KBRI Moskow bebaskan dua waria dari sekapan mucikari

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Dua waria yang mengaku sedang tamasya di kota Moskow bisa jadi telah tergiur tawaran untuk menjadi pekerja prostitusi transeksual. Naasnya, mereka masuk jaring mafia lalu disekap dan dijajakan secara profesional tanpa imbalan. KBRI Moskow yang mengendus masalah ini bergerak cepat dan berhasil membebaskan keduanya.

Semua berawal dari dering telepon yang tidak berhenti di KBRI Moskow pada 8 November 2010 dini hari silam. Ketika diangkat, petugas jaga langsung mendapatkan bisikan dari seberang bahwa beberapa warga negara Indonesia tengah disekap selama sebulan di sebuah apartemen di salah satu sisi kota Moskow. Mereka kabarnya tidak boleh meninggalkan tempat dan diharuskan melayani para hidung belang tanpa bayaran. “Bantulah kami keluar dari tempat ini,” suara wanita yang mengaku berinisial S lirih memelas.

Dengan tangkas Dubes Hamid Awaludin segera memerintahkan stafnya untuk mengontak Kemlu dan kantor polisi. “Jangan pernah ditunda,” ujarnya.

Lalu, tim protokol dan konsuler dibawah pimpinan Minister Counsellor Hari Tjahjono segera mengambil langkah seribu. Pagi itu, ia langsung melakukan konsultasi dengan Kementerian Luar Negeri Rusia yang selanjutnya disarankan untuk melaporkan dan bekerjasama dengan polisi setempat dalam membebaskan tiga TKI tersebut. Tepat di tengah hari, tim KBRI sudah langsung bergandengan tangan dengan unit polisi untuk menyusun strategi "penggerebegan".

Malam harinya, saat mahahari mulai lelap dalam tidurnya, operasi razia bersama dilancarkan dengan motode penyamaran. Ketika transaksi berhasil dilaksanakan, sekejap mata tempat prostitusi itu dikepung dan digeledah secara paksa. Dua PSK Indonesia berinisial S dan E ditemukan, sedangkan satu lainnya yang kabarnya berinisial N telah raib.

Dari operasi pagi itu berhasil diamankan setidaknya dua orang pengelola kegiatan esek-esek yang langsung digelandang ke kantor polisi untuk dimintai pertanggungjawabannya. Sedangkan sang mucikari sampai kini masih dalam pengejaran pihak berwajib.

Di kantor polisi inilah kedua WNI tersebut mengaku bahwa dirinya adalah waria (wanita pria) yang telah melakukan operasi plastik. Mereka awalnya tergiur izin kerja dan uang berjibun namun yang terjadi justru paspor mereka dirampas oleh sang mucikari lalu disekap dalam rumah untuk melayani nafsu birahi tanpa menerima imbalan yang sempat dijanjikan.

Berkas perkara kedua PSK yang ditampung di KBRI Moskow itu telah rampung dan dalam waktu yang tidak terlalu lama dilimpahkan ke pengadilan. Tim KBRI mendampingi keduanya selama dua hari dua malam untuk urusan pemberkasan perkara. “Kita sudah kangen deh sama kampung halaman,” ujar E yang bertubuh jangkung berkali-kali.

Menurut S alias Z (26), mereka berdua telah datang di Rusia pada tanggal 1 Agustus 2010 untuk melancong selama seminggu. Begitu tiba waktunya pulang, mereka ditawari kerja sebagai PSK dengan imbalan separuh dari pendapatan plus diuruskan izin kerja dan izin tinggal mereka. Sampai pertengahan Oktober 2010 mereka menempati sebuah apartemen yang cukup bagus dengan kebebasan yang terkontrol. Hanya saja, imbalan yang dijanjikan tidak pernah diberikan meskipun dirinya laris manis. “Mungkin karena cerewet, maka kami dipindah dan disekap di apartemen lainnya,” kata S yang sebelum ke Rusia bekerja di Kuta, Bali.

Sementara itu E alias R (24) mengaku sangat stres selama penyekapan. Walaupun dibolehkan keliaran dalam rumah, namun praktis tidak bisa keluar rumah. Selain jendela pintu dikunci rapat, keamanan partikelir senantiasa mengawasi dan siap menyundut keduanya dengan peralatan sengat listrik bila dianggap melawan. Dalam sehari, ia biasa melayani 5 sampai 6 tamu yang tiap orang membayar 5000 rubel atau 166 dolar AS. Bahkan, kabarnya, bila dipanggil ke rumah maka traksaksi per-jamnya 20 ribu rubel (666 dolar), diluar tip dan uang transport.

Kedua waria Indonesia itu selama 3 bulan dalam genggaman mucikari hanya menikmati uang tip yang biasa diberikan oleh para pelanggan. Tidak jarang, bila servis mereka dianggap bagus maka seorang pelanggan bersedia merogoh kantong lebih dalam sampai 1500 rubel, atau setara 50 dolar AS. Tidak aneh, ketika mereka berdua dibebaskan masih sempat menggenggam uang pada kisaran 20 ribu rubel (667 dolar AS).

Berkat pelanggan yang baik hati juga mereka dibantu mendapatkan nomor telepon KBRI Moskow. Secara diam-diam mereka mengontak perwakilan RI di Moskow berkali-kali sampai kemudian dibebaskan oleh Tim KBRI dan Polisi setempat.

Kini KBRI Moskow cukup lega meskipun proses hukum kedua waria masih harus dilalui. “Apapun profesi warga negara kita disini, KBRI akan memberikan perlindungan penuh. Tetapi, kejadian ini tentu harus menjadi pelajaran bagi siapapun agar tidak mudah tergiur pekerjaan yang mudah mendatangkan uang tanpa bekerja keras. Dimanapun juga, apalagi di Rusia,” tuturnya Dubes dengan tegas (as)