PERINGATAN HARI IBU DAN HUT DWP

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Kalau Bapak-bapak sedikit peka dan jentelmen, maka sepatutnyalah mereka mengacungkan dua jempol kepada Ibu-ibu DWP KBRI PoM atas kepiawaian, kerapian dan kekompakan mereka dalam menggelar suatu perhelatan seperti yang mereka tunjukkan dalam rangka memperingati Hari Ibu ke- 82 yang digabung dengan HUT DWP ke-11 pada Sabtu, 18 Desember 2010 lalu. Dalam kata pembukaannya, Ibu Vivi Joneri, selaku Ketua Panitia, menjelaskan bahwa beberapa kegiatan yang telah dilakukan menjelang hari HUT DWP tersebut antara lain: turut serta dalam pengumpulan dana bagi korban bencana alam di Indonesia melalui penjualan makanan, penanaman pohon dan tanaman yang berguna untuk bumbu masakan, serta mengikuti pelatihan tentang public speaking dan kiat menjadi MC yang baik. Rupanya pelatihan singkat dalam 3 kali pertemuan berdurasi masing-masing 2 jam yang diberikan oleh Sdr Joneri Alimin, pelaku fungsi konsuler, spesialis MC pada setiap acara formal KBRI PoM telah membuat perubahan cara pandang Ibu-ibu terhadap potensi terpendam yang mereka miliki. Sungguh merupakan suatu introspeksi bahwa dimana ada kemauan disitu ada jalan. Seusai acara peringatan formal Hari Ibu dan HUT DWP yang diakhiri dengan pemotongan kue ultah DWP ke-11, Koordinator Acara, Ny Giri Budimansyah, menghantar pada acara hiburan yakni lomba baca puisi bertemakan “rasa kagum dan cinta terhadap ibu” oleh anak-anak Indonesia. Sembari acara sedang berlangsung, terdengar komentar spontan seorang Bapak dengan mimik serius:”Akh….anak-anak ini, ngomongnya Inggris banget, kalau kita mah kayak (seperti) ngomong Inggris”. Bapak disebelahnya agak ‘telmi’, tak bergeming, tapi begitu nyadar terkekeh sendiri sambil nyeletuk keras:”Jadi bahasa Inggris kita ecek-ecek, begitu….ha..ha..ha..”. Memang, lafal/pronunsiasi dan intonasi bicara serta penghayatan mereka dalam Bahasa Inggris sudah tidak beda dengan anak-anak native speaker lainnya. Betapa ini merupakan asset bangsa di masa depan sebagai generasi penerus. Selanjutnya adalah giliran Bapak-bapak. Kali ini kemampuan mereka dalam urusan belakang (dapur) diuji melalui kompetisi membuat sambal rujak dan cara penyajiannya. Mulanya kelihatan seperti main-main, tapi segera berubah menjadi serius karena ternyata tidak semudah yang mereka pikir dan bayangkan. Kebanyakan dari Bapak-bapak peserta yang berjumlah 10 orang itu agak kebingungan dari mana harus mulai, uleg sambalnya dulu atau iris buahnya. Kalau biasanya si Bapak selalu take for granted untuk urusan dapur dan urusan tetek bengek rumah tangga, setelah mengalami kepanikan kecil seperti ini menjadi sadar betapa rumitnya tugas dan pentingnya peran seorang ibu, sebagaimana terucap dalam puisi anak-anak tadi. Peringatan Hari Ibu dan HUT DWP telah dilaksanakan secara lancar, tertib dan rapi serta meninggalkan kesan mendalam pada seluruh hadirin.