“The Land of Diversity: Indonesia Night 2009” di Yale University

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Rasa cinta tanah air tidak akan pernah pupus walaupun berada jauh di rantau. Keanekeragaman etnis, bahasa dan budaya justru menjadi perekat yang mempersatukan. Hal ini tercermin pada Malam Indonesia (Indonesian Night 2009) bertajuk “The Land of Diversity” yang diselenggarakan oleh KJRI New York bekerja sama dengan Council of Southeast Asia Studies, Yale University di Luce Hall, Yale University, pada hari Sabtu, 7 November 2009 (Minggu pagi WIB). Acara yang turut diorganisir oleh Komunitas Masyarakat Indonesia di Connecticut ini dihadiri lebih dari 150 orang yang tidak hanya terdiri dari warga Indonesia yang tinggal di Connecticut, namun juga warga AS setempat pecinta budaya Indonesia.

 

Acara dimulai tepat pada pukul 6.30 sore, didahului dengan santap malam dengan sajian khas Indonesia dan ramah tamah antar peserta dan panitia di lantai dua Luce Hall. Acara dibuka dengan sambutan dari Profesor Joseph J. Errington selaku Kepala Yale Council for Southeast Asian Studies. Dalam bahasa Indonesia yang fasih, Profesor yang akrab disapa dengan sebutan Pak Joe mengatakan bahwa terselenggaranya acara Indonesian Night yang kedua ini merupakan buah pikiran dan hasil kerja keras para panitia pelaksana dan karenanya ia menyampaikan penghargaan yang dalam atas terlaksananya acara tersebut. Profesor Errington juga menghimbau agar keakraban yang tercipta diantara warga Indonesia dan AS yang berkumpul dalam acara tersebut senantiasa dijaga, sebagaimana ungkapan Jawa “mangan ora mangan asal kumpul.”


Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Sdr. Indriyo Sukmono selaku ketua panitia Indonesian Night 2009. Dalam kesempatan tersebut, Indriyo yang juga merupakan salah satu staf pengajar dan anggota Council for Southeast Asian Studies, Yale University, menyampaikan bahwasanya terwujudnya acara tersebut merupakan wujud antusiasme warga Indonesia dan AS terhadap budaya Indonesia. Sehubungan dengan itu, ia mengharapkan agar para anggota masyarakat setempat, pihak Yale University, dan KJRI New York dapat terus memberikan dukungan dan partisipasi aktifnya dalam terselenggaranya kegiatan-kegiatan serupa di masa mendatang, agar budaya Indonesia dan persaudaraan diantara warga Indonesia dan AS agar senantiasa lestari.


Konjen RI Trie Edi Mulyani dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya atas terselenggaranya acara tersebut. Konjen RI menganggap bahwa Connecticut yang mendapat predikat small but beautiful memiliki kesamaan dengan Indonesia, dimana terdapat beraneka ragam etnis, kebudayaan, dan kepercayaan namun satu dalam kesatuan. Konjen RI juga menambahkan bahwa komunitas Indonesia yang semakin bertambah dan beragam di sekitar New Haven kini tak ubahnya seperti ungkapan “big fish in a small pond”. Karena itu cakupan dari kegiatan promosi Indonesia yang diprakarsai oleh berbagai kelompok masyarakat kiranya dapat diperluas ke seluruh wilayah Connecticut. Di akhir sambutannya Konjen RI menghimbau para penyelenggara dan peserta untuk terus meneruskan kegiatan yang baik ini sebagai sebuah tradisi yang kiranya mampu memelihara sense of belonging dan persaudaraan diantara masyarakat Indonesia dan AS.


Acara kemudian dilanjutkan dengan pergelaran seni yang dipentaskan baik oleh putra-putri Indonesia dan mahasiswa-mahasiswi internasional. Ragam kesenian berbagai daerah yang dipertunjukkan diantaranya adalah Tari Gebyar-gebyar, Tari Margapati, Tari Tani, Tari Sakura, Tari Saman, dan Tari Jaipongan. Satu hal yang menarik dari pergelaran seni ini adalah suksesnya perpaduan elemen budaya tradisional Indonesia dan modern. Selain itu, partisipasi mahasiswa-mahasiwi internasional dalam membawakan kesenian Indonesia menunjukkan tingginya apresiasi masyarakat internasional terhadap budaya Indonesia.


Sebagai bentuk kepedulian komunitas internasional yang berada di Connecticut terhadap Indonesia, pada malam tersebut diselenggarakan pula upaya penggalangan dana untuk korban gempa Sumatra Barat yang digagas oleh mahasiswa Yale University bekerja sama dengan berbagai pihak seperti Universitas Andalas, Mercy Corps, dan International Silat Federation of America (ISFA). Hal ini diharapkan dapat turut meringankan para korban gempa dan membantu proses rekonstruksi dan rehabilitasi Sumatra Barat.


Sebagaimana pelaksanaan Indonesian Night 2008 di Wesleyan University, acara kali ini berjalan baik serta mendapatkan respon yang hangat dan positif dari berbagai pihak.