Meneropong Kekuatan Ekonomi Baru Global dalam Eastern Economic Forum 2015 di Rusia

Oleh: Agnes Harvelian, Mahasiswa FEFU Vladivostok

 

Eastern Economic Forum 2015 yang berlangsung di kota Vladivostok Russia, merupakan pertemuan internasional pertama yang digagas oleh Russia melalui kesepakatan negara-negara berkembang bersama dengan negara maju lainnya, untuk berfokus pada peningkatan kerja sama ekonomi. Kegiatan yang diadakan dari 3-5 september 2015 dibuka langsung oleh Presiden Russia, Vladimir Putin. Pertemuan internasional ini disambut baik oleh negara-negara di Asia Pasifik, dengan membludaknya tamu undangan dari berbagai stakeholder lebih dari 10.000 undangan yang awalnya hanya diprediksi sebanyak 2.000-3.000 undangan ikut berpartisipasi.

 

Pertemuan yang bertempat di kampus Far Eastern Federal University (FEFU) dihadiri wakil-wakil dari 32 negara kawasan Asia Pasifik, di antaranya Wakil Perdana Menteri Dewan Negara Cina Wang Yang, Wakil Perdana Menteri Kamboja Sok An, Menteri Perdagangan, Industri dan Energi Republik Korea Yoon Sang Jick, Menteri Perdagangan Luar Negeri Republik Demokrasi Rakyat Korea Lee Ren Nam, Menteri Industri dan Perdagangan Vietnam Vu Huy Hoang dan wakil dari negara-negara Asia Pasifik lainnya. Peserta dari Indonesia dalam Eastern Economic Forum ini diwakilkan oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Federasi Russia merangkap Federasi Belarus, Djauhari Oratmangun yang didampingi Atase Perdagangan KBRI Moskow, Konsul Kehormatan RI di Vladivostok, Medco Group, Pertamina dan beberapa pengusaha serta media lainnya dari Indonesia.

 

Kebijakan Russia yang saat ini diperlihatkan dengan memperkuat pembangunan dan kerja sama ekonomi dengan negara Asia Pasifik atau negara yang terletak di Timur. Dalam pertemuan ini, Russia akan memperlihatkan 250 buah proyek dengan jumlah investasi sebesar 4.7 triliun rubel.

 

Forum yang berlangsung selama tiga hari ini direncanakan akan disepakati 72 perjanjian dan memorandum termasuk 20 kontrak di bidang energi tenaga listrik dan 10 kontrak di bidang industri pertanian.

 

“Di forum ini saya akan mempresentasikan tentang potensi hubungan bilateral Indonesia Russia yang selama ini terjalin. Vladivostok merupakan kota strategis dan paling dekat dengan Indonesia, sehingga ke depan kami (Pemerintah Indonesia) akan membuat Indonesian House, sebuah pondasi yang dikukuhkan untuk mengundang para investor Russia mengenal produk-produk Indonesia,” ujar Dubes Djauhari Oratmangun.

 

Kekuatan investasi yang akan dibangun Russia dengan negara di kawasan Asia Pasifik diharapkan dapat menjadi kekuatan baru dalam rangka memperbaiki ekonomi global saat ini dan di masa yang akan datang.

 

“Melihat antusias besar dari forum ini, tidak berlebihan jika saya katakan bahwa Indonesia dan Russia harus lebih memperkuat kerjasama bilateral dalam rangka menyeimbangkan kekuatan ekonomi global saat ini,” ucap Agnes Harvelian Mahasiswa Far Eastern Federal University.

 

Dalam forum nantinya akan dibagi lagi ke dalam dua section, business dan culture program, yang didalamnya akan mengulas masalah, potensi dan solusi yang dapat dilakukan dalam rangka memperluas dan meningkatkan sektor ekonomi makro negara dikawasan timur.  Kedatangan para pengusaha Indonesia dalam forum inipun di harapkan dapat memaksimalkan kesempatan yang telah terbuka luas untuk berinvestasi dan memperkenalkan produk Indonesia di kawasan Timur. (Sumber: KBRI Moskow).​