Australia

Bilateral Indonesia - Victoria
Bilateral Indonesia - Tasmania

 
Negara bagian Victoria merupakan salah satu negara bagian di Australia yang menjadi wilayah akreditasi KJRI Melbourne. Negara bagian tersebut memiliki peranan yang cukup penting di Australia, baik dari segi jumlah penduduk maupun kontribusinya bagi perekonomian nasional. Penting dan tingginya posisi negara bagian Victoria juga terlihat dengan terdapatnya berbagai event besar berskala dunia diselenggarakan di Victoria seperti Australian Open, Grand Prix, Air Show serta Commonwealth Games 2006. Hal ini memperlihatkan bahwa pengaturan ekonomi, pariwisata, perdagangan telah saling menunjang dan tertata rapi oleh Pemerintah Victoria.
 
Jumlah penduduk Victoria berdasarkan data Department of Foreign Affairs and Trade Australia tahun 2004 adalah 5 juta jiwa atau 25 persen dari keseluruhan penduduk Australia yaitu 20 juta jiwa (2004), menempatkannya sebagai negara bagian dengan jumlah penduduk terbesar kedua setelah New South Wales. Namun, luas negara bagian Victoria yang hanya sebesar 3 persen dari luas wilayah Australia menjadikan negara bagian tersebut yang terpadat. Victoria juga memiliki nilai yang sangat strategis bagi perekonomian Australia karena Gross State Product (GSP) yang dihasilkannya merupakan 25 persen dari seluruh GDP Australia.
 
Berdasarkan Victorian Economic Overview tahun 2004, Negara bagian Victoria juga dikenal sebagai pusat industri manufaktur terbesar di Australia karena sektor tersebut memiliki nilai ekspor sebesar 40 persen dari total ekspor Victoria di tahun 2004. Secara keseluruhan, peran industri produk susu kemasan (manufactured diary product) di Victoria mencangkup 13 persen dari seluruh perdagangan produk susu kemasan, dan sektor industri makanan menduduki urutan kedua terbesar.
 
Menurut data terakhir Australian Bureau of Statistic (ABS) selama tahun 2004, Indonesia dinilai sebagai salah satu sumber impor yang penting bagi Negara bagian Victoria dengan nilai impor produk tahun 2004 meningkat menjadi sebesar A$926,344,859 dibandingkan tahun 2003 sebesar A$804,709 juta. Di lain pihak, nilai ekspor Victoria ke Indonesia di tahun 2004 sebesar A$ 474,407,873. Dengan demikian Indonesia menikmati surplus sekitar A$ 451,436,486. Walaupun aktivitas ekspor-impor Victoria maupun Indonesia masih didominasi komoditi oleh minyak dan gas, hubungan dagang tersebut dalam beberapa tahun terakhir sudah mulai mengalami diversifikasi karena meluasnya kebutuhan di masing-masing negara.
 
Produk-produk Indonesia dari sektor non migas seperti mie instant, peralatan plastik, kayu, produk kulit, dan peralatan listrik serta suku cadangnya telah banyak memasuki pasar Victoria. Namun, kerjasama ini masih dapat ditingkatkan mengingat besarnya pasar kedua negara sehingga kerjasama perdagangan dan investasi masih membutuhkan perhatian besar dari kedua pemerintah khususnya Indonesia. Survey pasar atas berbagai peluang ekonomi Indonesia di Victoria oleh KJRI.
 
Melbourne merupakan salah satu alternatif dalam usaha meningkatkan dan memanfaatkan impor produk dari Indonesia diluar produk migas yang selama ini mendominasi.
Di bidang pariwisata, Indonesia masih berada pada posisi keempat dari peringkat negara-negara yang paling banyak dikunjungi oleh penduduk asal negara bagian Victoria setelah Selandia Baru, Amerika Serikat serta Inggris dan & Irlandia. Bahkan informasi dari travel agents setempat menyebutkan bahwa Bali masih merupakan salah satu tujuan utama yang diminati oleh penduduk Victoria, khususnya bagi first international tourist atau wisatawan yang baru pertama kali melakukan kunjungan ke luar negeri. Mengingat jumlah penduduk Victoria merupakan kedua terbesar di Australia, maka kontribusi jumlah wisatawan mancanegara asal Australia yang berkunjung ke luar negeri dari Negara bagian tersebut ke Indonesia relatif cukup besar atau lebih dari 35 persen.
 
Salah satu potensi lain di Victoria yang dapat dikembangkan dalam kaitannya dengan pengembangan hubungan Indonesia-Victoria adalah pengajaran Bahasa Indonesia di berbagai sekolah-sekolah setempat. Sekitar 130.000 murid di Negara bagian Victoria yang mempelajari bahasa Indonesia dari 900 sekolah dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk semakin meningkatkan volume perdagangan Indonesia di Negara Bagian Victoria.
 
Gambaran Umum Ekonomi Victoria
 
a. Kebijakan Ekonomi
 
Secara umum, kondisi perekonomian Victoria yang kurang kondusif, sebagai akibat kebakaran hutan, kekeringan, ketidakpastian ekonomi global dan menurunnya daya serap pasar internasional, mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap anggaran negara bagian tersebut tahun 2003-2004. Namun demikian, anggaran belanja Victoria masih memungkinkan adanya pertumbuhan ekonomi karena kondisi finansial yang relatif stabil.
 
Alokasi anggaran khususnya untuk proyek-proyek besar tetap diprioritaskan pelaksanaannya walaupun terdapat beberapa perubahan substansial yang berakibat pada peningkatan subsidi pemerintah, di antaranya akibat perubahan sistem transportasi kereta api yang terpaksa diambil alih penanganannya oleh pemerintah negara bagian dari pihak swasta.
 
Secara garis besar, struktur penerimaan Pemerintah Victoria terdiri atas penerimaan subsidi Pemerintah Commonwealth (46 persen), pajak termasuk pengenaan biaya administratif maupun biaya pelanggaran (36 persen), penjualan produk dan jasa (8 persen), pendapatan dari investasi (3 persen) dan pendapatan lainnya (7 persen). Dana tersebut dialokasikan berdasarkan struktur pembelanjaan sebagai berikut: sektor pelayanan masyarakat (36 persen), sektor pendidikan (29 persen), sektor pelayanan hukum (9 persen), sektor industri primer/sustainability dan lingkungan (5 persen), sektor lainnya (21 persen).
 
b. Indikator-Indikator Ekonomi
 
Indikator-indikator ekonomi utama untuk negara bagian Victoria terdiri atas data mengenai pendapatan negara bagian bruto (gross state product), perdagangan, kependudukan, dan tenaga kerja.
Indikator-indikator untuk tahun 2004
 
 
Indikator
Angka dan Keterangan
Penduduk 
Jumlah penduduk Victoria pada akhir 2004 diperkirakan sekitar 5 juta jiwa.
GSP 
GSP nominal pada akhir 2004 adalah A$206.733 juta (US$161,272 juta) atau 25.4 persen dari GDP Australia. Sedangkan tingkat pertumbuhan ekonomi riil tercatat pada angka 3,7 persen pada akhir 2004 yang merupakan peningkatan dari 3,3 persen setahun sebelumnya.
GSP per kapita 
Indikator ini menunjukkan angka A$41.663 (nominal) per kapita atau US$32,501. Sedangkan kenaikan riil adalah sebesar 2,4 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Perdagangan 
Ekspor barang dari Victoria mencapai A$17.997 juta yang merupakan 16.5 persen dari total ekspor Australia.
Dalam hal jasa, ekspor adalah A$7.702 juta. Tujuan utama ekspor dari Victoria adalah Selandia Baru (11,6 persen dari total ekspor negara bagian tersebut), Amerika Serikat (10,8 persen), Cina (10,5 persen), Jepang (9 persen) dan Arab Saudi (5,3 persen). Yang termasuk barang-barang ekspor utama adalah kendaraan bermotor, aluminium, produk susu, wol, keju, daging dan bahan bakar. Sementara itu, nilai impor pada tahun yang sama mencapai A$40.739 juta untuk barang (22,7 persen dari total impor) dan A$8.239 untuk jasa (24,1 persen dari total impor). Produk-produk yang diimpor terutama meliputi kendaraan bermotor, minyak mentah, pesawat terbang dan suku cadangnya, obat-obatan, dan peralatan telekomunikasi. Negara-negara sumber utama impor ke Victoria adalah Amerika Serikat (16 persen dari total impor), Cina (12.9 persen), Jepang 12,2 persen), Jerman (8,1 persen) dan Perancis (4,7 persen).
Tenaga Kerja 
Tingkat pengangguran di negara bagian ini mencapai 5,6 persen. Angka ini menunjukkan kemajuan setelah pada tahun sebelumnya pengangguran tercatat pada angka 5,8 persen.
 
Sumber: DFAT Stars database, ABS Catalogue Nos. 1350.0 dan 5220.0
 
 
Gambaran Umum EkonomI Tasmania
 
a. Kebijakan Ekonomi Tasmania
 
Setelah mengalami periode yang sulit akibat penerapan GST pada awal tahun 2001, perekonomian Tasmania di tahun 2002 mengalami perbaikan yang cukup substansial. Paket stimulus fiskal yang dikeluarkan oleh Pemerintah negara bagian telah memberikan pengaruh positif pada ekonomi Tasmania secara keseluruhan. Perbaikan perekonomian Tasmania juga disebabkan oleh karena adanya berbagai proyek infrastruktur sebesar A$ 1,5 milyar.
 
Walaupun melambatnya perekonomian dunia tidak terlalu berpengaruh pada perekonomian Tasmania, namun karena komposisi perekonomian Tasmania sebagian besar merupakan aktivitas di luar negara bagian (20 persen internasional, 30 persen nasional dan 50 persen negara bagian) maka pengaruh melambatnya perekonomian tersebut masih tetap dapat dirasakan.
 
b. Indikator- Indikator Ekonomi
 
Seperti juga untuk negara bagian Victoria, indikator-indikator ekonomi utama untuk Tasmania terdiri atas data mengenai pendapatan negara bagian bruto (gross state product), perdagangan, kependudukan, dan tenaga kerja.
 
Indikator-indikator untuk 2004
 
 
Indikator
Angka dan Keterangan
Penduduk 
Jumlah penduduk Tasmania pada akhir 2004 adalah 481.658 jiwa.
GSP 
GSP nominal pada akhir 2004 adalah A$14.283 juta (US$11,142 juta) atau 1,7 persen dari GDP Australia. Tingkat pertumbuhan ekonomi riil tercatat pada angka 3.0 persen pada akhir 2004 yang merupakan peningkatan dari 2.6 persen setahun sebelumnya.
GSP per kapita 
GSP nominal per kapita untuk Tasmania adalah A$29.654 per kapita. Kenaikan riilnya adalah 1,8 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Perdagangan 
Ekspor barang dari Tasmania mencapai A$2.312 juta yang merupakan 2,1 persen dari total ekspor barang Australia. Sedangkan sektor jasa mencatat angka A$186 juta, yaitu 0,5 persen dari total ekspor jasa. Ekspor barang dari Tasmania terutama adalah dalam aluminium, besi, daging, tembaga, keju dan kertas. Yang menjadi negara-negara tujuan utama adalah Jepang, Hong Kong, Amerika Serikat, Korea Selatan dan Cina. Impor barang ke Tasmania terutama adalah untuk produk-produk kapal, kertas dan pulp, mesin pabrik, pupuk, makanan ternak dan pipa baja yang seluruhnya mencapai angka A$669 juta pada tahun 2004. Angka ini adalah sekitar 0,5 persen dari total impor barang ke Australia. Di lain pihak, impor jasa tercatat pada angka A$162 yang merupakan 0,5 persen dari total impor jasa. Negara-negara sumber utama impor ke Tasmania adalah Indonesia, Jerman, Amerika Serikat, Denmark dan Singapura.
Tenaga Kerja 
Tingkat pengangguran di Tasmania adalah 6,9 persen yang menunjukkan penurunan signifikan setelah pada tahun 2003 tercatat pada angka 8,8 persen.
 
Sumber: DFAT Stars database, ABS Catalogue Nos. 1350.0 dan 5220.0
 
 
 
Hubungan Ekonomi Victoria dan Indonesia
 
Hubungan ekonomi yang terjalin antara Victoria dengan Indonesia meliputi beberapa sektor yaitu ekspor-impor, investasi, pariwisata dan kerjasama tehnik
 
a. Perdagangan
 
Berdasarkan data tahun 2004 Australian Bureau of Statistic (ABS), volume nilai ekspor Victoria ke Indonesia di tahun 2004 mencapai nilai sebesar A$ 474,407,873 yang merupakan peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu A$373 juta. Sementara itu total impor dari Indonesia tahun 2004 sebesar A$926,344,859. Ekspor Victoria ke Indonesia terutama adalah dalam produk susu (dairy products), bahan mineral, aluminium, daging dan bahan dasar industri sedangkan impor dari Indonesia masih didominasi komoditi oleh minyak dan gas, namun hubungan dagang tersebut dalam beberapa tahun terakhir sudah mulai mengalami diversifikasi karena meluasnya kebutuhan di masing-masing negara. Produk-produk Indonesia dari sektor non migas seperti mie instant, peralatan plastik, kayu, produk kulit, kertas dan peralatan listrik serta suku cadangnya telah banyak memasuki pasar Victoria.
 
Dalam upaya memberi dorongan para pelaku bisnis Indonesia di Negara Bagian Victoria, KJRI Melbourne bekerjasama dengan dua mahasiswa Melbourne Business School (MBS) melakukan riset pasar sekitar 3 bulan dari bulan Juli s/d September 2004 terhadap 3 sektor yang dinilai potensial, yaitu sektor furnitur termasuk kerajinan, sektor produk makanan dan sektor produk tekstil. Dari hasil riset yang telah disempurnakan melalui masukan yang diperoleh dalam seminar, telah disusun sebuah buku “Paduan Bisnis di Negara Bagian Victoria-Australia: Furnitur dan Kerajinan, Produk Pangan, Produk Garmen dan Tekstil” dan telah disebarluaskan ke Kadin, Pemerintah Daerah dan UKM di seluruh Indonesia sebanyak 1500 eksemplar.
 
Secara umum dapat disimpulkan bahwa Indonesia masih berpeluang untuk memperluas pangsa produk Indonesia di pasar Victoria terutama di bidang furnitur, tekstil dan produk makanan, walaupun harus diakui produk Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan produk dari Cina, Thailand dan Malaysia. Umumnya produk furnitur dam tekstil, Indonesia unggul di segmen menengah ke atas.
 
b. Investasi
 
Pendataan investasi perusahaan dari Victoria di Indonesia yang dilakukan oleh KJRI hanya dapat dilakukan berdasarkan jumlah permintaan informasi maupun expression of interest untuk berinvestasi. Selain itu, Australian Bureau of Statistics tidak secara spesifik melakukan pencatatan outbound investment dari negara bagian Victoria. KJRI Melbourne mencatat bahwa investasi yang dilakukan perusahaan dari Victoria di Indonesia pada umumnya masih berskala kecil dengan proyek investasi umumnya di bawah A$100.000. Investasi tersebut dilakukan di bidang penyediaan jasa maupun usaha perdagangan eceran dan ekspor impor.
 
Di lain pihak, investasi Indonesia di Australia sebagian besar dilakukan melalui skema business migration investment, yaitu migrasi dengan motif investasi. Berdasarkan pengamatan KJRI Melbourne, bidang investasi yang dilakukan oleh WNI di Australia meliputi bidang-bidang usaha kecil sampai menengah seperti penjualan retail, ekspor-impor, penyediaan jasa konsultansi dan usaha di bidang rumah makan.
 
c. Pariwisata
 
Di bidang pariwisata, Bali, masih merupakan tujuan wisata yang paling diminati wisatawan Australia. Disamping itu, daerah tujuan wisata lain yang cukup diminati adalah Lombok, Yogyakarta dan Jakarta. Sejauh ini, KJRI Melbourne telah menjalin hubungan kerja sama dengan berbagai travel agents, tour operators dan asosiasi-asosiasi terkait setempat melalui pengiriman majalah dan brosur mengenai pariwisata di Indonesia. Diharapkan, pada waktu yang tepat dan dengan didukung oleh bahan-bahan promosi pariwisata yang memadai, dapat dilakukan serangkaian kegiatan promosi terpadu di bidang pariwisata.
 
Potensi daerah tujuan wisata bertaraf internasional di Indonesia yang masih belum tersebar secara merata di seluruh wilayah Indonesia merupakan salah satu kendala utama. Konsentrasi daerah tujuan wisata utama masih terfokus pada Bali. Sedang daerah tujuan wisata potensial lain seperti Yogyakarta dan Lombok, belum sepenuhnya dapat bersaing dengan Bali.
 
d. Kerjasama Teknik
 
Sejak tahun 2002, Pemerintah Victoria telah merubah orientasi kerjasamanya dengan negara-negara tetangga dan memilih untuk menjalin hubungan yang lebih kuat dengan negara-negara yang dinilai dapat memberikan benefit atau keuntungan bagi Negara Bagian Victoria, baik dari segi perdagangan, investasi dan kerja sama teknik. Orientasi kerja sama yang saat ini dilakukan oleh Negara Bagian Victoria adalah menjalin hubungan dengan Asia Timur, khususnya Cina.
 
Victorian Government Business Office (VGBO) di Jakarta didirikan pada bulan Desember 1994, namun penutupannya pada bulan Juni 2002 telah memberikan dampak yang cukup besar bagi hubungan kerja sama, khususnya kerja sama teknik Indonesia- Negara Bagian Victoria oleh karena inisiatif kerja sama teknik pada umumnya merupakan hasil negosiasi VGBO dengan Pemerintah Indonesia.
 
Namun demikian, seperti pada tahun-tahun sebelumnya, Negara Bagian Victoria juga merupakan tempat pelaksanaan kerja sama teknik pada tingkat nasional atau g overnment to government Australia-Indonesia. Kerja sama dimaksud dikembangkan di bawah skema Overseas Development Assistance (ODA) yang diberikan oleh Pemerintah Australia dan berbagai Lembaga Internasional seperti World Bank, Asia Development Bank (ADB) dan Islamic Development Bank (IDB).
 
Dua program utama Bantuan Luar Negeri/ODA Pemerintah Australia kepada Pemerintah Indonesia di bidang kerja sama teknik yang diselenggarakan di berbagai lembaga pendidikan di Melbourne adalah berupa pelatihan maupun beasiswa pendidikan melalui Australia Development Scholarship (ADS) dan Indonesia Australia Specialised Training Project (IASTP).
 
Hubungan Ekonomi Indonesia-Tasmania
 
Hubungan ekonomi yang terjalin antara Victoria dengan Indonesia meliputi beberapa sektor yaitu ekspor-impor, investasi, pariwisata dan kerjasama tehnik.
 
a. Ekspor Impor
 
Data Department of Economic Development Tasmania tahun 2004, perdagangan bilateral antara Indonesia dengan negara bagian Tasmania, ekspor Tasmania ke Indonesia sebesar A$ 76, 79 juta menurun dibandingkan tahun 2003 sebesar 101 juta dan impor dari Indonesia sebesar A$ 56,223. Produk ekspor utama Tasmania ke Indonesia meliputi processed metals dan metal products; dan produk makanan.
 
b. Investasi
 
Di bidang investasi, seperti halnya dengan investasi negara bagian Victoria di Indonesia, pendataan investasi perusahaan negara bagian Tasmania di Indonesia sangat sulit untuk dilakukan.
 
c. Pariwisata
 
Berdasarkan pengamatan KJRI, terdapat sejumlah wisatawan dari Tasmania yang melakukan kunjungannya ke Indonesia khususnya Bali. Namun, jumlah wisatawan Tasmania tidak dapat dicatat oleh karena point of departure internasional bagi Tasmania adalah Melbourne.

Kegiatan di Bidang Ekonomi KJRI Melbourne

a. Australia Indonesia Business Council (AIBC) Chapter Victoria
 
AIBC adalah suatu lembaga yang bertujuan meningkatkan hubungan dagang bilateral antara Indonesia dengan Australia. AIBC memiliki counterpart di Indonesia yaitu the Indonesia-Australia Business Council (IABC). AIBC memiliki chapter (cabang) di setiap negara bagian di Australia. AIBC Melbourne diketuai oleh Mr. Philip Morrey dan beranggotakan corporate members dan individual members yang memiliki kepentingan usaha dengan Indonesia.
 
Kegiatan-kegiatan AIBC di Melbourne meliputi networking, seminar dan business missions yang diselenggarakan bekerjasama dengan Konsulat Jendral RI di Melbourne. Dalam waktu tiga bulan terakhir terdapat peningkatan jumlah anggota yang cukup signifikan dari 25 anggota menjadi 41 anggota. Peningkatan ini merupakan bentuk nyata upaya-upaya KJRI Melbourne untuk memperkuat dan meningkatkan kerjasama ekonomi antara Indonesia dengan Australia, khususnya negara bagian Victoria.
 
b. Perwakilan KADIN di Melbourne
 
Kantor perwakilan KADIN di Melbourne dibuka pada tanggal 9 Februari 2004 oleh Ketua Umum pada waktu itu, Bapak Aburizal Bakrie. Perwakilan ini adalah yang pertama bagi KADIN di luar Indonesia dan dikepalai oleh Mr. Robert Murdoch untuk menjalankan berbagai kegiatan promosi dan kerjasama di bidang perdagangan. Kota Melbourne dipilih terutama karena potensi dan peluang kerjasama yang sangat besar dengan Indonesia.
 
c. Indonesia Business Forum in Melbourne (IBF-M Inc)
 
Bersamaan dengan dibukanya kantor perwakilan KADIN di Melbourne pada tanggal 9 Februari 2004, pembentukan IBF-M dideklarasikan. Deklarasi ini merupakan hasil pertemuan dari kalangan pengusaha Indonesia pada tanggal 6 Februari 2004 yang difasilitasi oleh Konsulat Jendral RI di Melbourne. Bersama-sama dengan Kepala Bidang Ekonomi dari KJRI Melbourne, kelima formatur tersebut melakukan persiapan-persiapan yang diperlukan seperti aspek organisasi dan usaha serta pelaksanaan rapat umum dari IBF-M. Formal launching dari IBF-M dilaksanakan pada tanggal 10 Mei 2004 dengan dihadiri 170 pengusaha dari Indonesia dan Australia.
 
d. Perwakilan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di Melbourne
 
Kantor BKPM Pusat di Jakarta telah menugaskan pejabatnya di Australia guna meningkatkan investasi pengusaha Australia di Indonesia. Saat ini, Bapak Guyub S. Wiroso tengah ditugaskan di Melbourne sebagai wakil BKPM di Victoria setelah sebelumnya ditugaskan di Sydney, NSW. Pengalihan penugasan ini sejalan dengan semakin besarnya potensi investasi dan peluang kerjasama Victoria dengan Indonesia yang perlu ditingkatkan. Selama ini, KJRI Melbourne bekerjasama dengan pihak perwakilan BKPM dalam menindaklanjuti permintaan investasi dan perdagangan dari pengusaha Victoria.