India

Ekonomi India saat ini sedang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dan tengah mengalami saat terbaik dalam sejarahnya. Hampir semua indikator perekonomian makronya mengalami pertumbuhan positif yang pesat dengan angka pertumbuhan yang cukup tinggi (bahkan pernah mencapai angka 9,6 persen pada tahun fiskal 2006-2007), semakin besarnya simpanan devisa, pasar kapital yang mengalami booming, dan semakin derasnya arus masuk Foreign Direct Investment. India saat ini telah muncul sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi terpesat kedua di dunia yang hanya bisa disaingi oleh China.
Ditengah badai krisis ekonomi 2008-2009 India merupakan salah satu dari sedikit negara yang berhasil bertahan menghadapi krisis dan mempertahankan tingkat pertumbuhan di atas 6 persen.

Beberapa hal juga dapat dipaparkan di sini untuk memberikan sedikit gambaran kemajuan ekonomi India, antara lain:
  • pertumbuhan rata-rata yang mencapai 8 sampai 9 persen per tahun (rata-rata pertumbuhan tahun fiskal 2006-2007 mencapai 9,6 persen dan 2008-2009 mencapai sedikit di atas 6 persen akibat krisis)
  • Cadangan devisa India mencapai US$ 311,79 milyar pada akhir Juni 2008
  • Meningkatnya arus masuk Foreign Direct Investment (FDI) dimana target tahun 2008 – 2009 adalah US$ 35 milyar
  • Saat ini India adalah sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat kedua di dunia setelah China
  • Menurut studi oleh McKinsey Global Institute (MGI) pasar India diperkirakan akan menjadi ke lima terbesar di dunia tahun 2025 (saat ini India menduduki peringkat ke 12)
  • India adalah satu dari lima negara yang menguasai 50 persen angka produksi dunia (GDP)
  • Indian National Stock Exchange atau NSE) mendapatkan peringkat pertama pada stock futures dan peringkat kedua pada Index futures dunia.
  • Pendapatan per-kapita India meningkat dari sekitar US$460 pada tahun 2001 menjadi US$ 797 pada akhir tahun fiskal 2007 (catatan : penduduk India saat ini telah menembus angka 1,2 milyar).
  • Arus masuk FDI telah meningkat 185% dari US$5,5 milyar (2006) menjadi US$ 15,7 milyar (2007), target untuk tahun 2008 – 2009 adalah US$ 35 milyar
  • India termasuk Rangking 41 dalam Industrial Competitiveness (sumber UNIDO)
  • Empat pengusaha India termasuk dalam 10 besar orang terkaya di dunia versi Majalah Forbes.

Jumlah penduduk India yang telah mencapai hampir 1,2 milyar merupakan negara dengan penduduk terbesar kedua di dunia setelah China. Menurut survei CSO (Central Statistic Office India) terakhir populasi kelas menengah India telah mencapai lebih dari 300 juta jiwa dengan populasi usia muda mencapai 75 persen. Hal ini merupakan pasar yang sangat besar bagi pengusaha yang berniat melebarkan usahanya di India

Hal ini dapat diterjemahkan menjadi pasar yang sangat besar untuk produk-produk yang masuk ke sana. Komposisi median usia penduduk India pada tahun 2000 adalah 21 tahun dan diperkirakan menjadi 26 tahun pada 2025. Hal ini menunjukkan bahwa India adalah negara dengan populasi muda sangat besar yang menjadi motor bagi pembangunan India selanjutnya. Selain itu, populasi kelas menengah India yang mencapai lebih dari 300 juta orang, dengan pola konsumsi yang semakin meningkat, juga merupakan pasar yang sangat menjanjikan bagi negara-negara yang memasuki pasar India.

Pertumbuhan ekonomi India yang begitu pesat dan semakin meningkatnya pendapatan per kapita penduduknya menyebabkan munculnya kelas menengah baru yang diperkirakan mencapai angka di atas 300 juta penduduk. Hal ini diikuti dengan pola konsumsi masyarakat India yang meningkat pula. Hal ini tentu saja menjadi peluang potensi pasar yang sangat besar bagi produk-produk Indonesia.
Pengusaha ekspor Indonesia selama ini masih terpaku pada pasar-pasar tradisionalnya seperti China, Jepang dan Eropa namun terlihat masih kurang memperhatikan pasar besar di tetangganya yaitu India. Saat ini pemain-pemain besar dunia sudah melirik pasar India yang sangat massif ini. Merupakan sebuah kerugian bila para pengusaha Indonesia tidak dapat memanfaatkan peluang ini. Apalagi sebenarnya India dan Indonesia sudah mempunyai modal dasar berupa kedekatan budaya yang sangat erat hasil interaksi selama berabad-abad.

Para pemasar Industri pariwisata misalnya seharusnya dapat lebih mudah menarik pasar India dengan mempromosikan produk-produk budaya dan wisata sejarah dengan mengetengahkan budaya-budaya Indonesia yang mendapat pengaruh dari India, seperti candi-candi dan sendratari. Hal ini dapat membuka ketertarikan calon wisatawan asal India yang ingin mengeksplor lebih jauh lagi pengaruh kebudayaan mereka pada masyarakat Indonesia. Sebagai informasi sekitar sembilan juta wisatawan India bepergian ke luar negeri setiap tahunnya dimana Indonesia hanya memperoleh kurang dari 30.000 wisatawan.

Berbagai usaha sudah dilakukan pemerintah untuk mengembangkan lebih jauh lagi Hubungan kerjasama ekonomi Indonesia – India. Hubungan tersebut memasuki babak baru ditandai setelah pada bulan November 2005 Presiden RI, Soesilo Bambang Yudhoyono mengadakan kunjungan kenegaraan ke India dan menandatangani Kesepakatan “New Strategic Partnership” serta menyaksikan penandatanganan tiga MoU kerjasama bilateral termasuk pembentukan Joint Study Group untuk sebuah Comprehensive Economic Cooperation Agreement (CECA) atau FTA antara Indonesia – India.

Beberapa pengusaha Indonesia telah pula mulai memasuki pasar India dan memanfaatkan peluang ini. Beberapa Pengusaha besar Indonesia yang dapat disebutkan antara lain grup Salim dan grup Ciputra yang saat ini sedang berkecimpung di bidang infrastruktur membangun sebuah kota industri baru lengkap dengan pabrik kimia dan pelabuhan laut dalamnya di Negara Bagian West-Bengal, PT. Adhi Karya yang sedang mengerjakan proyek infrastruktur jalan raya dan jalan kereta api di Negara Bagian Orissa, juga PT. Bukaka Teknik Utama yang baru saja mendapatkan deal untuk menyuplai empat puluh unit Jembatan Belalai Gajah (Passenger Boarding Bridge) untuk 40 airport di seluruh India.

Perkembangan ekonomi dan peluang-peluang pasar di India dapat menjadi alternatif para pengusaha Indonesia yang ingin mengembangkan pasarnya daripada hanya terpaku pada pasar-pasar tradisional yang sudah mulai sesak dengan pesaing-pesaing. Sejauh ini minat pengusaha Indonesia juga dirasakan masih belum cukup dalam menggarap potensi pasar India, meskipun banyak pengusaha India yang sangat berminat berinvestasi di Indonesia. Perwakilan telah memikirkan dibentuknya sebuah promotion center yang berfungsi sebagai pusat promosi Indonesia di India.
Sebagai sebuah pasar yang besar dan dinamis India belum banyak tergarap oleh pengusaha-pengusaha Indonesia meskipun sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan. Sebagai contoh, barang-barang hasil kerajinan Indonesia seharusnya dapat melakukan penetrasi pasar lebih jauh daripada yang ada sekarang. Meskipun India juga dikenal dengan kerajinannya, namun barang-barang kerajinan Indonesia dapat menjadi komplementer daripada subsitusi. Barang-barang kerajinan Indonesia dikenal mempunyai mutu yang lebih baik daripada barang-barang kerajinan India. Selain itu saat ini India sedang gencar membangun infrastrukturnya. Banyak pengembang Indonesia yang dikenal cukup kompeten untuk proyek pembangunan infrastruktur yang dapat masuk ke India.

Perekonomian India saat ini sudah jauh lebih terbuka dibandingkan sepuluh tahun yang lalu dengan indikasi kontribusi perdagangan Internasional terhadap GDP India mencapai 25 persen pada tahun 2007. Untuk bidang investasi, di India seluruh bidang usaha kecuali lima bidang (alkohol, tembakau, bahan peledak, produk pertahanan dan bahan kimia berbahaya) telah terbuka 100 persen untuk investasi yang berarti calon investor yang datang ke India tidak akan direpotkan masalah perizinan dan akan diperlakukan sama dengan perusahaan lokal India.
Negara-negara lain termasuk negara-negara tetangga Indonesia telah menyadari potensi India yang begitu besar dan telah mengambil langkah-langkah agresif dalam memasuki pasar India. Indonesia dalam hal ini masih dibelakang negara-negara tersebut. Sebagai contoh, Malaysia telah membentuk tourism board di India, yang berhasil menjadikan Malaysia menjadi salah satu tujuan utama turis-turis India saat ini.

Potensi pasar dan Investasi India yang sangat besar telah diakui dunia dan berbagai negara berlomba-lomba untuk memasuki pasar yang sangat menggiurkan ini. Berbagai kalangan terkait di Indonesia seharusnya juga menyadari hal tersebut dan masuk ke pasar India. Produk-produk yang berasal dari Indonesia dikenal mempunyai kualitas yang cukup baik bahkan tidak kalah dibanding dengan produk-produk lokal maupun produk-produk asing lain yang masuk ke India. Hal ini harus selalu dimanfaatkan dan dikembangkan.

Pemerintah telah mengambil langkah awal dengan menandatangani pernyataan new strategic partnership Indonesia-India yang ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Manmohan Singh tanggal 23 November 2005 di New Delhi,  dengan demikian pada tataran pemerintahan kedua negara telah mempunyai komitment kuat untuk meningkatkan hubungan ekonomi dan bilateral lainnya antara kedua negara. Hal ini harus dimanfaatkan oleh para pengusaha dan investor dari Indonesia. Kesempatan untuk itu sudah terbuka tinggal bagaimana kita menggunakannya.

Berbagai perusahaan Indonesia yang telah berhasil berinvestasi maupun melakukan deal bisnis skala besar di India merupakan testimoni mengenai betapa pentingnya negara ini pada saat ini maupun masa mendatang.