Pagelaran Perdana Seni Sulsel di Rusia Sukses

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Meskipun ditiupi oleh angin 4 derajat Celcius bersamaan rontoknya daun di musim dingin, pagelaran busaya Sulses di Rusia tidak terpengaruh, bergeming. Melalui manajemen KBRI dan pemerintah daerah Vladimir, semua perhelatan berjalan dengan lancar. Para artis yang kecapekan seolah menjadi semangat melihat penontoh yang begitu antusias. Pertujukan perdana kesenian budaya Sulawesi Selatan di Rusia (24/10) berjalan sukses. Sebanyak 250 penonton seolah tidak berkedip menikmati sajian berselera 22 artis selama 2 jam nonstop. Hanya ada terdapat dua kata yang terdengar dari penonton: ocin khoroso alias bagus sekali. Bertempat di gedung pertunjukan ekslusif Museum Vladimir-Susdal yang berjarak 210 km dari ibukota Rusia, perhelatan itu dilaksanakan. Dalam kesempatan tersebut, disajikan antara lain tari pa’rimpungan, rabbana jepeng, prosesi adat appasiori waju, ganrang bulo, simponi kecapi hingga peragaan busana. Ikut menikmati pertunjukan Wakil Gubernur Vladimir, Martinov Sergey dan Direktur Jenderal Museum Vladimir, Svetlana Mednikova serta Dubes RI untuk Rusia, Hamid Awaludin. Menurut Dubes Hamid Awaludin, pemilihan Vladimir didasari oleh sebuah pemikiran bahwa kota ini merupakan salah satu kota peradaban Rusia karena pernah menjadi ibukota pada zaman kerajaan di masa lalu. Inilah tempat bersejarah ketiga terbesar di Rusia setelah Moskow dan St. Petersburg. Bahkan berbagai peninggalan sejarah di kota tua ini mendapat perlindungan oleh UNESCO. “Kami datang membawa kesenian yang menyentuh rasa yang bisa dinikmati oleh semua orang tanpa harus tersekat oleh suku, agama, bangsa atau bahkan ruang dan waktu. Seni hanya akan menciptakan pesahabatan,” ujar Hamid dalam konferensi pers sebelum pelaksanan pertunjukan. "Melalui persahabatan itulah maka akan berkembang peradaban manusia," imbuhnya. Irama gendang yang merupakan instrumen utama terdengar bertalu-talu terpadu manis dengan lengkingan alat tiup puik-puik serta diselingi gemuruh gong mengiringi tari-tarian yang lembut hingga enerjik. Pakaian para penari yang didominasi warna berani seperti biru, kuning dan merah menambah suasana panggung sangat semarak. Semua menjadi sebuah sajian yang menggambarkan budaya yang gagah berani namun mengedepankan kebijakan. Para penari dengan gemulai melanggak-lenggok di atas panggung eksklusif dalam diameter yang terbatas. Tepukan gemuruh seolah tak berhenti dari waktu ke waktu dalam ruangan yang memang didesign untuk pentas akustik tersebut. Semua menyatu dengan ornamen gedung yang dibuat pada abad 18 tersebut. Dan, yang juga menjadi sangat menarik adalah penampilan peragaan busana dari Totok Supangat yang mengusung sutra bugis sebagai bahan utamanya. Kain-kain yang bermotifkan sarung atau paduan antara garis dan kotak-kotak dicoba dijadikan aneka busana wanita yang terlihat anggun dan menawan. Keberaniannya memainkan warna kuat merupakan suatu eksperimen yang berani. “Sutra model ini memang sangat unik dan relatif lain sehingga menantang untuk dijadikan busana,” ujar Totok. Yang ditampilkan kali ini berupa pakaian yang cocok untuk musim semi hingga panas di Rusia. Dengan bahan yang tipis dan dipadukan dengan warna cerah, maka akan membawa suasana kehidupan alam dengan mahatari yang terang. Adapun model busananya lebih berkarakter modern dan kontemporer semi eksperimental. Uniknya dari pegelaran busana ini adalah karena semua penari wanita yang berjumlah 7 anak mahasiswi tersebut juga berperan sebagai peragawati. Dengan demikian, maka pergantian busana di balik panggung menjadi riuh dan serba cepat. Tidak jarang mereka terlihat begitu nervous karena harus segera manggung. Bagi Martinov, perhelatan kemarin merupakan sesuatu yang istimewa dan awal dari kerjasama yang erat dimasa datang. Diharapkan kedua belah pihak segera merapat untuk dapat mengisi dalam bidang ekonomi, turisme dan politik. Ia mengaku bahwa ada masanya Indonesia pernah sangat dekat dengan Rusia pada tahun 1960-an. Karenanya, kini sudah waktunya untuk kembali membangun persahabatan yang sempat hilang. Martivov menyatakan persetujuannya dengan Dubes yang menyebutkan sebuah kata bijak Rusia yang menyatakan; Satu sahabat lama lebih baik dari sahabat baru. "Karenanya, mari kita segerakan persahabatan ini," ujar Martinov. Setelah sukses di Vladimir, pertunjukan tim kesenian Sulsel akan segera bergeser ke kota Moskow, Kazan dan berakhir di St. Petersburg. Paket pentas seni yang dimotori oleh Pemprov Sulsel dan KBRI Moskow ini akan berlangsung selama seminggu penuh.()