Malaysia

I. PROFIL NEGARA
 
 
 
Nama Resmi
Federation of Malaysia
Populasi
27.5 million (UN, 2009)
Ibu Kota
Kuala Lumpur
Luas Wilayah
329,847 sq km (127,355 sq miles)
Bahasa Nasional
Malay (official), English, Chinese dialects, Tamil, Telugu, Malayalam
Agama Kepercayaan
Islam, Buddhism, Taoism, Hinduism, Christianity, Sikhism
Mata Uang
1 ringgit = 100 sen
Ekspor Utama
Electronic equipment, petroleum and liquefied natural gas, chemicals, palm oil, wood and wood products, rubber, textiles
GDP Perkapita
US $6,970 (World Bank, 2008)
Domain Internet
.my
Kode Sambungan Negara
+60
 
 
 
II. HUBUNGAN BILATERAL
 
Hubungan diplomatik Indonesia–Malaysia secara resmi terjalin sejak 31 Agustus 1957 saat Malaysia menyatakan kemerdekaannya. Indonesia sebagai salah satu dari 14 negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Malaysia, langsung menaikkan status Kantor Perwakilannya dari Konsulat Jenderal menjadi Kedutaan Besar Republik Indonesia dan menempatkan Dr. Mohd Razif (Alm) sebagai Duta Besar RI yang pertama untuk Malaysia.
 
Hubungan kedua bangsa sebenarnya telah terjalin jauh sebelum masing-masing negara merdeka. Di masa Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 hingga kejayaan Kerajaan Samudera Pasai pada abad ke-17 serta di masa penjajahan, hubungan antar penduduk dan kekerabatan telah terjalin dengan erat satu sama lain.
 
Itulah sebabnya hingga kini dapat ditelusuri berbagai keturunan dari Indonesia yang tinggal di Semenanjung Malaysia seperti keturunan Jawa berdiam di Pantai Barat Johor, Selangor, Perak. Keturunan Bugis tersebar di Pantai Timur Johor, Pahang dan Terengganu. Keturunan Aceh berdiam di sekitar Pulang Pinang, Kedah dan Perak. Keturunan Batak Mandailing tersebar di Selangor dan Perak, sedangkan keturunan Kerinci berdiam di sekitar Pahang dan Selangor. Keturunan Minangkabau tersebar di Negeri Sembilan, Melaka dan Selangor dan keturunan Banjar tersebar di Perak serta Pahang.
 
Pada masa awal hubungan bilateral, kedua negara juga sempat mengalami era konfrontasi pada tahun 1963-1965. Namun dengan visi jauh ke depan, para pemimpin kedua negara telah mengambil sikap yang bijak untuk segera memulihkan hubungan dan bahkan menjadi pelopor dalam pembentukan organisasi regional ASEAN, 1967.
 
Intensitas komunikasi dan kunjungan antar pemimpin kedua negara Indonesia-Malaysia dewasa ini cukup tinggi. Sejak Februari 2005, Presiden RI telah 4 kali berkunjung ke Kuala Lumpur. Terakhir, Presiden RI berkunjung ke Kuala Lumpur pada 6-8 Juli 2008 dalam rangka menghadiri KTT D-8.
 
Sementara Wapres RI telah berkunjung 3 kali, yaitu pada Mei 2005, Juli 2007 untuk memperoleh gelar Honoris Causa dari Universiti Malaya dan pada 30 Agustus untuk menghadiri 50 Tahun Kemerdekaan Malaysia. Sedangkan PM Abdullah Badawi telah berkunjung ke Indonesia sekurangnya 8 kali sejak Januari 2004 dan Deputi PM Najib Tun Razak sebanyak 7 kali. Yang Di-Pertuan Agong Malaysia telah berkunjung ke Indonesia sebanyak 2 kali sejak Januari 2006.
 
Menurut informasi Pemerintah Malaysia, saat ini jumlah TKI legal diperkirakan mencapai 1,1 juta jiwa yang tersebar di Semenanjung Malaysia dan Malaysia Timur (Sabah dan Sarawak). Sejumlah 600.000-800.000 orang lainnya diperkirakan ilegal. Disamping itu masih terdapat sekitar 30.550 mahasiswa, 5.000 orang ekspatriat, 200.000 pemegang status Permanent Residence dan 2 juta turis WNI setiap tahunnya.
 
Perwakilan RI di Malaysia terdiri dari 1 (satu) KBRI Kuala Lumpur, 4 (empat) Konsulat Jenderal di Penang, Johor, Kota Kinabalu dan Kuching dan 1 (satu) Kantor Penghubung di Tawau. Khusus KBRI Kuala Lumpur, jumlah Home Staff (HS) adalah sekitar 30 dan Local Staff (LS) 133 orang.
 
Banyaknya staf KBRI Kuala Lumpur mencerminkan beban kerja KBRI yang padat, mengingat jumlah WNI yang dilayani juga sangat banyak. Faktor kedekatan geografis, ikatan persaudaraan dan kontak serta kerjasama bilateral Indonesia-Malaysia yang cukup intens menjadikan banyak sekali outstanding issues yang harus ditangani oleh KBRI.
 
A. Politik dan Keamanan
 

a) Konsultasi Tahunan tingkat Kepala Pemerintahan terakhir diselenggarakan di Putrajaya pada 11 Januari 2008 dan telah membahas isu penting dalam bidang politik, hankam, sosial ekonomi, budaya dan pendidikan.

b) Pembentukan Eminent Persons Group (EPG) Salah satu kesepakatan Konsultasi tahunan 2008 adalah pembentukan EPG/Dewan Pakar guna menyusun rekomendasi sehubungan isu-isu bilateral serta dapat menyampaikan rekomendasi yang menjadi rujukan Pemerintah kedua Negara.

 

EPG diresmikan oleh Presiden RI dan PM Malaysia di sela-sela penyelenggaraan KTT D-8 di Kuala Lumpur pada 7 Juli 2008. Pertemuan EPG ke-3 telah dilaksanakan di Kuala Lumpur pada 8-9 Oktober 2008. Beberapa hal yang diangkat dari pertemuan kali ini antara lain:

  • Penggunaan bahasa Indonesia/Melayu dalam pelaporan/rekomendasi EPG kepada Kepala Pemerintahan. Penggunaan bahasa Inggris hanya sebagai referensi.
  • Rencana penyelenggaraan Dialog Kesejarahan dan Dialog Budaya pada Nopember 2008 di Batam.
  • Pembahasan dan pembentukan tim kecil untuk menangani TKI yang dipekerjakan secara ilegal oleh Malaysia
  • Mendorong kerjasama antar UKM dan KADIN kedua negara
  • Penyelenggaraan inter media dialog secara berkala
  • Pelaksanaan kunjungan muhibah antar kalangan media.
    Pertemuan EPG selanjutnya akan dilaksanakan pada 12-13 Nopember 2008 di Indonesia dan di Malaysia pada 22-23 Desember 2008. 
 
c) General Border Committee (GBC) merupakan wadah kerjasama bilateral antara Indonesia dengan Malaysia dalam bidang militer-pertahanan. Sidang GBC diselenggarakan setiap tahun dengan tempat penyelenggaraan secara bergantian dilakukan di Indonesia dan Malaysia. 
 
Sejak tahun 1971 hingga saat ini sidang telah berlangsung sebanyak 36 kali.  Sidang ke-36 GBC telah dilangsungkan di Malaysia pada tanggal 11 hingga 15 Desember 2007.  Beberapa kesepakatan untuk memperluas kerjasama antara lain kerjasama di bidang operasi pengamanan perbatasan, kunjungan antar pejabat pada tingkat Panglima Komando, Pertukaran kunjungan para perwira, Pendidikan maupun latihan gabungan bagi ketiga matra TNI dengan ATM (Angkatan Tentera Malaysia).
 
Dampak positif kerjasama tersebut adalah terciptanya hubungan kedua Angkatan Bersenjata yang mengedepankan profesionalisme tentara namun tetap proporsional dan kritis dalam menanggapi isu-isu diantara kedua negara.
 
 
B. PERDAGANGAN
 
Pada tahun 2007, Indonesia merupakan negara ke-11 terbesar tujuan ekspor Malaysia dengan nilai total US$ 5,22 milyar atau naik 19,00% dibandingkan tahun 2006. Ekspor terdiri atas ekspor migas sebesar US$ 1,61 milyar (meningkat 16,51%) dan non migas senilai US$ 3,60 milyar (meningkat 20,15%).
 
Indonesia juga merupakan negara ke-9 terbesar asal impor dengan nilai sebesar US$ 6,28 milyar, menurun 17,69% dibandingkan tahun 2006. Impor dari Indonesia tersebu mengambil pangsa impor 3,82% (2005) dan 3,78% (2006). Total impor ini dikontribusikan oleh impor migas dan non migas yang masing-masing senilai US$ 720,22 juta dan US$ 5,56 milyar.
 
Total perdagangan bilateral (ekspor-impor) RI-Malaysia senilai US$ 11,50 milyar, meningkat 18,28% dibandingkan 2006. Komoditi impor utama Malaysia dari Indonesia antara lain elektronika, komponen kendaraan bermotor, kakao dan karet.
 
Pada 2007, Malaysia mencatat posisi defisit dengan Indonesia sebesar US$ 1,06 milyar atau meningkat 11,68% dari posisi defisit tahun 2006 senilai US$ 955,95 juta. Neraca perdagangan defisit untuk Malaysia disebabkan meningkatnya impor non migas dari Indonesia.
Dalam kerangka kerja sama ekonomi, perdagangan, investasi dan promosi, KBRI juga melaksanakan serangkaian upaya untuk promosi terpadu di Malaysia. 
 
KBRI juga aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan pameran perdagangan dan ekshibisi produk Indonesia guna meningkatkan perdagangan bilateral kedua negara.  Pada tanggal 10 – 13 Nopember 2007, Indonesia menampilkan sole exhibition yang bertajuk Trend Indonesia 2007 di Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC).
 
Pameran tersebut diselenggarakan oleh KADIN Komite Malaysia bekerjasama dengan KBRI Kuala Lumpur, Departemen Perdagangan dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI serta dihadiri oleh total pengunjung/potential buyers sebanyak 3.222 orang. Sebagai agenda tahunan, maka pada 2 Juli 2008 telah diselenggarakan pameran the 6th Discovery Indonesia Trade Tourism and Investment di Mid Valley Mega Mall yang berlangsung dari tanggal 2-6 Juli 2008. Pameran dimaksudkan sebagai upaya membuka serta memasarkan peluang investasi dan bisnis potensial antara pengusaha dari kedua negara.
 
Investasi
 
Jumlah investasi Malaysia adalah sebesar 18% dari total jumlah investasi asing di Indonesia. Sektor pembangunan infrastruktur dan perumahan, telekomunikasi dan asuransi diperkirakan akan menarik minat investor Malaysia ke Indonesia, selain industri otomotif dan pembangkit tenaga listrik. Di sektor perbankan, Malaysia mulai melakukan investasi di Indonesia sejak 2002 dengan berinvestasi di Bank Niaga.
 
Malaysia semakin memantapkan investasinya baru-baru ini dengan dilakukannya merger antara Bank Niaga (saham dikuasai CIMB Group) dan Bank Lippo (mayoritas saham dikuasai oleh Khazanah Nasional Bhd). Penandatanganan merger turut dihadiri oleh Deputi Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Najib Tun Razak yang berkunjung ke Jakarta pada 3 Juni 2008. Dengan merger tersebut, maka CIMB akan menguasai 58,7% saham dan Khazanah 18,7% saham.
 
Dalam beberapa kesempatan, investor Malaysia mengakui masih terkendala dengan jaminan perlindungan atas investasi di Indonesia, khususnya dalam hal kepastian hukum (status tanah lokasi investasi), serta mengharap perlunya suatu badan yang menerima pengaduan (complaint) dari para investor. Indonesia-Malaysia telah memiliki Perjanjian Perlindungan Investasi untuk memberikan jaminan investasi kepada investor Malaysia di Indonesia.
 
Air Asia sebagai budget airlines Malaysia telah membuka rute penerbangan baru yang menghubungkan Kuala Lumpur-Jogjakarta pada 1 Pebruari 2008 dan Kuala Lumpur-Banda Aceh pada April 2008. Pembukaan rute Kuala Lumpur-Jogjakarta tersebut yang selanjutnya juga diikuti oleh Malaysia Airlines sangat strategis dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi, dengan mengalirnya arus kunjungan dan wisata dari Malaysia ke Indonesia.  
 
Air Asia juga membuka rute penerbangan Kuala Lumpur-Makassar dan Kuala Lumpur-Manado pada 12 September 2008
 
C. PENERANGAN, SOSIAL DAN BUDAYA
 
Di bidang sosial budaya, kedekatan hubungan antara masyarakat Indonesia dan Malaysia sudah terjalin sejak lama. Kedua negara memiliki kemiripan nilai budaya tradisional yang diwarisi secara turun temurun (reog, wayang kulit, batik dan sebagainya) yang jika dikelola dengan baik akan memberikan nilai ekonomis tinggi. Hal tersebut menyebabkan kedua negara memiliki potensi ketegangan yang apabila tidak dikelola dengan mengedepankan rasa saling menghormati dan saling pengertian, akan mempengaruhi hubungan baik kedua negara.  Peningkatan people to people contact menjadi opsi penting untuk mengelola hubungan tersebut.
 
Upaya promosi Indonesia juga gencar dilakukan untuk meningkatkan citra positif Indonesia. Pada 30 April 2008, KBRI bekerjasama dengan importir film Malaysia melakukan launching pemutaran film “Ayat-Ayat Cinta”. Film yang mengetengahkan kisah cinta dalam kerangka universalitas Islam tersebut mendapatkan sambutan cukup luas dari kalangan publik Malaysia.
 
KBRI juga berperan aktif dalam menggerakkan diplomasi kebudayaan bekerjasama dengan institusi Pemerintahan dan swasta, seperti penyelenggaraan promosi seni kuliner Indonesia bekerjasama dengan hotel-hotel terkemuka di Malaysia, dengan menampilkan suguhan seni budaya tradisional dan dekorasi khas Indonesia.
 
RI-Malaysia telah menandatangani Memorandum Kesepakatan Bersama dalam Bidang Penerangan dan Komunikasi di Kuala Lumpur pada tanggal 13 Juli 1984. Sebagai upaya menindaklanjuti kerjasama dalam MoU tahun 1984 yang belum terealisasi, pada 2 Agustus 2007 telah ditandatangani Agreed Minutes of the 8th Joint Committee Meeting of Information oleh Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Mohammad Nuh dan Menteri Penerangan Malaysia, Datuk Seri Zainuddin Maidin di Kuala Lumpur.
 
Salah satu kesepakatan adalah untuk meningkatkan pertukaran kerjasama di bidang penerangan, utamanya antar media elektronik, yaitu radio dan televisi serta peningkatan pertukaran pegawai penerangan antara kedua negara.
Pada 11-12 Juni 2008, JCIM ke-9 telah diselenggarakan di Jakarta dalam rangka menindaklanjuti kesepakatan sebelumnya dan juga menginisiasi beberapa kerjasama baru seperti pembentukan Regional TV News Channel, joint photo exhibitions dan mendorong exchange visit serta pertukaran wartawan kedua negara.
 
Realisasi dari kesepakatan dimaksud adalah disiarkannya joint news bulletin Warta Serumpun yang diluncurkan pada tanggal 17 Agustus 2008 dalam kerangka HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-63. Tayangan secara live di Indonesia dan Malaysia melalui RTM dan TVRI tersebut menghadirkan berita-berita terkini dari kedua negara. Disamping itu, pada 29 Agustus 2008 telah diselenggarakan Pameran Foto Bersama RI-Malaysia yang diresmikan oleh Menteri Penerangan Malaysia, Dato’ Ahmad Shabery Cheek di Pusat Pelancongan Malaysia.
 
Sebagaimana kesepakatan Pemimpin kedua negara, maka pertemuan pertama anggota Eminent Persons Group telah dilaksanakan pada tanggal 29-30 Agustus 2008 di Hotel Borobudur, Jakarta. Pertemuan difokuskan pada aspek kesejarahan yang meliputi dialog pakar sejarah dan budaya, kepemudaa, media massa dan sektor swasta. Pertemuan kedua direncanakan akan dilaksanakan pada 8-9 Oktober 2008 di Kuala Lumpur.