Rountable Discussion on “Islam: Tolerance, Peace and Anti Violence”: INISIATIF INDONESIA MENDAPAT PUJIAN

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Perhelatan roundtable discussion dengan tema “Islam: Tolerance, Peace and Anti Violence” sore di awal musim semi ini (5/04), dianggap sebagai sebuah pertemuan yang tepat dan bermanfaat. Inisiatif Dubes Hamid Awaludin tersebut mendapatkan pujian banyak duta besar termasuk Mufti Besar Rusia, Syeikh Ravil Gaynutdin. Karenanya, Indonesia akan terus dimintai bantuan untuk kegiatan serupa di masa-masa mendatang.
 
Menurut sang inisiator, pertemuan ini merupakan sikap spontan menanggapi keadaan yang merisaukan banyak pihak.  Acaranya sendiri berupa pertemuan khusus antara pemimpin agama Islam Rusia dan para Duta Besar negara-negara Islam dan diakhiri dengan  jumpa pers. “Untuk menghindari mispersepsi terhadap Islam di kalangan masyarakat Rusia. Islam  sama sekali tidak mengajarkan kekerasan dan pengrusakan,” ujar Hamid Awaludin
 
Di bawah cuaca yang sudah mulai menghangat (12 derajat Celcius) untuk katagori kota di ujung dunia Moskow,  Dubes negara-negara besar Islam berduyun-duyun menuju kantor Mufti Rusia. Tidak hanya itu, 30an wartawan media masa, pejabat Kementerian Luar Negeri dan pemuka Agama Islam tidak ketinggalan. Mereka ingin menghadiri sebuah pertemuan penting terkait dengan aksi teror yang marak di beberapa kota bersar di Rusia yang telah menelan 54 korban jiwa.
 
Dalam pertemuan tertutup para pemuka agama dengan para Duta Besar negara-negara Islam disepakati beberapa butir penting tentang konsep Islam yang rahmatan lil alamin (bermanfaat bagi semua makhluk) dan juga langkah-langkah dasar untuk mengatasi kegiatan teror di masa datang. Hal ini penting mengingat aksi brutal itu bersifat lintas negara dan tanpa target yang spesifik. Butir-butir itulah yang menjadi kerangka pertemuan dengan kalangan media massa.
 
Sebelum temu media, dilantunkan beberapa ayat al-Quran yang menegaskan bahwa Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk membunuh orang yang tidak berdosa serta menganjurkan untuk hidup berdampingan secara harmonis. “Apabila kamu membunuh seorang yang tanpa salah, maka dianggap seperti membunuh semua orang. Sedangkan bila membiarkan kehidupan seseorang berarti menghidupi semua makhluk,” demikian pesan Tuhan dalam dalam surat al-Madidah.
 
Mufti Besar Rusia, Ravil Gaynutdin dalam sambutannya memberikan penghargaan tinggi atas inisiatif yang tepat dari Dubes RI Moskow. Apalagi pada hari yang sama (5/04) terjadi lagi sebuah pemboman tragis di Karabulak yang menghilangkan nyawa dua orang. “Inilah pertemuan yang penting dan dirancang kurang dari satu minggu,” ujarnya.
 
Gaynutdin menggarisbawahi bahwa Islam sama sekali tidak bisa disalahkan dan dikambinghitamkan dalam masalah pemboman, sebab Islam mengajarkan manusia untuk menjaga nyawa orang lain. Karenanya ia dengan tegas mengutuk aksi terorisme dan menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas semua korban akibat aksi brutal tersebut. “Hati kita berpihak kepada para korban dan semua rakyat Rusia menderita karena kebrutalan tersebut,” ujarnya dengan muka tegas sambil menerangkan bahwa peperangan oleh golongan tertentu akan menyeret pihak lain menjadi korban.
 
Karena itu Gaynutdin mengingatkan kepada semua pihak untuk merenung dan melihat kembali apa sebenarnya  menjadi akar masalah sehingga semua ini bisa terjadi. Harus dilihat asal muasalnya (root causes). “Mereka yang meledakkan diri itu pastilah tidak akan mati syahid (di jalan Tuhan). Sebab, kalau saja mereka dinilai mati di jalan Tuhan, berarti kita mengajarkan masyarakat untuk membunuh orang lain. Pemahaman itu sama sekali tidak benar,” tegasnya.
 
Sebagai inisiator pertemuan, Dubes Hamid menggarisbawahi apa yang menjadi motivasinya. Antara lain karena berdasarkan pengalaman, rakyat Indonesia sangat bisa merasakan kepedihan rakyat Rusia. Padahal Islam di Rusia dan di Indonesia sama-sama menjunjung pluralisme dan keberagaman.  “Islam dimana-mana mengajarkan tolerannsi yang luhur, cinta damai, menghargai pihak lain serta anti kekerasan. Itulah sebabnya Islam melarang menghilangkan nyawa orang,” katanya.
 
Berbagai Duta Besar seperti dari Malaysia, Sinegal, Turki, Saudi Arabia, Brunei Darussalam, Pakistan, Mesir dan Kuwait menyatakan belasungkawa yang mendalam kepada korban yang sudah mencapai puluhanorang dalam kurun waktu sekitar satu minggu. Mereka menyerukan kepada khalayak umum melalui media massa bahwa Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan, dan mereka yang melakukannya dengan mengatasnamakan agama tidak bisa dibenarkan.
 
“Tidak ada tempat bagi kegiatan teroris dalam ajaran agama Islam,” ujar Duta Besar Malaysia, HE. Dato Mohammad Ali Hasan. “Aktivitas terorisme yang mengatasnamakan Islam mengingkari sifat Allah SWT yaitu yang maha pengasih dan penyayang,” kata Dubes Mesir, HE. Ala El Hadidi. Sedangkan Dubes Saudi Arabia, HE. Ali Hasan Jafar mengajak semua pihak untuk saling bergandengan kerja sama memberantas aksi teror dengan cara-cara yang cerdas.
 
Duta Besar Keliling Pemerintah Rusia, Kosntantin Shuvalov memahami dengan baik apa yang disampaikan oleh para Duta Besar negara-negara Islam tersebut. Disebutkannya, Rusia tidak pernah menyerah kepada kawanan teroris. Peperangan melawan teroris adalah perang besar, yakni melawan sebuah “cara pikir”.  “Saya percaya mereka yang menjadi martir itu tidak akan masuk surga. Tidak ada tempat untuk zombie semacam itu di dunia ini,” tegasnya.
 
Di akhir acara, semua pihak kembali memberikan apresiasi atas inisiatif Indonesia dan berharap untuk dapat berkerjasama lagi di lain waktu.  “Ya, kita memang perlu kerja kongkrit dan tidak selesai pada pernyataan belaka,” kata Hamid Awaludin. (as)