Kepala BKPM Paparkan Potensi Investasi di Bidang Pangan, Energi dan Infrastruktur Indonesia kepada Kalangan Pebisnis AS

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wiryawan atas fasilitasi KJRI New York telah melangsungkan dua pertemuan dan diskusi simultan di kota New York, pada akhir pekan lalu, masing-masing dengan President of Asia Society dan dengan beberapa pebisnis AS di forum Business Council for International Understanding (BCIU) New York. Acara tersebut adalah bagian dari rangkaian kunjungan Kepala BKPM ke AS yang dilangsungkan dalam rangka meningkatkan citra positif Indonesia melalui sharing of views and information antara Pemerintah Indonesia dan pengusaha AS.

 

Pertemuan di Asia Society selain dihadiri oleh Presiden Asia Society Vishakha Desai dan Executive Board-nya, tampak hadir juga Ketua American-Indonesian Chamber of Commerce Wayne Forrest, dan beberapa wakil dari swasta. Sementara, pada acara pertemuan dengan BCIU, hadir wakil dari Chartis, J.RayMcDermott, Trans Pacific Partners, Morgan Mayfair Global Advisors, Deloitte, Financial Services Volunteer Corps.  

 

Pada kedua kesempatan tersebut Kepala BKPM secara umum menyampaikan perubahan-perubahan positif di Indonesia, khususnya setelah Indonesia mampu memperbaiki diri dan mengambil pelajaran dari krisis yang terjadi di masa lampau. Indonesia kini telah menjadi negara demokrasi yang tengah bergerak menuju modernisasi. Proses politik pun menunjukan bahwa Indonesia cukup kuat, dan mampu bertahan dalam dinamika demokrasi.

 

Sebagai sektor yang potensial untuk berinvestasi, Kepala BKPM menyebutkan 3 sektor utama, yaitu energi (baik energi terbarukan maupun konvensional), pangan, serta infrastruktur. Saat ini produksi pangan Indonesia telah mencapai tingkat produktifitas marjinal. Namun dengan adanya investasi maka produksi gula, beras dan kelapa sawit akan dapat ditingkatkan. Apabila dibandingkan investasi energi dan infrastruktur, investasi di sektor pangan memerlukan modal yang relatif lebih sedikit. Untuk infrastruktur, Kepala BKPM memberikan gambaran mengenai peningkatan jumlah jalan di China yang pada akhirnya mendukung kenaikan GDP secara pesat. Saat ini jumlah km jalan di China telah melebihi Kanada, dan dalam waktu dekat akan melampaui Amerika Serikat.

 

Disampaikan pula bahwa saat ini situasi dan kondisi fiskal dan moneter Indonesia cukup stabil, sebagai hasil dari berbagai kebijakan yang diambil secara hati-hat (prudent). Rasio hutang juga telah sangat menurun hingga 28-29% terhadap GDP. Alokasi anggaran pemerintah kini dipusatkan pada pembangunan infrastruktur dan pendidikan, yang kini mencapai 20% anggaran. Pemerintah Indonesia kina semakin memperhatikan pendidikan, dan diharapkan hal ini akan meningkatkan soft power Indonesia di masa mendatang. Mengingat selain dari cadangan sumber daya alam yang melimpah, keunggulan lain yang dimiliki Indonesia adalah jumlah tenaga kerja produktif yang mencapai 60% seluruh populasi.        

 

Pada sesi tanya jawab, Kepala BKPM menyatakan bahwa upaya promosi citra kini menjadi fokus utama Indonesia. Citra Indonesia sebagai negara yang marak dengan korupsi, inefisiensi dan bencana alam, harus dapat ditanggalkan. Peningkatan kepastian hukum dan perbaikan pada sistem judisial disadari tidak dapat dilakukan dalam sekejap. Namun demikian, Indonesia memiliki kemauan yang kuat untuk terus memperbaiki keadaan dengan mendorong upaya pembersihan.

 

Pencitraan negatif mengenai Indonesia tidak dapat dikatakan terjadi dari sudut pandang semua negara, mengingat masih banyak negara-negara yang loyal dalam berinvestasi di Indonesia. Para investor ”setia” yang tidak akan bergeming terhadap citra Indonesia adalah negara-negara yang dapat dikelompokkan dalam ASEAN+ seperti halnya Singapura, Malaysia, Jepang dan Korea. Negara-negara tersebut telah memiliki pemahaman mengenai budaya berbisnis di Indonesia, mengingat masih memiliki kesamaan kultur. Pada lapisan kedua, terdapat China dan negara yang kaya akan sumber daya alam, seperti negara-negara Timur Tengah. Sementara pada lapisan terakhir, terdapat AS, Uni Eropa dan negara-negara maju lainnya, yang sangat menggarisbawahi pentingnya kepatuhan terhadap kontrak, dan tersedianya medio penyelesaian pelanggaran kontrak.

 

Sebagai bagian dari strategi perubahan citra tersebut, BKPM kini lebih berupaya menjalin komunikasi secara langsung. Apabila dimasa lalu promosi investasi lebih banyak dilakukan melalui pagelaran budaya dan jamuan makan kepada khalayak luas, maka kini perubahan citra akan dilangsungkan melalui dialog dan diskusi terbatas dengan pihak-pihak yang memang memiliki andil dalam pencitraan Indonesia dalam 5-10 tahun mendatang. Target utamanya adalah untuk meningkatkan peringkat Indonesia menjadi 40 besar tujuan investasi dan ”doing business”, dari peringkat 122. Ditenggarai, salah satu penyebab buruknya peringkat Indonesia adalah kurangnya komunikasi mengenai kemajuan-kemajuan peraturan dan pelaksanaan fasilitasi investasi di Indonesia.

 

Program promosi citra Indonesia merupakan fokus utama berbagai berbagai perwakilan RI di AS. Salah satu hal yang akan ditindaklanjuti oleh KJRI New York, adalah usulan untuk melangsungkan suatu program promosi Indonesia secara terpadu di berbagai kota di AS. Kegiatan terpadu tersebut, selain untuk peningkatan citra juga dapat digunakan sebagai sarana untuk menggali input langsung dari para pengusaha mengenai sejumlah concern mereka atas kebijakan Pemerintah di Indonesia. (Sumber KJRI NY)