Kerjasama Pendidikan Indonesia-Rusia

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Pada akhir tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an terdapat sekitar 2000 mahasiswa Indonesia yang belajar di berbagai wilayah Uni Soviet melalui program beasiswa dari Pemerintah Uni Soviet. Kesempatan belajar di Uni Soviet menjadi fenomena di kalangan mahasiswa Indonesia pada saat itu mengingat dekatnya hubungan kedua negara.
 
Seiring dengan kondisi politik pada era Orde Baru di Indonesia, sejak akhir tahun 1960-an hingga pertengahan tahun 1990-an tidak ada mahasiswa Indonesia yang pergi ke Uni Soviet untuk belajar.
 
Mulai tahun 1995, Pemerintah Rusia memberikan beasiswa kepada warga negara Indonesia untuk belajar di berbagai perguruan tinggi Rusia pada program bachelor (S-1), spesialis, master (S-2) dan aspirantura/doktor (S-3).
 
Saat ini dalam setiap tahunnya Pemerintah Rusia memberikan 35 beasiswa, yaitu 25 beasiswa untuk program bachelor dan master, dan 10 beasiswa untuk program doktor. Akan tetapi, beasiswa yang diberikan Pemerintah Rusia bukan beasiswa penuh. Pemerintah Rusia hanya membebaskan biaya studi dan asrama, sementara biaya hidup dan lainnya, termasuk biaya asuransi dan penerbangan internasional ditanggung oleh peserta.
 
Pada tahun 2010 sebanyak 39 orang baik yang belajar melalui program beasiswa dari Pemerintah Rusia, biaya sendiri, maupun pertukaran antar perguruan tinggi kedua negara. Secara keseluruhan, saat ini terdapat 115 mahasiswa Indonesia yang belajar di berbagai perguruan tinggi di Rusia, seperti di Moskow, St. Petersburg, Yekaterinburg, Ufa, Tomsk, Rostov-on-Don, Voronezh dan Tula.
 
Sementara itu, pada tahun 2010 Pemerintah Indonesia memberikan beasiswa kepada 32 mahasiswa Rusia untuk belajar di Indonesia yang terdiri dari:
20 mahasiswa belajar bahasa, seni dan budaya Indonesia melalui program Darmasiswa dari Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia;
10 mahasiswa Islam dari Universitas Islam Moskow, Universitas Islam Rusia (Kazan) dan Pusat Pendidikan Islam Kaukasus Utara (Makhachkala) memperdalam studi Islam pada program master (S-2) di UIN Malang melalui program beasiswa dari Kementerian Agama Republik Indonesia;
2 orang mahasiswa lainnya mengikuti pendidikan singkat bahasa, seni dan budaya Indonesia (BSBI) yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.
 
Kerjasama antar perguruan tinggi menunjukan perkembangan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini tercermin antara lain dengan adanya saling kunjung dan penandatanganan kerjasama antar perguruan tinggi, yaitui:
Universitas 45 Makassar dengan Russian State University of Trade and Economics Samara Institute (RSUTE) Samara;
Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan People’s Friendship University of Russia (RUDN) dan Bauman Moscow State Technical University (BMSTU);
Universitas Diponegoro (UNDIP) dengan Bauman Moscow State Technical University (BMSTU) dan People’s Friendship University of Russia (RUDN);
Universitas Indonesia (UI) dengan St. Petersburg State Politechnic University
Universitas Hasanuddin dengan St. Petersburg State Politechnic University;
Institut Teknologi Bandung dengan St. Petersburg State Politechnic University
Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta dengan Universitas Islam Moskow; Universitas Islam Rusia (Kazan) dan Pusat Pendidikan Islam Kaukasus Utara (Makhachkala);
Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta dengan Universitas Islam Moskow; Universitas Islam Rusia (Kazan) dan Pusat Pendidikan Islam Kaukasus Utara (Makhachkala);
Universitas Islam Negeri (UIN) Malang dengan Universitas Islam Moskow; Universitas Islam Rusia (Kazan) dan Pusat Pendidikan Islam Kaukasus Utara (Makhachkala);
Universitas Indonesia dengan Institute of Asian-African Studies (ISAA)/Moscow State University (MGU);
Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Kementerian Luar Negeri RI dengan Akademi Diplomatik Kementerian Luar Negeri Federasi Rusia.
 
Sementara itu, terdapat pula minat dari perguruan-perguruan tinggi lainnya kedua negara untuk menjalin kerjasama. Beberapa perjanjian kerjasama yang masih dalam pembahasan, seperti: 
Universitas Diponegoro dengan St. Petersburg State University;
Universitas Gadjah Mada dengan St. Petersburg State University;
Universitas Padjadjaran Bandung dengan Far Eastern National University, Vladivostok.
 
Untuk lebih memberikan pemahaman tentang Indonesia terkini dan hubungan bilateral Indonesia-Rusia kepada generasi muda Rusia, khususnya kalangan mahasiswa, dilakukan kuliah umum Duta Besar RI di berbagai perguruan tinggi di Rusia, seperti Moscow State of International Relations of the Ministry of Foreign Affairs of the Russian Federation (MGIMO), Institute of Asian-African Studies (ISAA) of the Moscow State University dan di Moscow State University (MGU), Russian Peoples’ Friendship University of Russia (RUDN), Don State Technical University (DSTU), Far Eastern National University (DGTU) Vladivostok, Tver State University (TSU), St. Petersburg State University (SPbGU), Universitas Islam Moskow, Universitas Islam Rusia (Kazan) dan lainnya.
 
Di beberapa perguruan tinggi Rusia dipelajari bahasa Indonesia, seperti di Institute of Asian-African Studies (ISAA) of the Moscow State University (MGU), Oriental University of the Russian Academy of Sciences, Moscow State University of International Relations (MGIMO) of the Ministry of Foreign Affairs of the Russian Federation, St. Petersburg State University (SPbGU), Akademi DIplomatik Kementerian Luar Negeri Federasi Rusia dan Far Eastern National University (DVGU) Vladivostok.
 
Untuk lebih mengembangkan Bahasa Indonesia di Rusia, pada tahun 2010 KBRI Moskow bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan Nasional RI mendatangkan tenaga pengajar Bahasa Indonesia untuk mengajar di berbagai perguruan tinggi di Rusia, seperti Institute of Asian-African Studies (ISAA) of the Moscow State Univesity (MGU), Oriental University of the Russian Academy of Sciences dan Moscow State University of International Relations (MGIMO) of the Ministry of Foreign Affairs of the Russian Federation. KBRI Moskow dan Kementerian Pendidikan Nasional RI sedang mempersiapkan tenaga penagajar Bahasa Indonesia untuk kelanjutan program tersebut, termasuk pengajaran Bahasa Indonesia di Far Eastern National University (FENU) Vladivostok.