RI dan UNEP Luncurkan Blue Carbon: Masa Depan Bumi di Lautan

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Dalam rangka menyelamatkan masa depan bumi dari pemanasan global, Menteri Kelautan dan Perikanan, Dr. Fadel Muhammad dan Direktur Eksekutif Badan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-bangsa (UNEP), Dr. Achim Steiner, menekankan peran penting laut dan pesisir sebagai pengendali perubahan iklim dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan hari ini pada acara konferensi pers 11th SSGC UNEP/GMEF di Bali (25/02).
 
Berpijak pada kemampuan ekosistem laut dan pesisir menjaga keseimbangan penyerapan karbon dan potensi pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK), UNEP bekerjasama dengan Badan Pangan Dunia (FAO) dan Badan Pendidikan dan Pengetahuan (UNESCO) memperkenalkan konsep Karbon Biru (Blue Carbon). Konsep ini membuktikan peran ekosistem laut dan pesisir yang didominasi oleh vegetasi laut seperti hutan mangrove, padang lamun, rawa payau serta rawa masin (salt marshes) dalam mendeposisi karbon. Ekosistem pesisir dan laut diyakini mampu menjadi garda penyeimbang bersama hutan (Green Carbon) untuk mengurangi laju emisi melalui penyerapan karbon.
 
Sebagaimana dimukakan Dr. Steiner, "Kita telah mengetahui ekosistem pesisir dan laut bernilai milyaran dollar dari berbagai aktifitas yang berbasis pada ekosistem tersebut, seperti pariwisata, perhubungan serta perikanan, dan saat inilah ekosistem tersebut merupakan pendukung alami dalam mencegah dampak perubahan iklim.”
 
Dr. Fadel dan Dr. Steiner bersama-sama menegaskan bahwa dasar pernyataan bersama mereka adalah amanat Manado Ocean Declaration (MOD) yang dideklarasikan tahun lalu serta sebagai upaya mengendalikan dampak perubahan iklim. “Kami menghimbau kepada semua negara untuk menjaga kelestarian dan kemampuan ekosistem laut dan pesisir kita sebagai dinamisator iklim global”, ditegaskan oleh menteri Fadel dan direktur Achim.
 
“Langkah ini telah membuka kesempatan untuk melakukan riset lanjutan tentang peran penting laut sebagai pengendali perubahan iklim. Indonesia dengan luasan mangrove, serta padang lamun yang begitu besar, tentunya akan secara signifikan dapat memberikan kontribusi dalam proses penyerapan karbon”, menurut Fadel.
 
“Kita harus segera berbuat karena masa depan bumi dan umat manusia sangat bergantung pada bagaimana kita mengelola laut secara arif dan lestari. Waktu berjalan cepat dan kita dihadapkan pada pilihan yang tidak dapat ditawar lagi. Manusia harus menjaga keseimbangan yang selama ini diperankan oleh laut agar tetap berfungsi dan mampu menyerap karbon dari dampak kegiatan kita”, jelas Fadel. Dr. Steiner menambahkan, "Jika dunia terus dihadapkan dengan perubahan iklim, secara ilmiah semua sumber emisi dan setiap pilihan untuk mengurangi emisi tersebut perlu terus digali dan menjadi perhatian komunitas internasional. termasuk potensi karbon biru yang terkait dengan laut dan pesisir. Kemitraan baru kami ini bertujuan agar dunia internasional semakin memberikan perhatiannya atas isu penting itu ”
 
Isu kelautan merupakan salah satu pilar pokok dalam pertemuan sesi khusus UNEP kesebelas (11th SSGC UNEP/GMEF). Bahkan, secara khusus untuk pertama kalinya UNEP memberikan penghargaan atas kepemimpinan dalam inisiatif kelautan dan pesisir di fora internasional kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin (24/2).
 
Informasi lebih lanjut:
 
Dr. Gellwynn Jusuf, Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan, HP: +62816 768 499 email: gellwynn@gmail.com
 
Soen’an Poernomo Hadi, Kepala Pusat Data, Statistik dan Informasi, HP: +62816 193 3911 email: soenanhp@yahoo.com