INDONESIA DAN FILIPINA MENJADI ICON DEMOKRASI DI ASIA TENGGARA

Demikian disampaikan Wakil Kepala Perwakilan RI (Wakeppri) pada KBRI Manila, Abdullah Hariadi Kusumaningprang, mewakili Duta Besar RI untuk Republik Filipina dalam sambutan pembukaan pada “Forum on Democracy and Political Violence: Lessons from Indonesia and Philippines” di Heritage Hotel, Manila pada hari Selasa tanggal 3 Nopember 2009.
 
Wakeppri mengatakan bahwa Indonesia dan Filipina kini menjadi bagian dari daftar negara-negara demokratis di dunia. Indonesia merupakan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah India dan Amerika Serikat. Dalam konteks regional, Indonesia dan Filipina merupakan icon demokrasi yang mengalami kemajuan signifikan di kawasan Asia Tenggara. Indonesia dan Filipina dapat saling belajar dari pengalamannya masing-masing untuk menjalankan agenda demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
 
Dalam presentasinya, para narasumber pada forum diskusi tersebut menguraikan perkembangan kehidupan demokrasi di awal era reformasi di Indonesia dan pasca berlakunya martial law di Filipina khususnya terkait dengan penyelenggaraan pemilu dan munculnya aksi-aksi kekerasan. Disampaikan juga paparan mengenai reformasi sektor keamanan sesuai konteks perkembangan demokrasi di Indonesia. Pada sesi tanya jawab, terjadi diskusi interaktif mengenai praktek penyelenggaraan pemilu di Indonesia dan Filipina, isu demokrasi kontemporer pada era reformasi di Indonesia, pengaruh budaya lokal dalam membentuk karakter demokrasi yang khas di masing-masing negara, dan munculnya aksi-aksi kekerasan politik pada pelaksanaan pemilu serta isu extrajudicial killing di Filipina.  
 
 “Forum on Democracy and Political Violence: Lessons from Indonesia and Philippines” merupakan kegiatan forum diskusi akademik yang ketiga kalinya diselenggarakan KBRI Manila selama tahun 2009 dalam rangka memperingati 60 tahun hubungan diplomatik Republik Indonesia-Republik Filipina. Forum tersebut kali ini diselenggarakan atas co-sponsorship antara KBRI Manila dengan Asian Center, University of the Philippines (UP)-Diliman dan Social Science (Area Studies), UP-Manila.
 
Dua narasumber hadir dari Indonesia, yakni Prof. Dr. Djohermansyah Djohan (Deputi Seswapres RI Bidang Politik) dan Prof. Anak Agung Banyu Perwita, Ph.D (FISIP Universitas Katolik Parahyangan Bandung). Sedangkan dua narasumber dari Filipina adalah Mr. Ricardo F. Blancaflor (Departemen Kehakiman) dan Prof. Mehol K. Sadain (Dosen UP dan mantan Komisioner pada Komisi Pemilihan Umum Filipina/COMELEC). Acara forum diskusi mendapat sambutan positif dan dihadiri sekitar lebih dari 100 orang yakni pejabat pemerintah, mahasiswa dan akademisi, LSM dan media.