Hubungan Bilateral

Hubungan bilateral RI – Perancis telah terjalin baik sejak September 1950 dan selama ini hubungan kedua negara terus menunjukan peningkatan tanpa menghadapi masalah-masalah yang mengganggu hubungan antara kedua negara. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan kedua negara tersebut menunjukkan kecenderungan yang positif antara lain melalui pertemuan kedua kepala negara baik di sela-sela pertemuan G20 maupun pada saat berlangsungnya UN COP-21 di Paris. Selain itu terdapat pula kunjungan di tingkat pejabat setingkat menteri, anggota senat, serta berbagai misi pemerintah kedua negara.

Beberapa pertemuan terakhir dari tingkat pemimpin dan pejabat tinggi kedua negara, tercatat diantaranya:

  • Kunjungan Ketua dan Anggota Kelompok Persahabatan Senat Prancis ke Indonesia pada April 2016. Delegasi Senat telah bertemu dengan anggota DPR RI, PD RI, Mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Direktur Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, serta Kunjungan ke KRI Spica dan Rigel. Selain itu delegasi juga melakukan kunjungan lapangan ke Lahan dan Fasilitas Sawit Golden Agri Resources (GAR) Sinarmas serta Fasilitas industri Asia Pulp and Paper (APP).
  • Kunjungan Menteri Muda Perdagangan Internasional, Pariwisata dan WN Prancis di Luar Negeri, Matthias Fekl ke Jakarta, pada April 2016, untuk bertemu dengan Menlu RI, Mendag, Menteri PPN/Kepala Bappenas, dan bersama Menkominfo, Menhub serta Sekjen Kemnaker menyaksikan penandatanganan perjanjian kerjasama G-to-G dan B-to-B. Selain itu Menteri Fekl bersama Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Pariwisata Kemenpar juga menghadiri acara Promosi Pariwisata Indonesia – Prancis bertempat di IFI Jakarta.
  • Pertemuan bilateral Menlu RI Retno Marsudi dengan telah Menlu Perancis Jean-Marc Ayrault di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri pada Februari 2017, dimana keduanya menyepakati Nota Kesepahaman di bidang Pelatihan dan Pendidikan Diplomatik serta Kerja Sama Kegiatan Keantariksaan.
  • Kunjungan Presiden Francois Hollande ke Jakarta pada bulan Maret 2017 dan melakukan rangkaian pertemuan dengan Presiden Joko Widodo, dimana keduanya membahas peningkatan kerja sama bilateral di bidang kemaritiman, ekonomi kreatif, infrastruktur, dan energi. Kunjungan Presiden Hollande ke Indonesia merupakan yang terakhir di masa kepemimpinannya, sebelum digantikan oleh Presiden Emmanuel Macron.
Dalam KTT G20 bulan Juli 2017 di Hamburg, Jerman, Presiden Joko Widodo dan Presiden Emmanuel Macron terlibat dalam dialog antarpemimpin 20 Ekonomi utama dunia.
 
Terkait bidang ekonomi, Perancis mendukung lisensi yang sudah diberikan UE untuk kayu dan produk kayu Indonesia, serta negosiasi Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement. Indonesia merupakan negara pertama yang mendapatkan lisensi FLEGT [Forest Law Enforcement, Governance and Trade, red] timber and timber products untuk memasuki kawasan UE. Saat ini kedua negara sedang mencoba mengembangkan lisensi serupa untuk produk kelapa sawit Indonesia. Hal lain yang sedang dalam tahap negosiasi lanjutan adalah Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement. Bagi Indonesia, perjanjian ini merupakan prioritas untuk dapat dirampungkan.
 

Dari sisi investasi, nilai investasi Prancis di Indonesia pada tahun 2015 sebesar US$ 131,57 juta untuk 197 proyek, sedangkan total investasi Prancis memasuki kwartal kedua tahun 2016 tercatat sebesar US$ 20,62 juta untuk 123 project berada di urutan ke-25 bila dibandingkan PMA lainnya dan berada di urutan ke-7 bila dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya.

Sementara nilai total perdagangan Indonesia dengan Prancis pada periode Januari-Agustus  2016 mencapai €2,6 milyar, meningkat 35,92% bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Neraca perdagangan Prancis-Indonesia menunjukkan angka defisit bagi Indonesia sebesar €-1,264 juta, dimana ekspor mencapai  €674 juta dan impor senilai €1.9 milyar.

Di bidang counter-terrorism, Indonesia-Prancis juga sepakat untuk lebih meningkatkan kerja sama, mengingat semua negara menghadapai ancaman yang sama. Kedua negara memiliki komitmen yang tinggi untuk meningkatkan kerja sama dalam countering terrorism.

Dalam kerangka internasional, Prancis-Indonesia memiliki posisi yang sama mengenai masalah konflik Israel dan Palestina.  Pada tahun 2015 Indonesia menjadi tuan rumah dari Special Summit untuk masalah Palestina di dalam konteks Organisasi Kerja sama Islam (OKI), sementara Prancis juga menjadi tuan rumah Paris Peace Conference, dimana Indonesia aktif berpartisipasi dari Paris Conference yang sudah dilakukan dua kali. Kedua negara juga memiliki pandangan yang sama mengenai pentingnya two-state solution.