Sign In

PENYAMBUTAN KRI SULTAN HASANUDDIN–366 (KRI SHN-366) DI SALALAH - OMAN DALAM RANGKA MELAKSANAKAN MISI PERDAMAIAN DI LEBANON

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

?

Pada tanggal 29 Mei 2012, Duta Besar RI Muscat, Fungsi Sosial Budaya dan Atase Pertahanan KBRI Riyadh menyambut kedatangan KRISHN-366 yang singgah di Pelabuhan Salalah, Oman dalam rangka mengemban tugas menuju Lebanon. KRI tersebut akan bergabung dengan Satuan Tugas Maritime Taks Force (MTF) Kontingen Garuda XVIII-D/UNIFIL dan MTF 448 United Nations Interim Force In Lebanon (UNIFIL)Korvet kelas Ship Integrated Geometrical Modularity Approach (SIGMA) tersebut akan bertugas selama enam bulan, menggantikan KRI Sultan Iskandar Muda-367 yang telah selesai melaksanakan tugas misi perdamaian PBB di Lebanon. KRISHN-366 merupakan kapal keempat TNI-AL yang pernah bergabung dengan pasukan internasional di Lebanon. Sebelumnya TNI-AL pernah mengirimkan KRI Sultan Iskandar Muda–367, KRI Frans Kaisepo–368, serta KRI Diponegoro–365.
 
Tugas utama KRISHN-366 adalah pertama melaksanakan Maritime Interdiction Operation (MIO) untuk membantu Angkatan Bersenjata Lebanon dalam mencegah masuknya pasokan senjata dan materiil ilegal lainnya ke Lebanon, sesuai Resolusi PBB Nomor 1701. Kedua, membantu Angkatan Laut Lebanon dalam menegakkan kedaulatan negaranya, mengamankan garis pantai, mencegah penyelundupan senjata melalui perairan ke wilayah Lebanon serta melaksanakan patroli rutin, latihan bersama dan kegiatan lainnya. Sesuai rencana KRISHN-66 akan bertugas di wilayah perairan Lebanon selama enam bulan.
 
Dalam misinya, KRISHN-366 yang dipimpin oleh Letkol Laut (P) Dato Rusman membawa 25 perwira, 44 bintara, dan 24 tamtama, dan 11 personel non ABK.
 
Dalam sambutannya di hadapan para perwira, Duta Besar RI Muscat antara lain berpesan bahwa :
 
-   Kita harus bangga sebagai bangsa yang besar, telah mendapatkan kepercayaan  berkali-kali penugasan penting di bawah misi PBB, hal ini  membuktikan bahwa profesionalitas tentara Indonesia diakui oleh dunia internasional, khususnya PBB.
-   Dalam menjalankan misi perdamaian dunia, Indonesia tidak pernah minta kepada PBB namun PBB-lah yang meminta Indonesia untuk berperan.
-   Kebanggaan yang juga perlu menjadi modal utama dalam bertugas adalah tingkat kemajuan ekonomi Indonesia saat ini, dimana Indonesia tergabung dalam G-20. Sekali lagi Indonesia tidak pernah minta untuk dimasukkan  kedalam kelompok tersebut, namun pihak luarlah yang memandang Indonesia pantas masuk kelompok tersebut berdasarkan perkembangan ekonomi yang telah dicapai Indonesia.
-   Sehubungan dengan hal tersebut hilangkan rasa rendah diri saat bertugas dan berbaur dengan counterparts dan buktikan bahwa Indonesia mampu mengemban tugas maha penting ini.
-   Tugas ini juga memiliki nilai dan dimensi politis serta diplomatis strategis bagi kredibilitas Indonesia di komunitas regional dan Internasional.