Warga Saint Petersburg partisipasi Prosesi Appasiore Waju

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Upacara bagi anak yang menginjak dewasa di Sulawesi Selatan diikuti oleh warga St. Petersburg. Mereka ikut memasangkan baju bodo pada seorang gadis, menebar beras diiringi mantra-mantra magis dan suara gendang bertalu-talu.

Prosesi yang dikenal dengan nama Appasiori Waju itu digelar di Rayon Petogradski, St. Petersburg, kota ujung barat utara Rusia, 30 Oktober 2010. Dengan cuaca memasuki musim dingin pada kisaran 2 derajat Celcius, sekitar 500 pasang mata tanpa berkedip mengikuti upacara yang digelar oleh Tim Seni Sulsel yang kebetulan sedang muhibah ke negeri beruang putih.

Sebanyak 5 warga Petersburg secara bergantian jongkok anggun sambil memasangkan baju bodo warna warni, menabur beras dan aneka rempah-rempah, lalu memberikan restu kepada gadis SMA asal Makasar, Andi Nurfaca Batari. Sementara tujuh gendang ditabuh dengan irama meliuk-liuk ditingkahi rangkaian lafal-lafal majik. Kontan saja, mereka yang hadir di ruang pertunjukan di tengah kota yang sangat terkenal itu menjadi terdiam membisu. “Unik, eksotik dan magis,” kata seorang peserta.

Upacara Appasiori Waju merupakan sebuah prosesi menuju kedewasaan bagi seorang anak perempuan Bugis. Tujuh baju warna warni yang dikenakan menyimbolkan warna-warni kehidupan yang mungkin akan dihadapi. Beras dan berbagai rempah-rempah adalah simbol kesuburan dan makanan yang harus dicari. Sedangkan suara Ana Bacing (semacam bel) yang menyentak merupakan tantangan hidup yang harus dihadapi. “Gadis itu nantinya diharapkan memiliki ketahanan dan kemampuan menghadapi kehidupan seberat apapun,” ujar Dubes Hamid Awaludin, Dubes RI untuk Rusia yang berasal dari Pare-Pare.

Untuk melengkapi upacara tersebut, maka sebuah tari garapan Aries S. Manya yang dinamakan Tongkonan dipanggungkan. Enam penari dengan kostum warna emas plus topi khas menjulang ke atas (layar perahu) membentuk anak tangga bersama dua laki-laki yang berpakaian warna biru. Gerakan yang didominasi telapak tangan itu seolah ingin menerangkan sebuah kerjasama dan gotongroyong dalam membangun rumah.

Upacara Appasiori Waju dan tari Tongkonan merupakan bagian utama dari pagelaran tari asal Sulawesi Selatan di kota ujung dunia bagian utara tersebut. Perhelatan kali ini merupakan atraksi penutup dari serangkaian pertunjukan tunggal di 4 kota (Vladimir, Kazan, Moskow dan St. Petersburg) dalam rangka peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Rusia.

Meskipun lebih bernuansa kedaerahan, namun penampilan budaya Sulsel mampu bersaing dengan atraksi budaya lain yang memang lagi marak di Rusia. Itu terbukti dari hadirnya penonton yang memadati gedung serta apresiasi yang mereka berikan dari satu kota ke kota lainnya.(as)