Sarasehan “Pembangunan desa dengan memanfaatkan lahan kosong” Dalam rangka HUT Korpri ke-40 KBRI Phnom Penh Tanggal 29 Oktober 2011

10/29/2011

Dalam rangkaian kegiatan peringatan HUT Korps Pegawai Republik Indonesia ke-40, KBRI Phnom Penh telah menyelenggarakan sarasehan mengenai lingkungan yang berjudul “Pembangunan Desa dengan Memanfaatkan Lahan Kosong” pada tanggal 29 Oktober 2011 bertempat di KBRI Phnom Penh. Sarasehan dihadiri oleh sekitar 50 orang yang terdiri dari seluruh staf KBRI dan keluarga serta masyarakat Indonesia yang ada di Phnom Penh.

Duta Besar RI untuk Kamboja, Soehardjono Sastromihardjo yang memandu jalannya sarasehan, dalam sambutan pembukaannya antara lain mengharapkan kiranya peserta sarasehan dapat memanfaatkan acara ini dengan optimal karena keterkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari seperti pemanfaatan pekarangan dan penghijauan yang dapat membantu menyerap carbon dioxide. Program Director and Technical Advisor Improved Cookstoves Program dari Group for the Environment, Renewable Energy and Solidarity S. Yohanes Iwan Baskoro sebagai nara sumber antara lain menyampaikan bahwa pembangunan pedesaan adalah pemberdayaan sumber daya manusia agar mampu bersahabat dengan alam disekitarnya. Pemanfaatan lahan kosong khususnya untuk usaha pekarangan dapat memberi manfaat ganda dalam waktu relatif singkat dan permulaan bagi usaha penghijauan.

Pemanfaatan lahan kosong atau pekarangan tidak memerlukan modal besar dapat dimulai dengan tanaman yang mudah. Untuk penghijauan harus memperhatikan jenis dan sifat pohon yang berbeda seperti sebagai peneduh, pagar hidup, pengikat nitrogen, memperkuat struktur tanah, pestisida dan meningkatkan/menurunkan keasaman tanah. Di samping itu, sampah kelapa dan tebu dapat dimanfaatkan menjadi arang dan briket. Disampaikan pula cara pembuatan pupuk kompos. Masyarakat perlu melakukan prevensi global warming dimulai dari rumah tangga dan diri sendiri seperti dengan membeli produk-produk lokal. Karyawan dapat menghemat penggunaan kertas dengan cara mendaur ulang atau menggunakan kertas yang halamannya masih bisa dipakai.

Berdasarkan pengalaman yang bersangkutan dalam mengajarkan pembangunan desa dengan memanfaatkan lahan kosong bagi penduduk desa di Kamboja ditemukan bahwa penduduk desa Kamboja belum mengenal pemanfaatan tanaman sebagai sumber gizi dan untuk pengobatan, seperti daun katuk yang bermanfaat untuk ibu yang menyusui, bayam dan katuk sebagai sumber zat besi serta tomat sumber vitamin C. Pemanfaatan pestisida organik sangat tinggi. Hambatan lainnya adalah cuaca seperti hujan yang mengakibatkan banjir dan ketersediaan sumber air pada musim kemarau terbatas, kompetisi dengan kebutuhan akan lahan hunian serta fast cash activities, petani menjadi buruh migran dan bekerja di pabrik. Namun demikian, di beberapa tempat dan propinsi masih terdapat petani menanam padi dan sayur yang cepat panen dan mudah ditanam. Pemerintah Indonesia pada tahun 1996 membantu pedesaan dengan pembuatan sumur.

Sarasehan berjalan dengan lancar dan produktif dengan adanya diskusi interaktif antara nara sumber dan peserta, dan diakhiri dengan makan siang bersama.