Kamboja Cukup Seksi bagi Produk Buatan Indonesia

11/14/2010

 

Dengan total populasi sekitar 12 juta orang, potensi Kamboja terbilang lumayan ”seksi” untuk menjadi target pasar produk Indonesia. Tidak hanya itu, Kamboja juga diyakini bisa menjadi ”pintu masuk” penetrasi produk Indonesia di pasar kawasan Indochina, seperti Vietnam, Laos, Myanmar, dan Thailand.

 

Selain produk konsumsi, semacam makanan-minuman dan pakaian atau garmen; berbagai produk obat-obatan, kosmetik, jamu, mesin, furnitur, kerajinan tangan, dan peralatan listrik dipercaya mampu bersaing.


Potensi besar itulah yang coba sering ditawarkan dan dipromosikan oleh Duta Besar RI untuk Kamboja Soehardjono Sastromihardjo, yang mengundang Kompas untuk mengikuti pameran tahunan Indonesian Trade and 
Tourism Promotion 2010, 4-7 November 2010, di Kota Phnom Penh, Kamboja.


Berikut petikan wawancara dengan Soehardjono seputar potensi dan kendala yang bisa dihadapi para produsen Indonesia jika ingin memasarkan produk barang atau jasa mereka di negara itu. Belum lagi kendala aturan, di antaranya pajak.


Bagaimana potensi pasar Kamboja untuk produk Indonesia?
Cukup besar kalau dilihat dari neraca perdagangan Indonesia-Kamboja. Kita selalu surplus karena dari total nilai perdagangan sekitar 202 juta dollar AS per tahun, sebanyak 195 juta dollar AS berbentuk ekspor dari Indonesia. Sementara angka pertumbuhan per tahunnya bisa mencapai  20 persen, setidaknya hal itu yang terbaca dalam tiga tahun terakhir.

 

Selain barang konsumsi, apa lagi yang berpotensi besar dipasarkan?
Produk pertambangan, ya, seperti batu bara. Pasokan batu bara yang bisa konsisten dan berlanjut masih sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik di Kamboja. Selama ini masih impor dari Vietnam. Baru-baru ini Kamboja membangun pembangkit listrik tenaga batu bara. Dari total kebutuhan listrik dalam negeri, baru separuh 
saja telah terpenuhi. Sisanya masih diperlukan sumber daya listrik sebesar 100 megawatt lagi.
Saat kami berkunjung resmi ke Pemerintah Kamboja kemarin, Menteri Perdagangan Kamboja resmi mengajukan permintaan agar Indonesia bisa  memasok batu bara yang mereka perlukan untuk menghasilkan listrik sebesar 100 megawatt. Mereka malah menjamin akan membeli secara berkelanjutan.

 

Seberapa populer produk Indonesia di Kamboja?
Saya yakin sangat dikenal. Apalagi produk obat Indonesia. Beberapa merek yang dijual bebas di Indonesia juga sangat populer di sini. Beberapa produk farmasi Indonesia juga umum diresepkan dokter-dokter sini.
Selain produk obat dan produk konsumsi, perusahaan engineering kita juga ada yang berhasil memenangi tender membangun infrastruktur jaringan listrik senilai hampir 30 juta dollar AS atau sepanjang 20 kilometer.

 

Bagaimana soal keluhan regulasi yang tidak mendukung?
Ya, memang bisa dibilang regulasi di sini sering berubah. Akhirnya investor ragu. Takutnya, ketika dilihat sepertinya kondusif, tetapi saat masuk berubah lagi.
Juga soal pungutan dan praktik korupsi.

Saat berkunjung pekan lalu, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menjanjikan akan membawa lebih banyak investor AS masuk ke Kamboja asal budaya dan praktik korupsi serta suap benar-benar dihapus. Baru-baru ini, Perdana Menteri Hun Sen mendirikan lembaga antikorupsi macam KPK di Indonesia untuk menjawab masalah itu.

(DWA, Kompas 14 November 2010)