Pola Kemitraan Pemerintah dan Swasta salah satu Model Implementasi ASEAN Connectivity (Phnom Penh, Kamboja, 7-8 September 2012 )

9/8/2012

Demikian salah satu rangkuman pembahasan Simposium ke-3 mengenai implementasi Cetak Biru Konektivitas ASEAN (Master Plan on ASEAN Connectivity/MPAC) yang telah diselenggarakan di Phnom Pehn, Kamboja, tanggal 7-8 September 2012. Meskipun diakui bahwa tidak ada satu model kemitraan (public private partnership/PPP) yang dapat diterapkan di semua negara anggota ASEAN, namun Simposium ini mencatat banyak contoh sukses yang dapat digali dari pengalaman negara ASEAN, seperti Indonesia, Filipina dan Malaysia. Hal ini juga dinilai sebagai salah satu cara mengajak peran swasta dan perbankan melakukan pembangunan infrastruktur di ASEAN. Hal ini juga diharapkan sebagai salah satu strategi memobilisasi sumber dana yang dibutuhkan setiap tahun untuk implementasi MPAC sebesar US$ 60 milyar pertahun atau sebesar US$ 600 milyar untuk 10 tahun ke depan. Pembentukan Dana Infrastruktur ASEAN sebesar US$ 500 juta yang diharapkan segera beroperasi dapat berfungsi untuk menarik pendanaan inovatif lainnya.

 

Simposium membahas perkembangan terakhir implementasi AHN (ASEAN Highway Network) pada 2015, pembangunan SKRL (Singapore-Kunming Rail Link) pada 2020, dengan kemungkinan pengembangan jalur hingga Surabaya, studi kelayakan pembangunan jaringan ASEAN RO-RO (roll-on-roll-off) yang menghubungkan Davao dengan Bitung. Organisasi keuangan regional dan internasional, Asian Development Bank (ADB) dan World Bank yang berpartisipasi pada pertemuan ini juga menegaskan dukungannya kepada ASEAN untuk implementasi MPAC dan kalangan swasta di ASEAN maupun di luar ASEAN juga mengindikasikan minatnya untuk berpartisipasi.

 

Simposium dibuka oleh Wakil Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Kamboja, H.E. Hor Namhong, dan menghadirkan sekitar 200 peserta yang terdiri dari para pembangku kepentingan ASEAN Connectivity dari seluruh Negara anggota ASEAN, termasuk Wakil Menteri BAPPENAS, Dr. Ir. Lukita Dinarsyah Tuwo, dalam kapasitas sebagai Koordinator Nasional MPAC dan Duta Besar Ngurah Swajaya sebagai anggota Komite Koordinator ASEAN mengenai Konekivitas. Simposium juga dihadiri oleh wakil negara mitra eksternal ASEAN seperti Uni Eropa, Australia, Jepang, China, dan wakil Asian Development Bank (ADB), Bank Dunia, ESCAP.

 

Terkait dengan implementasi MPAC di Indonesia, beberapa quick wins yang disampaikan Indonesia sejalan dengan implementasi MP3EI antara lain pembangunan jaringan Ro-Ro menghubungkan Indonesia dengan negara ASEAN, perkembangan jaringan AHN di Indonesia khususnya di Sumatera Jawa dan Bali, Pembangunan Interchange tenaga listrik antara Malaysia dan Indonesia dan pengembangan jaringan broadband di 75 dari 497 kabupaten/kota yang bukan merupakan kawasan komersial. (Sumber: PTRI ASEAN)