Warga Kazan Gandrung Busana Muslim Indonesia

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Semua permulaan memang sulit, namun bukan berarti hal ini menghalangi untuk berbuat sesuatu. Itulah prinsip yang dipegang KBRI Moskow dalam menggelar fashion show busana muslim di kota santri Rusia, Kazan, pada 28 Oktober 2010. Dan ternyata, tanggapan penonton sangat apresiatif.
Salah satu andalan pagelaran budaya Sulsel di kota Kazan, dalam rangka menutup aneka kegiatan 60 tahun peringatan hubungan diplomatik Indonesia-Rusia, berupa fashion show khusus busana muslim yang dipentaskan di Gedung Pertunjukan Budaya kota Kazan. Inilah kali pertama dalam sejarah Indonesia diperkenalkan pakaian muslim ala Indonesia kepada publik Rusia.
Dua perancang Indonesia, Toto Supangat dan Yukomoko telah didatangkan secara khusus untuk memamerkan busana muslim dengan bahan bercorak Indonesia di depan ratusan penonton di kota yang berjarak 900 km dari ibukota Rusia. Sebanyak 13 baju dengan dengan bahan sutra Bugis, mixed batik serta songket kontemporer melambai-lambai dikenakan oleh peragawati yang juga penari dari Sulawesi Selatan.
Meskipun tidak terkesan baru dari sisi model pakaiannya di mata masyarakat Indonesia, namun hal tersebut merupakan sesuatu yang anyar bagi masyarakat Kazan yang mayoritas beragama Islam. Nilai tambah lain adalah corak pakaian yang cerah, bergaris-garis kota-kotak atau bernuansa etnik nan unik. Hal ini tentu sangat berbeda dengan pakaian wanita muslim Kazan pada umumnya yang cenderung polos (putih), kurang bermotif dan modelnya relatif sama.
“Sangat atraktif sekali dari sisi model dan warnanya. Saya kira mata penonton baru sekali ini menyaksikan busana muslim yang demikian,” kata Ramil Garipov, seorang penonton yang juga executive official dari Idel Hajj, perusahaan ONH Kazan.
Menurut Toto, berbagai keunggulan corak dan model yang terus berkembang di Indonesia sangat layak untuk diperkenalkan kepada masyarakat muslim di dunia. “Kekuatan kita ada disana dan karenanya pula kita datang jauh-jauh dari Indonesia ke tengah-tengah negara Rusia,” ujarnya.
Hal sama juga disampaikan seorang peragawati busana muslim, Andi K. Dewi, mahasiswi smester akhir Hubungan Internasional UNHAS yang sudah menekuni dunia modeling model sejak SMP. “Saya sangat pede mengenakan busana muslim di depan khalayak Rusia. Sebab saya sadar, dalam waktu yang sama secara tidak langsung saya mempromosikan negeriku,” ujarnya.
Sementara itu bagi Dubes Hamid Awaludin lain lagi ceritanya. Fashion show busana muslim Indonesia tidak hanya bernuansa promosi budaya namun juga memiliki matra ekonomi atau dagang. Dengan jumlah muslim Rusia yang lebih 20 juta, diharapkan akan menjadi pangsa pasar yang empuk bagi penjualan busana muslim Indonesia yang model dan motifnya terus berkembang cepat dari waktu ke waktu.
Kazan adalah ibukota negara bagian Tatastan dengan penduduk mayoritas muslim. Di sini suasana hidup masyarakat setempat sangat mirip di Indonesia dimana hampir setiap pojokan jalan terdapat masjid dan ucapan salam azan bisa terdengar dimana-mana. Bahkan, tiga calon dosen Univesitas Islam Rusia Kazan, saat ini sedang mendalami Islam di UIN Malang atas beasiswa Kementerian Agama RI.
Selama di Kazan, tim seni Sulsel yang dipimpin oleh Andi Pancawati Baso Mappa tersebut juga mempersembahkan aneka tarian khas daerahnya yang berirama rancak dengan tabuhan kendang, puik-puik dan suling. Peragaan busana muslim kali ini memang disiapkan sedemikian rupa agar mendekati selera masyarakat setempat.