Konferensi PBB mengenai Kerjasama Selatan-Selatan Berhasil Adopsi Nairobi Outcome Document

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebagai tindak lanjut resolusi Sidang Majelis Umum PBB nomor 64/1 tanggal 6 Oktober 2009, pada tanggal 1-3 Desember 2009 telah diadakan Konferensi Tingkat Tinggi PBB mengenai Kerjasama Selatan-Selatan (KSS) di Nairobi, Kenya. Konferensi diselenggarakan untuk memperingati 30 tahun Buenos Aires Plan of Action for Promoting and Implementing Technical Cooperation among Developing Countries (TCDC) yang diadopsi pada tahun 1978.
 
Acara pembukaan konferensi dihadiri oleh Perdana Menteri Kenya Raila Odinga, Wakil Sekjen PBB Asha-Rose Migiro, Administrator UNDP Helen Clark, Direktur Jenderal UN Office in Nairobi Achim Steiner, dan pejabat-pejabat tinggi Pemerintah Kenya. Delegasi yang hadir merupakan wakil dari hampir 100 negara serta dari berbagai organisasi internasional dan PBB seperti Uni Afrika, Uni Eropa, Federasi Palang Merah Internasional, FAO, dan ILO.
 
Delegasi Indonesia pada konferensi ini diketuai oleh Dubes RI untuk Nairobi dan beranggotakan unsur dari Deplu, Sekretariat Negara, Bappenas, BKKBN, PTRI NY dan KBRI Nairobi.
 
Setelah melewati 3 hari sesi plenary dan 2 sesi roundtable interaktif, konferensi berhasil mengadopsi Nairobi Outcome Document yang antara lain berisikan pengakuan akan pentingnya KSS dalam mendorong pembangunan di negara berkembang, menyambut baik berbagai inisiatif tingkat nasional dalam memajukan KSS, serta perlunya PBB memainkan peran aktif dan negara maju dalam memberikan dukungan terhadap pelaksanaan KSS.
 
Indonesia sendiri sejak penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955 tetap konsisten untuk mendukung dan berperan aktif dalam KSS. Melalui NAM Center dan New Asia-Africa Strategic Partnership (NAASP), komitmen Indonesia terus berlanjut dengan penyelenggaraan program-program kerjasama dalam isu ketahanan pangan, energi terbaharukan, aquaculture, serta berbagai program peningkatan kapasitas dengan negara berkembang lainnya.