Produk Indonesia Berani Diadu di Pasar Kamboja

11/14/2010

 

”Laris manis tanjung kimpul. Dagangan habis duitnya ngumpul.” Begitu lebih kurang arti senyum manis yang menyungging lebar disebagian besar wajah puas para peserta pameran pada hari terakhir Indonesian Trade and Tourism Promotion 2010.

Pameran digelar empat hari, 4-7 November 2010, di pusat Kota Phnom Penh, diikuti sedikitnya 40-an perusahaan dari Indonesia yang memproduksi berbagai jenis barang dan jasa. Bersama Majalah Gatra, Kompas diundang hadir meliput acara itu oleh Duta Besar RI untuk Kamboja Soehardjono Sastromihardjo.

Bagaimana tidak senyum sumringah, sehari sebelum pameran ditutup banyak peserta pameran sudah kehabisan stok dagangan. Beruntung buat mereka yang punya kantor perwakilan di sana karena bisa langsung meminta stok tambahan.  Akan tetapi, buat mereka yang hanya mengandalkan barang dagangan bawaan dari Tanah Air, beberapa dari mereka terpaksa menutup gerai lebih awal karena memang tidak lagi ada barang yang bisa dijual.

Animo masyarakat Kamboja terhadap produk-produk Indonesia ternyata cukup tinggi. Setiap kali pameran jumlah pengunjung selalu membeludak. Produk barang asal Indonesia?mulai dari barang-barang konsumsi (consumer goods) macam makanan-minuman, obat dan jamu, garmen, sampai produk lain, seperti peralatan listrik, mesin dan engineering, serta furnitur dan barang kerajinan (handycraft)?kualitasnya berani diadu dengan barang-barang sejenis buatan Kamboja, Vietnam, dan Thailand, yang memang membanjiri pasar negara itu.

Menurut Soehardjono, nama Indonesia sudah lama akrab di negeri itu. Pada tahun 1992-1993 Indonesia terlibat dalam Pemerintahan Transisi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Kamboja (United Nations Transitional Authority in Cambodia). Soehardjono termasuk salah seorang yang bertugas mewakili Indonesia ketika itu.

Jika dilihat dari total populasi Kamboja yang 12 juta orang, kata Soehardono, Kamboja bisa menjadi sasaran pasar alternatif menjanjikan buat pengusaha dan produsen Indonesia. Apalagi dalam kurun tiga tahun terakhir angka ekspor Indonesia ke Kamboja selalu naik nilainya hingga 
20 persen. Hal itu tampak dari nilai neraca perdagangan kedua negara. Hal itu karena kualitas dan harga produk asal Indonesia sangat kompetitif.

Salah seorang produsen lampu dan peralatan listrik asal Jawa Timur, Suwito, memaparkan, jika dibandingkan dengan produk lampu buatan Thailand dan Vietnam, produk buatannya jauh lebih murah dan kualitasnya tetap lebih baik.
”Terus terang sekarang ini kami menjajaki pasar, sekaligus ingin tahu seperti apa keinginan masyarakat sini. Kalau melihat dari pemain lama, Vietnam dan Thailand, kami berani bersaing untuk segmen barang seharga 2,5 hingga 3 dollar AS. Harga bisa kami akali karena bahan baku sepenuhnya bisa kami buat sendiri. Kami menargetkan, misalnya, dari 
empat lampu di setiap rumah tangga di sana dua lampu buatan kami,” ujar Suwito optimistis.

Cara pandang tak kalah optimistis juga disuarakan Presiden Direktur Nyonya Meneer Charles Saerang, produsen kosmetik dan jamu tradisional asal Semarang, Jawa Tengah, yang terbang langsung ke Kamboja untuk memasarkan produknya. ”Memang total populasi Kamboja hanya 12 juta orang. Secara pasar, potensinya belum bisa dibilang terlalu besar. Namun, patut diingat, kalau kita berhasil masuk dan menguasai pasar sini, Kamboja bisa dijadikan semacam pintu gerbang untuk masuk ke negara-negara kawasan Indochina. Selama ini produk jamu, kan, masih dikuasai China. Kami 
berani adu kualitaslah,” ujar Charles.

Pendapat itu juga diamini FX Jimmie, Manajer Pemasaran perusahaan obat DexaMedica. Menurutnya, Kamboja terbilang pasar besar buat mereka. Omzet perusahaannya di sana per bulan nilainya bisa mencapai 150.000-200.000
dollar AS.
”Produk kami sudah 10 tahun masuk Kamboja. Banyak dokter akrab dengan produk obat kami. Saingan dari India, Sri Lanka, dan Thailand,” ujar Jimmie.

Namun, upaya menembus pasar Kamboja bukannya tanpa kendala. Selain pertimbangan jarak dan lokasi yang terbilang jauh, masalah aturan pajak, pungutan liar, dan praktik korupsi disebut-sebut juga masih menjadi persoalan di sana.

Ira Setiawati dari Ida Ira Gallery memaparkan, untuk produk furnitur dan handycraft, peraturan pajak yang dikenakan terbilang lumayan besar. Total nilai pajak yang harus ditanggung malah bisa mencapai 46 persen. Belum lagi biaya pengiriman barang dari Tanah Air ke Kamboja.

”Potensi pasarnya besar. Apalagi kualitas furnitur Jepara (Jawa Tengah), yang saya pasok, kayu dan desain ukirannya jauh lebih bagus. Malah desain kami sering ditiru. Cuma, ya, itu, pajaknya tinggi dan aturan sering juga berubah. Beberapa pengusaha konon harus bekerjasama dengan aparat setempat kalau mau aman,” keluh Ira.

(Wisnu Dewabrata, Kompas, 14 November 2010)