Forum Parlemen Asia – Afrika bahas lonjakan penduduk dunia di Nairobi

Nairobi – Ledakan jumlah penduduk merupakan salah satu tantangan yang dihadapi dunia dewasa ini dan masa mendatang. Pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali berpotensi memperlambat pencapaian layanan yang layak di bidang kesehatan dan pendidikan serta ketahanan pangan yang menjadi target agenda pembangunan pasca 2015. Sehingga pada akhirnya dapat mempengaruhi rendahnya kualitas hidup penduduk.
Guna membahas keterkaitan antara isu kependudukan dengan agenda pembangunan pasca 2015, pertemuan forum parlemen Asia dan Afrika untuk kependudukan dilaksanakan di Nairobi pada tanggal 30 September s.d 3 Oktober 2015.
Dalam pertemuan --yang merupakan forum tukar menukar informasi antar anggota parlemen-- tersebut dibicarakan berbagai tantangan dan langkah yang diambil masing-masing negara dalam menangani keterkaitan antara lonjakan populasi penduduk dengan ketersediaan layanan kesehatan.
Ermalena, Wakil Ketua Komisi IX bidang ketenagakerjaan, kependudukan dan kesehatan DPR RI, sebagai salah satu pembicara, menegaskan bahwa kesehatan reproduksi menjadi harus menjadi perhatian karena terkait erat dengan kualitas hidup masyarakat.
Salah satu contoh pendidikan kesehatan reproduksi yang dipaparkan adalah program BKKBN GenRe: Generasi Berencana Saatnya yang muda berencana. Kampanye salam tiga jari GenRe -menghindari seks bebas, Narkoba dan HIV/AIDS- bertujuan agar generasi muda dapat menyiapkan karir, keluarga dan pernikahannya secara berkualitas. Melalui GenRe diharapkan angka pernikahan dini dapat ditekan dan kesehatan keluarga semakin baik.
Pendidikan kesehatan reproduksi sangat penting untuk menekan tingginya angka penderita HIV/AIDS dan kematian ibu melahirkan. “Tantangan terberat bagi Indonesia dalam pelaksanaan tujuan pembangunan millennium (MDGs) adalah masih tingginya jumlah penderita HIV/AIDS dan angka kematian ibu melahirkan” tutur Ermalena.
Anggota DPR RI dari Fraksi PPP periode 2014-2019 tersebut menegaskan bahwa kampanye kesehatan reproduksi di Indonesia mempunyai kekhasan tersendiri dibandingkan di beberapa negara lain. Pendidikan kesehatan reproduksi di Indonesia dibarengi dengan penekanan pencegahan seks bebas. Pendidikan tentang kesehatan reproduksi tidak hanya perlu disampaikan kepada anak-anak perempuan, tetapi juga kepada anak laki-laki.
Ermalena menambahkan bahwa dalam forum tersebut dipaparkan pula tiga fungsi parlemen Indonesia yaitu legislasi, anggaran dan pengawasan.
Disela-sela kunjungan ke fasilitas kesehatan di luar kota Nairobi, anggota DPR dari daerah pemilihan NTB tersebut juga menyampaikan kekaguman atas keberhasilan Kenya dalam menekan angka perokok. Pelarangan merokok di tempat-tempat umum atau fasilitas publik diberlakukan dengan ketat. “Sulit sekali menemukan orang merokok di fasilitas-fasilitas umum di Nairobi seperti rumah sakit, halte dan pusat perbelanjaan” imbuhnya.
Larangan merokok di tempat umum juga didukung oleh penegakan hukum yang cukup konsisten. Aparat berwenang tidak segan-segan menegur atau bahkan memproses sesuai Undang-Undang Kontrol Tembakau (Tobacco Control Act)  yang berlaku mulai Juli 2008. Ancaman bagi perokok yang melanggar -- maksimal sampai tiga tahun penjara dan/atau denda maksimal lima ratus ribu Kenya Shilling, sekitar 50 juta rupiah-- membuat orang berfikir panjang untuk merokok di lokasi fasilitas publik. (4/10/2015)