“Role of Religions in Building Cooperation among People”: Dialog Enam Agama di Kota New York

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar terus meningkatkan perannya untuk menjadi  “bridge builder” antara Islam dan Barat. Demikian dikatakan Konsul Jenderal RI di New York, Trie Edi Mulyani, saat membuka Interfaith Discussion enam agama bertema “Role of Religions in Building Cooperation among People” di R. Pancasila KJRI New York, Selasa sore (27/4) waktu setempat.

Acara ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mendekatkan people to people contact antara Indonesia dan masyarakat setempat. Peserta yang hadir tampak antusias dan banyak yang menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan acara diskusi yang dipandang semakin penting dan relevan dalam kehidupan bermasyarakat di era global.

Dikatakan Konjen RI, di era global ini dimana setiap orang “interconnected”, kerjasama antar umat beragama dalam menyelesaikan tantangan-tantangan global merupakan keharusan.  Sehingga diharapkan masing-masing pemimpin agama dapat menggali dan memberdayakan umatnya untuk turut menyelesaikan isu-isu global.

Enam pimpinan agama berbicara dalam seminar yang dihadiri sekitar 75 orang peserta dari berbagai kalangan, antara lain corps diplomatic, LSM, media dan wakil-wakil masyarakat Indonesia dari mesjid dan gereja-gereja Indonesia di New York. Mewakili umat Islam Katherine Vizcaino, umat Kristiani Rev. N.J. L’Hereux, Jr., umat Kong Hu Cu Rev. John Kung, umat Hindu Swami Parameshananda, dan umat Buddha Venerable Kondanna.  Hadir sebagai pembicara tamu Rabbi Michael Weiser mewakili umat Yahudi. Bertindak sebagai moderator, Imam Syamsi Ali dari Mesjid Al-Hikmah milik umat Islam Indonesia di New York.

Moderator Imam Syamsi membuka diskusi dengan menyatakan bahwa agama selalu memainkan peran penting semenjak awal keberadaan manusia, namun sayangnya dalam perkembangan peradaban manusia, agama kerap dipandang secara ambivalen. Oleh karena itu, fungsi dan maksud dari interfaith discussion salah satunya adalah untuk membawa agama kembali ke jalur yang benar.

Pertemuan interfaith yang digagas oleh KJRI New York bersama Indonesian Muslim Community ini merupakan pertemuan ketigakalinya sejak penyelenggaraan tahun 2008 dan 2009. Berbeda dengan tahun-tahun lalu dimana para pembicara memaparkan agamanya masing-masing, pada acara kali ini moderator yang meluncurkan pertanyaan-pertanyaan spesifik dan mendetail untuk ditanggapi langsung para pembicara.

Terlihat antusiasme yang tinggi dari audiens dengan banyaknya pertanyaan yang bertubi-tubi dilontarkan. Pertanyaan yang dilontarkan pun sangat beragam, seperti masalah seringnya agama dijadikan pembenaran untuk kepentingan kelompok, citra yang buruk dari agama-agama tertentu, konflik di Timur Tengah, hingga peran penting teknologi informasi dalam menjembatani kurangnya pengenalan terhadap agama lainnya.

Dalam penutupnya, Imam Syamsi Ali mengatakan dalam setiap acara-acara interfaith selalu disampaikan hal gambaran yang indah-indah.  Namun untuk mencapai hal itu diakui ada beberapa permasalahan, antara lain cara umat menginterpretasikan kitab suci agamanya sering hanya untuk kepentingan tertentu, umat lebih banyak mengingat dan memfokuskan perhatian pada interaksi antar agama di masa yang kelam, adanya permasalahan di lapangan seperti masalah di Timur Tengah, dan media massa yang sering tidak imbang dengan lebih sering memberitakan pertikaian dan kekerasan antar umat beragama. Kesemua itu telah menimbulkan “distrust” antara masyarakat berbeda agama.

Di kota New York, yang terdiri dari berbagai macam bangsa dalam sebuah komunitas yang ragam, maka kesempatan dan keadaan untuk saling berinteraksi pun akan semakin banyak. Salah satu peran penting dari pimpinan agama dimasa kini adalah untuk mendorong dan mengarahkan komunitasnya untuk berinteraksi dengan komunitas lainnya sehingga terbina hubungan dan kerjasama yang harmonis. (sumber: KJRI NY)