Menlu RI: Perdagangan Global Merupakan Suatu Realita
Deplu, Jakarta. “Tak dapat dipungkiri lagi bahwa saat ini perdagangan dan liberalisasi ekonomi merupakan penggerak utama pertumbuhan ekonomi dan globalisasi. Suka atau tidak perdagangan global merupaka realita yang memberikan pengaruh yang tidak kecil dalam kehidupan kita.” Demikian disampaikan Menteri Luar Negri Republik Indonesia dalam sambutan pembukaan pada Lokakarya Nasional Mengenai Kemajuan “Doha Development Agenda and TRIPs Agreement” yang diselenggarakan di Hotel Borobudur, 21 Februari 2007.
Lebih Jauh Menlu menggarisbawahi bahwa saat ini jurang antara yang kaya dan yang miskin semakin meluas. Dan untuk mengatasi hal tersebut diawal abad 21 dicanangkan the Millenium Development Goals (MDGs) dan Doha Development Agenda (DDA). Pada kenyataannya kita belum mampu mencapai tujuan tersebut walaupun tujuh tahun telah berlalu.
Dalam paparannya Menlu juga menegaskan bahwa Indonesia akan melakukan berbagai hal sesuai dengan kemampuan yang ada untuk menutupi kesenjangan yang ada. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan pemahaman terhadap substansi dan cakupan perjanjian TRIPs serta menghimpun masukan bagi peran serta Indonesia dalam pembahasan isu-isu HKI di WTO. Hal tersebutlah yang mendasari penyelenggaraan lokakarya ini, tegas Menlu.
Deliberasi ini juga merupakan sarana bagi Indonesia untuk meningkatkan pemahaman dan kesiapan terhadap tantangan HKI, terutama mengenai perlindungan terhadap sumber daya genetika dan pengetahuan tradisional yang menjadi kepentingan nasional. Bagi Indonesia sumber daya genetika dan pengetahuan tradisional harus dapat dimanfaatkan untuk mendudkung pembangunan dan kesejahteraan bangsa.
Forum yang diresmikan Menlu ini juga menghadirkan pembicara kunci Menteri Perdagangan RI, Mari E. Pangestu dan Dirjen WTO, Mr. Pascal Lamy. Beberapa pembicara lain adalah Abu Bari Azed, Direktur Jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual, Dephukkam & HAM dan dua orang pakar dari Sekretariat WTO yaitu Pierre Arhel serta Jayashree Watal. PW