Universitas di Australia Antusias kerjasama dengan PTN Indonesia

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Canberra (ANTARA News) - Universitas Murdoch dan Curtin University of Technology (CUT), Australia Barat, sangat antusias untuk mengembangkan kerja sama "dual degree" dengan berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia, kata Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Canberra, DR R. Agus Sartono, MBA.

Namun, peluang kerja sama yang memungkinkan Indonesia mendapatkan "pengakuan bersama" terhadap kualitas pendidikan tingginya sangat bergantung pada kesiapan dan kesediaan universitas-universitas negeri di Tanah Air, katanya kepada ANTARA News di Canberra, Selasa.

Pernyataan Agus Sartono itu terkait dengan hasil pembicaraannya dengan para pemimpin dari kedua universitas terkemuka di Australia Barat tersebut pekan lalu.

"Kerja sama dalam `dual degree` untuk program sarjana dan magister tidak hanya memberikan peluang kepada para mahasiswa di universitas negeri kita untuk mendapatkan gelar akademik ganda dengan lebih murah, namun yang lebih penting daripada itu adalah adanya `mutual recognition` terhadap kualitas pendidikan tinggi kita," katanya.

Pengakuan terhadap kualitas pendidikan tinggi Indonesia itu sangat diperlukan Indonesia, katanya.

Menurut Agus, CUT sejauh ini sepakat untuk menawarkan kerja sama kepada empat perguruan tinggi terkemuka Indonesia, yakni Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Universitas Indonesia (UI) di Jakarta dan Depok, dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Bagi Universitas Murdoch yang kuat dalam sains biologi dan peternakan, universitas itu dapat bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan perguruan tinggi-perguruan tinggi lain yang juga relatif kuat di bidang tersebut, seperti UGM dan Universitas Sumatera Utara (USU), katanya.

Ia mengemukakan, dalam pembicaraannya dengan dua pejabat CUT, Dr.Walter Ong, dan Prof. Kevin McKanna, tentang kemungkinan pengembangan kerja sama "dual degree" dengan keempat perguruan tinggi di Indonesia itu, maka persoalan asrama mahasiswa yang sesuai dengan standar mahasiswa internasional sempat mengemuka.

"Mereka memberi perhatian yang besar pada masalah `international student housing` oleh universitas-universitas di Indonesia" katanya.

Dalam kunjungan kerjanya pekan lalu itu, Agus juga bertemu para mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam PPIA Australia Barat.