Indonesia Mendorong Pentingnya Pendidikan, Keterampilan Dan

Nairobi, 7 Oktober 2015 – Pada tanggal 7-8 Oktober 2015, Global Counter-Terrorism Forum (GCTF) Detention and Reintegration Working Group (DRWG) telah menyelenggarakan pertemuan di Nairobi, Kenya guna membahas mengenai pelatihan, pendidikan, serta kursus keterampilan yang dapat dilakukan di lembaga pemasyarakatan bagi narapidana tindak terorisme/ekstrimisme. Lembaga Pemasyarakatan, melalui manajemen dan berbagai program yang diterapkan di dalamnya, memiliki peran penting dalam penanggulangan terorisme dengan mencegah terjadinya residivisme bagi mantan narapidana tindak terorisme, dan guna mendukung proses reintegrasi mantan narapidana tersebut ke masyarakat. Dalam konteks ini, mantan narapidana dapat dibekali dengan berbagai macam kemampuan, baik dari sisi pendidikan, keterampilan, pelatihan, sikap dan kepercayaan diri yang akan membantu mereka dalam menjalani sisa hidup setelah menyelesaikan hukuman di penjara.
 
“We apply huge amounts of resources, time and effort to combat terrorism, so when we have a terrorist behind bars, we should not squander the opportunity to try to lead them away from the path of violent extremism and terrorism” ujar Y.M. John Feakes, Komisi Tinggi Australia di Nairobi. “This workshop is about ensuring we get this right, so we can make our communities a little safer.”
 
Andy Rachmianto, Direktur Keamanan Internasional dan Perlucutan Senjata, Kementerian Luar Negeri Republik Indoensia menekankan bahwa program rehabilitasi dan reintegrasi bagi mantan narapidana tindak terorisme adalah “tailored to dissociate inmates from radical beliefs and to prepare their reintegration process to the society after their release.” Andy Rachmianto juga menggarisbawahi kebutuhan untuk “involve relevant stakeholders in rehabilitation and reintegration programmes, not only government agencies, but also community and religious leaders, psychologists, academia, and NGOs.”
 
Principal Secretary, Kementerian Dalam Negeri dan Koordinasi Pemerintahan Nasional Republik Kenya, Josephta Mukobe, menyampaikan bahwa menyusul serangan terorisme di Pusat Perbelanjaan Westgate pada tahun2 014, Presiden Kenya, Uhuru Kenyatta, dalam pidato kenegaraannya menyampaikan bahwa “Terrorism is a global problem that requires global solutions. Kenya will stand with our friends in tackling terrorism and I ask our friends to stand with us”.
 
GCTF merupakan platform multilateral dan informal yang mencakup 30 negara anggota dari berbagai kawasan, termasuk Amerika Serikat, Maroko, Nigeria, Turki dan Indonesia. DRWG, yang diketuai oleh Indonesia dan Australia, merupakan satu dari enam working group yang ada dalam GCTF, yang secara khusus membahas mengenai good practices dan isu tematis yang berkaitan dengan manajemen lembaga pemasyarakatan, serta proses rehabilitasi dan reintegrasi bagi mantan narapidana tidank terorisme dan ekstrimisme. Working group ini juga mendorong dilakukannya kerja sama dan pengembangan kapasitas bagi isu dimaksud di seluruh kawasan di dunia.
 
Pertemuan dimaksud telah dihadiri oleh berbagai praktisi dari berbagai negara di Afrika, termasuk negara anggota GCTF dan pakar internasional. Peserta loka karya sebagian besar merupakan petugas lapas, pakar di bidang rehabilitasi dan reintegrasi mantan narapidana tindak terorisme, pendidik, psikolog, aparat keamanan, akademisi, dan individu lain yang terlibat dalam pengembangan dan implementasi sistem pendidikan, keterampilan, dan pelatihan bagi narapidana tindak terorisme. Pertemuan ini merupakan pertemuan kedua yang diselenggarakan oleh GCTF DRWG, bekerja sama dengan Global Center on Cooperative Security dan Pemerintah Republik Kenya.