiri yang hampir frustrasi, pasalnya peralatan dan sound system yang semula dijanjikan ada, ternyata tidak tersedia. Begitu frustrasinya, sampai-sampai Bu Ati ingin membatalkan saja. Tapi atas dukungan Ibu Anna Sitepu dan dengan menggunakan semua peralatan yang dimiliki oleh KBRI akhirnya hati Ibu Ati dapat dikuatkan dan semua berjalan seperti rencana. Inilah kali kedua anak-anak Indonesia (KBRI PoM), berkolaborasi dengan teman-temannya “anak-anak ASEAN” melakukan gebrakan publik dengan mengusung nama dan bendera Indonesia. Seminggu sebelumnya, dalam acara UN Concert yang diselenggarakan oleh Port Moresby International School yang digelar secara open air dan dihadiri oleh 1.500-an penonton, mereka juga telah ikut menyemarakkan pagelaran. Dengan didasari oleh “kekompakan ASEAN” anak-anak Indonesia, Filipina dan Malysia telah mampu menampilkan 2 tarian Indonesia (Badinding, Lenggang Nyai) dan satu tarian Filipina (Tinikling/tari bambu) dengan penuh pesona. Tanpa mereka sadari dan tanpa rekayasa, semangat persahabatan dan persaudaraan ASEAN telah tumbuh dan bekerja dalam diri mereka. Apakah ini termasuk bagian dari “Diplomasi Publik” seperti yang sering diungkapkan para diplomat? Yang jelas,kalaupun ditanyakan, mereka tidak akan mampu menjawab, tapi mereka telah melakukannya.