BANTUAN DANA USD 1 JUTA UNTUK PELESTARIAN HUTAN INDONESIA

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Indonesia sebagai salah satu negara produsen utama kayu tropis dunia pada sidang International Tropical Timber Council ke 47 kali ini, mendapatkan bantuan sebesar US$ 1.128.654 dari organisasi International Tropical Timber Organization (ITTO) untuk mengimplementasikan 2 program pelestarian hutan di Indonesia. Jumlah bantuan tersebut cukup signifikan, yaitu 12.1% dari total bantuan yang diberikan ITTO pada tahun 2011, dimana Indonesia merupakan satu-satunya negara yang mendapatkan pembiayaan bagi 2 program dari 12 program yang dibiayai tahun 2011. Anggaran tersebut dialokasikan untuk program “Model Capacity Building for Efficient and Sustainable Utilization of Bamboo Resources in Indonesia” serta program lanjutan “Promoting biodiversity conservation in Betung Kerihun National Park (BKNP) as the trans-boundary ecosystem between Indonesia and State of Sarawak Malaysia (Phase III)”. Bantuan tersebut merupakan salah satu hasil Sidang ke 47 Dewan Kayu Tropis Internasional (47th Session of the International Tropical Timber Council) yang telah berlangsung tanggal 14-20 November 2011 di kota kolonial La Antigua Guatemala, dan dihadiri oleh 36 negara plus perwakilan 27 negara Uni Eropa. Delegasi RI pada dipimpin oleh Dr. Agus Sarsito, Kepala Pusat Kerjasama Luar Negeri Kementerian Kehutanan RI, yang juga memegang jabatan sebagai Chairman Committee on Finance and Administration (CFA), salah satu kelompok kerja utama dalam sidang tahunan tersebut. “Delegasi Indonesia telah bekerja keras untuk menyuarakan kepentingan kelompok negara produsen kayu tropis, terutama negara-negara berkembang, serta mengawal kepentingan nasional dalam pengelolaan hutan Indonesia secara lestari.” demikian ungkap Dr. Agus Sarsito seusai penutupan sidang pada hari Sabtu, 19 November 2011. Selain pendanaan berbagai program pelestarian hutan, setiap tahun ITTO juga memberikan dukungan biaya bagi peneliti akademis yang bergerak di sektor kehutanan (Fellowship Awards). Tahun ini Indonesia mendapatkan dukungan biaya penelitian bagi Rita Kartika Sari, peneliti program doktor IPB untuk “Investigation of the Novel Anticancer Substances Originated from Indonesian Woods in Community Forest”, serta Heni Kurniasih, kandidat doktor University of Melbourne, Australia, dengan topik “Indonesian Community Forestry Management Approaches”. Dr. Teguh Rahardja dari Pusat KLN Kemhut RI juga berhasil terpilih menjadi anggota Selection Panel bagi penentuan Fellowship Award tahun 2012. Sidang ke 47 ITTC juga telah berhasil mendesak beberapa negara produsen lainnya untuk segera meratifikasi International Tropical Timber Agreement (ITTA) tahun 2006, yang akan mensyaratkan pemerintah terkait untuk menjalankan praktek-praktek Sustainable Forestry Management, serta menguatkan kerjasama dalam rangka pengentasan penjualan kayu ilegal. Selama ini Indonesia sangat prihatin dengan posisi Brazil sebagai salah satu penghasil utama kayu tropis dunia dan negara produsen pemilik hak suara terbesar di ITTO yang justru belum meratifikasi perjanjian utama ITTO tersebut. Brazil menyatakan berharap dapat melakukan ratifikasi ITTA 2006 pada pertengahan tahun 2012.