PERTUNJUKAN WAYANG KULIT DAN TARI INDONESIA KBRI PARAMARIBO, TANGGAL 23 MARET 2013

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

?

Pada tanggal 23 Maret 2013,6 jam 19.00 sd 24.15, KBRI Paramaribo kembali melakukan Soft Diplomacy dalam bentuk Pertunjukan Budaya di Aula Pancasila dan halaman KBRI Paramaribo. Hadir dalam pertunjukan tersebut lebih 350 orang, antara lain Menteri Dalam Negeri, Menteri Pemuda dan Olah Raga, Ketua Partai Kerukunan Tulodo Pranoto Inggil, Ketua Partai Pertjajah Luhur, para anggota Parlemen, Direktur Kultur, para    ketua dan pengurus  kelompok budaya, para ketua dan pengurus masjid, para ketua dan pengurus gereja, direktur dan pengurus media TV dan surat kabar, dua mantan Dubes Suriname di Indonesia, tokoh masyarakat Suriname keturunan Jawa, pengurus Ikatan Alumni Indonesia-Suriname; Warga Negara Indonesia di Paramaribo dana sekitarnya, serta friends of Indonesia.

 

            Dalam sambutannya, Duta Besar RI menyampaikan bahwa pertunjukan wayang kulit dikombinasikan dengan tari Indonesia bertujuan untuk memelihara budaya Indonesia di Suriname, dan diharapkan dapat memberikan motivasi kepada masyarakat keturunan Jawa/Indonesia di Suriname untuk memelihara budaya nenek moyangya dari Indonesia.   Disampaikan juga bahwa pertunjukan dan kerjasama budaya sangat efektif dalam meningkatkan kerjasama bilateral antara Indonesia dengan Suriname.  

 

            Duta Besar juga menjelaskan bahwa wayang adalah budaya asli Indonesia khususnya Jawa, dan telah ada ratusan tahun sebelum Agama Islam  masuk ke Jawa. Berdasarkan sejarah Indonesia, kebudayaan wayang telah ada sejak raja Airlangga dari kerajaan Kahuripan tahun 976-1012. Wayang kulit tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan Budaya Jawa.  Dalam periode penyebaran Islam di Jawa mulai tahun 1500 an, Wali Songo menggunakan wayang kulit sebagai sarana menyebarkan agama Islam. Sunan Kalijogo merupakan wali yang ahli memanfaatkan wayang kulit sebagai sarana penyebaran agama Islam di Jawa.

 

            Wayang kulit merupakan salah bentuk budaya penting di Indonesia. Selain sebagai entertainment, wayang kulit juga merupakan salah satu media, pengembangan  philosophi hidup dan sebagai sarana pendidikan. Wayang kulit masih favorit bagi orang tua dan anak-anak di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Timur.

 

            Duta Besar berpesan untuk memelihara wayang kulit yang merupakan salah satu wujud budaya Jawa. Pertunjukan wayang kulit dapat menjadi sarana untuk menjalin dan meningkatkan silaturahmi dengan sahabat dan relasi yang mungkin lama tidak bertemu. Pertunjukan wayang kulit juga dimaksudkan untuk meningkatkan hubungan kebudayaan antara Indonesia dengan Suriname. Juga disampaikan bahwa bagi yang berminat untuk  belajar seni wayang kulit, silahkan ke Indonesia, khususnya ke Surakarta dan Yogyakarta, dua kota yang masih memiliki sekolah pedalangan.

 

            Pertunjukan budaya kali ini dimulai dengan Tari Gambyong dan Tari Gatotkaca Gandrung sebagai tari pembukaan. Selanjutnya untuk menarik minat kaum muda atas budaya leluhurnya,  maka pertunjukan wayang kulit  dikombinasikan dengan Nyanyi dan Tari Indonesia. Nyanyi dan Tari Indonesia ditampilkan di pertengahan pertunjukan wayang  yaitu  setelah  goro-goro. Tari  yang  disajikan  adalah  Tari Yapong,  Trip to Bali, dan Nandak. Dalam selingan dengan nyanyi terjadi interaktif antara penyanyi dengan ki dalang yang sedang menampilkan punokawan (Gareng, Petruk dan Bagong). Dengan demikian menambah semarak pertunjukan dan banyak menarik perhatian penonton.

  

            Cerita yang dibawakan oleh ki dalang adalah “Gatotkaca ngupadi layang kabudayan” atau Gatotkaca mencari surat kebudayaan. Dalam pertunjukan budaya kali ini, KBRI Paramaribo didukung oleh dalang Sapto Sopawiro, 14 orang Niyogo dari kelompok budaya  Krido Suworo, pimpinan Sdr. Loso Tirtawi;  dan 30 penari murid sanggar tari KBRI Paramaribo, serta dua pegawai setempat KBRI Paramaribo sebagai penyanyi.

 

            Pertunjukan Wayang kulit mendapatkan sambutan sangat baik dari masyarakat Suriname keturunan Indonesia. Namun demikian saat ini Suriname tinggal memiliki satu-satunya dalang yang sudah berumur 72 tahun. Untuk memperdalam ilmu pedalangan dan seni Mocopat, Sapto Sopawiro akan berkunjung ke Yogyakarta tanggal 21 April 2013 untuk kurang lebih 1 bulan.  Berkaitan dengan hal tersebut, masyarakat Suriname sangat mengharapkan pengiriman pelatih dalang dari Indonesia, untuk mendidik dan melatih calon dalang di Suriname.

 

            Pertunjukan budaya ini juga mendapatkan sambutan positif dari kalangan media cetak dan elektronik. TV Mustika melakukan peliputan lengkap. TV Garuda meliput dan  melakukan wawancara dengan  Duta Besar RI untuk keperluan tayangan budaya. Selain itu media cetak De Ware Tijd juga meliput acara tersebut.  Diharapkan melalui liputan media yang tayangan dan publikasinya menjangkau masyarakat yang lebih luas di Suriname, dapat memberikan dampak positif bagi citra Indonesia.  (Sumber : kbri-paramaribo)