Sign In

​Hubungan Bilateral Bidang Politik

Hubungan Diplomatik kedua negara sudah terjalin sejak tahun 1978, pada awalnya dirangkap dari KBRI Iran yang berkedudukan di Tehran, kemudian pada tahun 1983 dialihkan rangkapannya ke KBRI Saudi Arabia pada waktu itu berkedudukan di Jeddah. Adapun kedutaan Oman untuk Indonesia semula dirangkap dari Kedutaan Oman di Pakistan berkedudukan di Islamabad, kemudian tahun 1995 dialihkan ke Malaysia berkedudukan di Kuala Lumpur, untuk kegiatan operasionalnya ditugaskan seorang staf diplomatik di Jakarta  menumpang  di Kedutaan Besar Qatar di Jakarta.

 

Perwakilan RI di Muscat beserta 9 perwaklilan RI yang baru lainnya dibuka berdasarkan Keppres RI No. 58 tahun 2009, diresmikan pendiriannya secara simbolis di Jakarta oleh Menlu RI  tanggal 29 Desember 2010. Pada tanggal 12 Februari 2011 dilakukan Upacara penaikan bendera secara resmi sebagai tanda dimulainya kegiatan operasional KBRI, yang dihadiri juga oleh Menlu Oman H.E. Yousuf Bin Alawi Bin Abdullah dan Sekjen beserta Kepala Protokol Kemlu Oman, Korps Diplomatik, Wakil dari perwakilan Organisasi Internasional dan perwakilan masyarakat Indonesia di Muscat.

 

Hubungan bilateral RI-Oman di bidang politik berjalan sangat baik dan dapat dikatakan tanpa kendala. Pemerintah Kesultanan Oman melihat Indonesia sebagai negara yang memiliki shared values dalam upaya pemeliharaan perdamaian dan ketertiban dunia.  Kedua negara juga saling menghormati prinsip tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing.  Dalam politik luar negeri, Indonesia dan Oman memiliki banyak kesamaan prinsip yaitu menjaga netralitas yang didasari oleh nilai-nilai budaya dan agama.

 

Hubungan bilateral yang berjalan baik ini ditandai oleh adanya saling kunjung antar pejabat tinggi kedua negara, antara lain kunjungan Presiden RI Abdurrahman Wahid (17-18 Juni 2000), Menlu Ali Alatas (20-21 April 1997), Menteri Kehakiman dan Ham Dr. Yusril Ihza Mahendra (21-22 Januari 2002), Menko Kesra Dr. Alwi Syihab (24 Mei 2005), dan Menlu Retno L.P. Marsudi (Januari 2016).  Sementara pejabat tinggi Oman yang berkunjung ke Indonesia antara lain Menteri yang Bertanggungjawab Urusan Luar Negeri Yousuf Bin Alwi bin Abdullah (September 1992, April 2015, Agustus 2016), Menteri Kehakiman Oman (20-25 Juni 2001), Utusan Khusus Sultan, Sayyid Asad bin Tariq Al-Said (22-24 April 2005).

 

Ketua Dewan Negara (Majlis Tinggi Parlemen) Dr. Yahya bin Mahfoudh al Mantheri sebagai Utusan Khusus Sultan telah bertemu dengan Presiden RI pada tanggal 7 Maret 2016 di sela-sela KTT Luar Biasa OKI ke-5 mengenai Palestina dan Al-Quds Al-Sharif, 6-7 Maret 2016. Dalam pertemuan bilateral ini, kedua negara menyatakan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina dan mendorong peranan lebih besar negara Islam dalam proses perdamaian Palestina-Israel.

 

Hubungan baik Indonesia-Oman juga tercermin pada saat memburuknya situasi di Yaman pada tahun 2015, di mana Pemerintah Oman membantu fasilitasi pengungsian WNI dari Yaman ke Indonesia.  Hingga saat ini Pemerintah Oman mengizinkan KBRI Sanaa' untuk beroperasi dari Salalah, Oman.

 

Dalam rangka lebih meningkatkan hubungan bilateral di bidang politik pada tahap yang lebih tinggi, pada tanggal 5 Januari 2016 telah ditandatangani MoU Konsultasi Politik antara Kementerian Luar Negeri Indonesia dengan Pemerintah Oman. Saat ini, kedua pihak tengahmembahas pembentukan Forum Konsultasi Bilateral (FKB) sebagai tindak lanjut MoU tersebut.