SAMBUTAN DUTA BESAR PADA UPACARA PERINGATAN HARI PROKLAMASI KEMERDEKAAN RI KE-66

8/17/2011

 
SAMBUTAN DUTA BESAR
PADA UPACARA PERINGATAN HARI PROKLAMASI KEMERDEKAAN RI YANG KE-66
MOSKOW, 17 AGUSTUS 2011
 
 
 
Assalamu Alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera bagi kita semua.
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air.
 
Tiga hari lalu, saya melintas di sebuah lorong kumuh yang seolah tak menjanjikan suatu apa pun di Jakarta. Lilitan kemiskinan berpuluh tahun yang mendera saudara-saudari kita di lorong itu, tak membuat mereka murung. Mereka menyemarakkan 17 Agustus dengan cara mereka sendiri: mencium bendera merah putih silih berganti.
 
Pak Jaiman, kita panggil saja begitu, pria yang tergerogoti bukan hanya oleh usia yang kian senja, 85 tahun, tetapi juga deraan hidup. Kulitnya legam lantaran terik panas matahari yang tiap saat membakarnya. Sore itu, ia larut dengan sukacita proklamasi, ditemani oleh cucunya yang hanya berusia 8 tahun.
 
Jelas sekali, roh kemerdekaan mengendap jauh ke dalam diri Pak Tua dan sang cucu itu, bersama khalayak lainnya. Tak peduli dari kalangan mana ia berada. Mereka hanya tahu betapa penting arti kemerdekaan sebab merdeka itu untuk bermartabat dan martabat adalah milik semua orang. Di situlah esensi seseorang menjadi manusia sejati. 
 
Dalam keyakinan Pak Tua, dan juga keyakinan kita semua, merdeka berarti monumen nestapa yang dibangun oleh kolonial, harus dirobohkan. Jejak derita masa silam harus dihapus. Mata rantai dan daftar panjang ketergantungan dalam segala hal, harus diputus. “Kami, bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.” 
 
Singkatnya, merdeka adalah monumen agung tentang manusia, yang menjadi saksi dan berbicara dari waktu ke waktu: betapa pentingnya harkat dan martabat manusia. Tak heran memang, Pak Tua yang renta dan cucunya itu, amat masygul mencium bendera, sebab bendera mendeklarasikan bahwa mereka tetap menjadi manusia yang bermartabat. Kibaran dan lambaian bendera yang tertiup oleh angin semilir, bagi Pak Tua dan cucu ini, adalah the wave of the future of human dignity. Begitulah seterusnya, dari masa satu ke masa lainnya. Gengis Khan, datang lalu pergi. Attilas juga datang lalu pergi. Hitler pun demikian. Belanda juga seperti itu: datang dan pergi. Tapi, liberty never dies. Freedom endures.
 
Maka, hari ini, Rabu 17 Agustus 2011, kita kembali memperingati hari ketika Indonesia dinyatakan sebagai bangsa yang merdeka.
 
Hari kemerdekaan tahun ini adalah istimewa karena kita memperingatinya dalam bulan Ramadhan, sebagaimana halnya yang terjadi pada 66 tahun silam. Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan ketika umat Islam sedang menjalankan ibadah Puasa. Saat Soekarno membaca teks proklamasi pada hari Jumat 17 Agustus 1945, umat Islam sudah sembilan hari menjalankan ibadah puasa Ramadhan tahun 1364 Hijriyah.
 
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air.
 
Hari kemerdekaan adalah sebuah titik datar di tengah perjalanan untuk berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, mengingat-ingat betapa panjang perjalanan yang bangsa kita telah lalui dan apa arti kehadiran kita dalam perjalanan panjang itu. Hari kemerdekaan mengingatkan kita bahwa tatkala Merah Putih berkibar di seantero negeri, dan Republik berusia 66 tahun, masih banyak anak jalanan yang terseok-seok di kota-kota besar, masih tak terbilang anak Indonesia yang tak mampu mendapatkan hak menjalani pendidikan, dan sebagian rakyat belum juga menikmati hak-hak dasarnya seperti yang dicita-citakan para pendiri republik.
 
Hari kemerdekaan juga mengingatkan para pengelola negara, birokrat, para diplomat, pegawai, untuk tidak menyia-nyiakan bahtera kapal yang dibangun dan dipercayakan para pahlawan kepadanya dengan melayani warga sebaik-baiknya lewat birokrasi yang bersih dan sehat.
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air.
 
Hari ulang tahun kemerdekaan tahun ini hanyalah momentum untuk mengingat kembali perjalanan bangsa ini. Upacara proklamasi dan segala perangkatnya -- dulu dan saat ini -- hanyalah sekadar alat untuk mencapai cita-cita yang berabad-abad lamanya diperjuangkan. Proklamasi, bagi para founding fathers jelas dan tegas, yakni pintu gerbang menuju negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
 
Itulah sebabnya, para pendiri republik menegaskan kemerdekaan Indonesia dengan cara yang sungguh-sungguh sederhana. Draft naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia hanya ditulis dengan tangan di atas sehelai kertas buram oleh Bung Karno dan didiktekan oleh Bung Hatta. Naskah itu bahkan tidak disimpan sebagai barang keramat. Wartawan B.M. Diah menemukannya di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, pada 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik. 46 tahun kemudian, Diah baru menyerahkan draft naskah bersejarah itu kepada negara.
 
Para pendiri bangsa tidak menganggap naskah proklamasi itu sebagai sesuatu yang sakral. Yang mereka anggap penting adalah negeri yang berdiri bernama Indonesia, rakyat yang sejahtera, dan masa depan bangsa yang mereka lahirkan. Pada proklamasi kemerdekaan, tergenggam semangat untuk hidup adil dan makmur. Di atas jalan yang mereka rintis itu, kita -- orang-orang Indonesia yang berdiri tegak sebagai bangsa yang bermartabat hari ini -- memikul tanggung-jawab besar untuk mewujudkan cita-cita para pahlawan.
 
Pada Hari Ulang Tahun Proklamasi di tahun 1966, Soekarno sendiri berkata: “Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau berguna untuk menjadi kaca bengala daripada masa yang akan datang.”
 
Bagi kita, segenap warga kedutaan besar Republik Indonesia, kemerdekaan adalah momentum menegaskan kembali kehadiran kita sebagai orang Indonesia di luar negeri. Setiap kita adalah wakil dari sebuah bangsa besar bernama Indonesia. Tutur kata, sikap, dan segala tindak laku kita, adalah juga cermin dari peradaban yang dibangun dari perjalanan panjang bangsa kita, dan dengan cermin itulah bangsa-bangsa lain menilai Indonesia.
 
Dunia yang oleh kemajuan teknologi kini seolah tanpa batas, membuat persinggungan kita dengan bangsa lain kian kerap dan mengesankan. Sebagai warga kedutaan, kita adalah bagian dari orang Indonesia yang akan dihadapkan pada berbagai masalah lintas bangsa yang semakin beragam. Beberapa masalah di antaranya telah menjadi kosa-kata sehari-hari seperti perdagangan anak, pekerja ilegal, sindikat narkotika internasional, penyelundupan senjata, perdagangan manusia, pekerja paksa, TKI, dan sebagainya. Semua itu menuntut kerja-keras kita untuk selalu tanggap dan menemukan jalan keluar yang cerdas dan tepat. Dengan jalan itulah kita menunjukkan kedaulatan bangsa yang merdeka di mata negeri tempat kita bertugas dan bangsa-bangsa lain.
 
Lebih dari itu semua, tugas kita di sini adalah melayani orang-orang Indonesia, mereka yang jauh dari negeri kita. Mereka, warga Indonesia di luar negeri, para pelajar dan mahasiswa, tenaga kerja, ada di sini untuk meretas jalan bagi masa depan diri dan negerinya.
 
Untuk itu, saya mengutip kembali sepenggal petuah Bung Karno yang ia sampaikan di depan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, di tahun 1960. “Bukanlah pion-pion yang di atas papan catur yang tuan-tuan hadapi. Yang tuan-tuan hadapi adalah manusia, impian-impian manusia, cita-cita manusia dan hari depan manusia.”
 
Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia.