Amanat Duta Besar RI selaku Inspektur Upacara pada Upacara Peringatan Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 2009

12/8/2009

 

Bismillahirrahmanirahim,
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Ibu-ibu; Bapak-bapak;
Para sesepuh dan tokoh masyarakat Indonesia;
Saudara-saudari sebangsa dan setanah air,
Para hadirin semua yang saya hormati,

Pertama-tama, puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena pada hari ini kembali kita merayakan hari kemerdekaan kita --- yakni hari kemerdekaan Indonesia yang ke-64.

Pada hari yang mulia ini --- ketika kita semua bergembira dan bersyukur atas nikmat dan karunia kemerdekaan yang kita miliki --- perlu kiranya bagi kita untuk sejenak merenung dan berkontemplasi!

Pertama, kemerdekaan jelas adalah sebuah rahmat Tuhan YME yang sangat mahal harganya dan tak habis-habisnya kita syukuri;

Kemerdekaan pun pada dasarnya adalah sebuah nilai yang hakiki!

Tanpa kemerdekaan, suatu bangsa jelas akan terus dijajah dan dieksploitir oleh bangsa lain. Sebaliknya, dengan memiliki kemerdekaan nasional, kita dapat terbebas dari belenggu penjajahan dan penindasan bangsa lain, serta dapat menatap dan bekerja keras untuk mewujudkan hari depan kita yang lebih baik dan lebih gemilang.

Sudah sama kita maklumi bahwa para pahlawan dan pendiri bangsa kita telah begitu banyak memberikan pengorbanan mereka --- baik darah, air mata, harta dan bahkan nyawa sekali pun --- untuk memperjuangkan dan mewariskan kemerdekaan bagi kita semua.

Oleh karena itu, adalah kewajiban kita bersama untuk memberikan penghormatan dan penghargaan kepada para pahlawan kita itu, dengan cara menjaga keutuhan dan kedaulatan Indonesia sebagai bangsa dan negara, serta dengan komitmen kita untuk selalu bekerja keras bersama untuk mewujudkan cita-cita proklamasi kemerdekaan, yakni kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam bingkai pemahaman seperti ini, sangat tepat kiranya tema peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI pada tahun 2009 ini, yaitu: “Dengan semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, kita tingkatkan kedewasaan kehidupan berpolitik dan berdemokrasi serta kita percepat pemulihan ekonomi nasional menuju Indonesia yang bersatu, aman, adil, demokratis dan sejahtera.”

Ibu-ibu, Bapak-bapak dan Saudara-saudari sekalian yang saya cintai,

Kita patut bersyukur bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa telah menakdirkan bahwa bangsa dan negara kita adalah bangsa dan negara yang besar, paling tidak ditinjau dari perspektif “elements of power”.

Dari sisi luas wilayah atau span of territory, wilayah Indonesia setara dengan jarak dari London ke Moskow.

Penduduk Indonesia berjumlah 238 juta dan karena itu Indonesia menyandang predikat negara berpenduduk terbesar ke empat di dunia dan juga sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia.

Banyak diantara kita yang mungkin belum mengetahui bahwa produk domestik bruto atau gross national product (GNP) Indonesia pada tahun 2009 ini mencapai sekitar US $ 510 milyar. Itu artinya, ekonomi Indonesia adalah enam kali lebih besar dari Vietnam atau hampir dua kali lebih besar dari Thailand.
Belum lagi jika ditinjau dari jumlah kelas menengah yang kita miliki. Kelas menengah di Indonesia tidak kurang dari 26 juta jiwa, yakni setara dengan jumlah penduduk Malaysia dan lebih besar dari jumlah penduduk Australia.

Dengan kata lain, ditinjau dari perspektif penduduk kita yang besar jumlahnya, kekayaan alam yang melimpah, serta letak wilayah Indonesia yang strategis, yakni di persimpangan jalan yang menghubungkan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, semua itu menempatkan Indonesia dalam kedudukan yang penting dan strategis dalam pergaulan antar bangsa. Apalagi saat ini negara dan bangsa kita pun merupakan bukti hidup (living proof) bahwa Islam dapat hidup berdampingan secara harmonis dengan demokrasi dan modernitas.

Dalam kaitan ini, menarik untuk disimak hasil kajian sebuah lembaga think tank di Australia (yakni ASPI/Australian Strategic Planning Institute) yang pada tahun 2008 menerbitkan laporan berjudul “Seeing Indonesia as a normal country”.

Di dalam laporan ASPI tersebut, disimpulkan bahwa Indonesia adalah sebuah negara demokrasi yang stabil; dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang solid; memiliki kepemimpinan nasional yang kompeten; memainkan peran konstruktif dalam percaturan politik internasional; dan memiliki pula rekam jejak (track record) yang cukup berhasil dalam mengatasi ancaman terorisme.

Memperhatikan fakta-fakta positif tentang keadaan Indonesia saat ini, maka kita semua kiranya perlu bersyukur dan kita pun harus melangkah dengan lebih tegar, lebih yakin dan dengan penuh percaya diri dalam upaya kita mewujudkan berbagai tujuan nasional yang dicita-citakan. Melalui kerja keras kita bersama, melalui tekad dan semangat yang tinggi serta dengan rahmat dan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, insyaallah bangsa dan negara kita akan mampu mencapai tingkat kemajuan dan kemakmuran Indonesia yang lebih tinggi lagi.

Hadirin sekalian yang saya hormati,

Perlu saya sampaikan bahwa Indonesia harus dimengerti sebagai sebuah “imagined community”. Artinya, Indonesia adalah sebuah konsep yang hidup di dalam alam pikiran dan di dalam hati kita.

Dalam pengertian ini, rasa ke-Indonesia-an perlu terus kita bina, kita segarkan dan kita perkuat. Salah satu cara untuk memperkokoh rasa ke-kita-an dan rasa ke-Indonesia-an itu adalah dengan memastikan adanya keadilan sosial (social justice) dan kesejahteraan (welfare) di dalam masyarakat.

Banyak pengamat sosial berpendapat bahwa rasa ke-Indonesia-an akan cenderung melemah jika ada jurang yang terlalu lebar antara apa yang dicita-citakan bersama (the ideal) dan apa yang merupakan realitas kehidupan kita sehari-hari (the reality). Dengan kata lain, demi mempererat ikatan ke-Indonesia-an kita itu, maka jurang antara the ideal dan the reality harus senantiasa diperkecil.

Dalam konteks inilah kita semua patut bersyukur bahwa sistem demokrasi telah semakin kokoh terkonsolidasi di tanah air. Melalui platform demokrasi yang semakin matang ini saya yakin insyaallah Indonesia akan mampu menghadirkan tingkat kesejahteraan dan keadilan sosial yang lebih tinggi di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dalam kesempatan ini, perlu kita renungkan bersama pandangan Presiden Yudhoyono tentang demokrasi yang beliau sampaikan dalam sambutan pembukaan Bali Democracy Forum pada tanggal 10 Desember 2008 yang lalu.

Presiden Yudhoyono antara lain menegaskan bahwa cara terbaik untuk mematangkan demokrasi adalah melalui penguatan kelembagaan dan penghormatan terhadap supremasi hukum. Disamping itu, pematangan demokrasi memerlukan pula pengembangan sikap toleransi (tolerance), kemajemukan (pluralism) dan budaya politik yang tepat (appropriate political culture) guna memperkokoh kehidupan demokrasi itu sendiri.

Pada tahun 2009 ini, kita patut berbangga hati bahwa Pemilu legislatif April 2009 yang lalu dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden bulan Juli 2009 yang lalu telah berlangsung dengan aman, damai dan selamat.

Kita bersyukur bahwa bangsa Indonesia telah semakin dewasa karena para pemimpinnya mampu bersikap legowo --- yakni siap untuk menang dan juga siap untuk kalah dalam pemilu.

Perlu diakui bahwa penyelenggaraan pemilu kita masih ditandai oleh berbagai kekurangsempurnaan. Hal ini dapat dimengerti mengingat besarnya tantangan teknis dan logistik yang kita hadapi. Tidak kurang pemilu kita melibatkan sekitar 171 juta pemilih, 450 ribu polling stations, sistem penandaan yang baru serta dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia ---dari Sabang sampai Merauke. Namun ke depan kita yakini pasti berbagai kekurangan itu akan dapat diperbaiki bersama.

Dalam kaitan ini, adalah konsensus nasional yang patut kita banggakan bahwa para pemimpin kita sepakat untuk menyelesaikan berbagai sengketa pemilu (election disputes) melalui koridor hukum yang telah tersedia. Demikian pula merupakan keyakinan dan harapan kita bersama bahwa rangkaian pemilu 2009 akan menghasilkan parlemen dan kepemimpinan nasional yang amanah, jujur, solid dan kompeten, guna membawa kita semua ke tingkat kemakmuran dan kemajuan nasional yang lebih tinggi lagi.

Saudara-saudari yang saya muliakan,

Dalam penyampaian keterangan pemerintah atas RUU tentang APBN 2010 beserta nota keuangannya di muka rapat paripurna luar biasa DPR RI tanggal 3 Agustus 2009 yang lalu, Presiden Yudhoyono antara lain menyampaikan bahwa Indonesia secara aktif mengikuti perkembangan krisis finansial global dan melakukan langkah-langkah antisipasi dan tindakan-tindakan yang cepat, tepat dan terukur agar perekonomian Indonesia dapat selamat dari krisis tersebut. Presiden Yudhoyono yakin Indonesia tidak akan mengalami “melt down” seperti tahun 1998 karena fundamental ekonomi RI cukup kuat. Ditegaskan pula oleh Presiden Yudhoyono insyaallah pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap berada pada zona positif, yakni 4 hingga 4,5% pada tahun 2009 ini dan 5% pada tahun 2010.

Tanpa bermaksud untuk bertepuk dada, apalagi bersikap self complacent, kiranya perlu kita apresiasi data-data ekonomi RI antara lain sebagai berikut:

• Indonesia saat ini adalah negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi nomor tiga di Asia setelah China (7,9%) dan India (5,8%);
• Dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita di ASEAN, pertumbuhan ekonomi Indonesia (sebesar 4 - 4,5%) jauh di atas Singapura (minus 5%), Malaysia (0,2%), Thailand (2%), Vietnam (1,6 %) dan Filipina (0% atau flat growth);
• Cadangan devisa Indonesia sebesar US $ 57 milyar mampu membiayai impor selama 6 bulan;
• Belajar dari kiris ekonomi Asia 1997, berbagai bank di Indonesia kini semakin prudent ditandai antara lain dengan capital adequacy ratio (CAR) yang sehat yakni 17,3% dan non performing loans (kredit macet) kurang dari 5%;
• Pada tahun 2008 berbagai BUMN di tanah air (sekitar 138 jumlahnya) mencapai keuntungan usaha yakni US $ 8 milyar;
• Indonesia pada tahun 2008 berhasil mencapai swasembada pangan dan pada tahun 2009 ini pemerintah berusaha keras untuk mempertahankan prestasi itu walaupun disadari pada akhir tahun 2009 akan terjadi fenomena El Niño yang akan mengakibatkan kekeringan.

Memperhatikan data-data ekonomi Indonesia ini, insyaallah kita optimis bahwa Indonesia akan mampu bertahan dari berbagai gejolak negatif akibat krisis ekonomi global saat ini. Disamping itu, dengan langkah-langkah kebijakan yang responsif dan tepat, disertai upaya dan kerja keras, kita yakin Indonesia akan tetap mampu mengelola perekonomian dan iklim usahanya yang relatif stabil dan baik.

Hadirin sebangsa dan setanah air,

Sebagaimana kita maklumi bersama, pada tanggal 17 Juli 2009 yang lalu terjadi kembali peledakan dua bom di Jakarta oleh kelompok teroris yang biadab dan perlu kita basmi bersama.

Kembali Indonesia berduka dan dalam kesempatan ini kami ingin menyampaikan sekali lagi simpati dan bela sungkawa bagi para korban yang tak berdosa dan keluarga mereka.

Dalam kaitan ini, keberhasilan kongkrit yang dicapai Polri dalam mengungkap pelaku dan otak kejahatan terorisme --- yakni melalui penyergapan di Jawa Tengah dan Jawa Barat baru-baru ini --- insyaallah akan memulihkan kepercayaan internasional kepada kondisi keamanan Indonesia.

Ibu-ibu, Bapak-bapak dan Saudara-saudari sekalian yang muliakan,

Kejadian serangan teroris ini semula menimbulkan kekhawatiran terjadinya “capital flight” dari Indonesia dan hilangnya kepercayaan investor terhadap negara kita.

Syukur alhamdulillah ternyata pasar (market) tetap percaya pada Indonesia; modal (capital) tidak ada yang lari dan investasi asing tetap tinggi di negara kita.

Kenapa pasar tetap percaya kepada Indonesia? Hal ini karena beberapa faktor antara lain: pertama, hampir seluruh emerging economies mengalami tantangan politik/keamanan yang tidak lebih ringan dari Indonesia, misalnya China (saat ini masih menghadapi isu konflik etnis di Xin Jiang), India (tahun lalu ada serangan teroris di Mumbai), negara-negara ASEAN (seperti Malaysia, Thailand dan Filipina) justru dinilai oleh pasar lebih rentan kondisi stabilitas politik dan keamanannya daripada Indonesia.

Kedua, pasar juga melihat bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup solid dan kokoh; ketiga, keberhasilan pemilu 2009 diyakini oleh pasar akan semakin memperkuat stabilitas Indonesia dan pengelolaan ekonomi negara kita.

Dengan demikian, salah satu pelajaran yang dapat kita tarik adalah bahwa perekonomian Indonesia pada dasarnya cukup resilient, bahkan dalam menghadapi gejolak akibat serangan teroris di Jakarta tanggal 17 Juli 2009 yang lalu.

Saudara-saudari sekalian yang saya banggakan,

Dalam penyelenggaraan hubungan dan politik luar negeri RI, kiranya kitapun patut berbangga hati. Dalam pidato kenegaraan tanggal 14 Agustus 2009, Presiden Yudhoyono menegaskan bahwa dunia kini memandang Indonesia sebagai tauladan, baik sebagai negara demokrasi ketiga terbesar di dunia, sebagai jembatan antara Islam dan Barat, sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, sebagai negara yang sukses melakukan transformasi, maupun sebagai negara yang menjunjung kebebasan, pluralisme dan toleransi. Tidaklah mengherankan kalau semakin banyak negara-negara di dunia yang ingin bersahabat dan bekerja-sama dengan Indonesia, sebagaimana kita juga ingin bersahabat dengan mereka.

Sekarang, Indonesia dapat dengan leluasa menempuh ”all directions foreign policy”, dimana kita dapat menjalin hubungan persahabatan dengan pihak manapun untuk kepentingan nasional kita --- apakah Timur, Barat, Utara, dan Selatan. Kita dapat bebas berkiprah menjalankan diplomasi “sejuta kawan, dan tak ada musuh” (a million friends, zero enemy), karena logikanya, semakin banyak kita berkawan dan bersahabat, semakin aman dan sejahtera bangsa Indonesia. Semua ini tentunya dilakukan atas dasar kemandirian, kedaulatan, kesetaraan, dan prinsip saling menguntungkan.

Indonesia akan selalu berpartisipasi dalam upaya untuk menciptakan tatanan dunia yang lebih aman dan lebih damai. Karena itulah, Indonesia aktif memelopori dan mendorong realisasi terbentuknya Komunitas ASEAN. Indonesia juga akan konsisten dalam mengimplementasikan Piagam ASEAN, yang akan mentransformasikan ASEAN dan memperkokoh stabilitas di Asia Tenggara. Indonesia juga dengan giat membangun Kemitraan Strategis dengan berbagai negara sahabat: antara lain dengan Australia, Afrika Selatan, Brasil, China, India, Jepang, Korea Selatan, Pakistan dan Rusia.

Dalam kaitan ini, diantara kiprah politik luar negeri RI yang kiranya cukup membanggakan antara lain:

• Keberhasilan Indonesia sebagai anggota DK PBB 2007-2008;
• Peran konstruktif Indonesia di forum G 20;
• Peran Indonesia dalam penanganan isu global warming melalui penyelenggaraan UN Conference on Climate Change yang berhasil menelorkan Bali Road Map;
• Komitmen Indonesia untuk terus membantu perjuangan bangsa Palestina guna mewujudkan cita-citanya menjadi negara yang merdeka, berdaulat dan utuh;
• Peran Indonesia dalam pengembangan mekanisme HAM regional di lingkungan ASEAN;
• Peran Indonesia sebagai penyelenggara World Ocean Conference; dan
• Kesinambungan keikutsertaan TNI dalam UN Peace Keeping Missions di berbagai belahan dunia.

Ibu-ibu, Bapak-bapak dan Saudara-saudari yang saya hormati,

Indonesia memandang penting hubungannya dengan Inggris; dan sebaliknya Inggris pun melihat potensi besar yang dimiliki Indonesia. Dalam kaitan ini, Inggris dan Indonesia adalah sesama negara demokrasi dan kata orang “democracies do not fight each other but they help one another”.

Terkait dengan hubungan bilateral Indonesia – Inggris, kita cukup berbangga bahwa hubungan kedua negara terus meningkat di berbagai bidang:

• Inggris adalah investor kedua terbesar di Indonesia dengan total investasi US $ 39 milyar sejak tahun 1967;
• Inggris adalah salah satu sumber pengetahuan bagi warga RI mengingat banyaknya mahasiswa Indonesia yang belajar di negeri ini;
• Turis Inggris banyak berkunjung ke Indonesia yakni sekitar 160 ribu orang setiap tahun dan terus kita upayakan peningkatan jumlahnya;
• Perdagangan bilateral RI–Inggris mencapai US $ 2,6 milyar (di 2008) dimana Indonesia menikmati surplus perdagangan sejak lima tahun terakhir rata-rata US $ 700 juta – US $ 1 milyar pertahun.

Adalah tugas dan komitmen KBRI London untuk meningkatkan persahabatan dan kerjasama RI–Inggris di segala bidang. Dalam kaitan ini, KBRI London melakukan langkah-langkah antara lain:

• Menyukseskan saling kunjung pejabat tinggi kedua negara seperti misalnya kunjungan Presiden RI ke London guna menghadiri KTT G20 pada bulan April 2009 yang lalu dan kunjungan Pangeran Charles ke Indonesia pada bulan Oktober 2008;
• KBRI membina jejaring persahabatan dan hubungan kerja yang erat dengan berbagai tokoh masyarakat Inggris baik di lingkungan pemerintahan, parlemen, pengusaha, partai politik, think tank, media, universitas dan juga NGOs;
• KBRI berusaha untuk secara maksimal berpihak, membela serta melindungi setiap WNI dan Badan Hukum Indonesia yang mengalami masalah dan kesulitan hukum di Inggris dan Irlandia, yakni dengan mengacu pada ketentuan dan praktek hukum nasional maupun hukum internasional yang berlaku;
• Guna mendorong kerjasama ekonomi bilateral, KBRI berupaya untuk mencari peluang pasar bagi produk-produk Indonesia baik melalui pelaksanaan market research, penyelenggaraan business and investment forums, keikutsertaan dalam berbagai pameran dagang dan juga dengan menyepakati pembentukan “sea food trade corridor” untuk mendapatkan entry point bagi produk-produk perikanan Indonesia di pasar domestik Inggris.
• Guna memagari kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI, KBRI London melakukan strategi komunikasi dengan berbagai stakeholders di Inggris guna menyampaikan perkembangan terkini tentang Papua sehingga terbangun pengertian yang lebih baik dan dapat dihindari salah pengertian;
• Guna mendorong peningkatan turis Inggris ke Indonesia, KBRI secara berkala menyelenggarakan business meeting (khusus sektor wisata), memfasilitasi keikutsertaan Indonesia dalam World Travel Mart di London, mengirimkan travel writers ke Indonesia, menyelenggarakan Indonesian cultural events dan kegiatan-kegiatan lainnya;
• Di bidang kerjasama pendidikan, KBRI terus mengupayakan university to university cooperation, kerjasama riset, serta peluang bea siswa dan pelatihan yang lebih besar bagi warga Indonesia di berbagai universitas di Inggris;
• Guna peningkatan citra baik Indonesia, KBRI aktif mendekati kalangan media, kalangan NGOs dan selalu menjawab surat-surat yang memuat pandangan miring tentang Indonesia agar tercipta gambaran yang lebih objektif tentang negara kita;
• Melalui kantor Atase Pertahanan, KBRI London terus berupaya untuk meningkatkan hubungan kerjasama antara angkatan bersenjata kedua negara, baik dalam kerangka memperoleh suku cadang bagi pemeliharaan kemampuan operasional maupun pengembangan alat utama sistem pertahanan TNI, pendidikan dan pelatihan serta dalam tukar menukar informasi dan kerjasama dalam memerangi terorisme;
• KBRI juga mewakili dan memperjuangkan kepentingan Indonesia dalam perundingan di berbagai forum internasional yang bermarkas di London seperti International Maritime Organization (IMO), International Cocoa Organization (ICCO) dan International Coffee Organization (ICO);
• Guna mendorong pemahaman warga Inggris terhadap Indonesia, KBRI melakukan pula kegiatan-kegiatan sosial budaya seperti pengenalan film Indonesia, kursus bahasa Indonesia gratis, keikutsertaan dalam berbagai festival seni serta membangun kerjasama dengan berbagai museum.

Bapak-Ibu dan Hadirin sekalian yang saya cintai,

Terlepas dari upaya-upaya KBRI London termaksud di atas, kami menyadari sepenuhnya bahwa upaya peningkatan hubungan bilateral Inggris–Indonesia dan juga Irlandia–Indonesia tidak akan mungkin maksimal tanpa adanya “diplomasi total” yang melibatkan seluruh komponen masyarakat Indonesia baik yang berada di Inggris maupun Irlandia.

Dalam kaitan ini, kami ingin menyampaikan penghargaan kepada seluruh perwakilan lembaga perbankan dan BUMN di London yang telah bekerjasama erat dengan KBRI guna melaksanakan joint program untuk menggali peluang kerjasama Indonesia–Inggris di berbagai bidang.

Kami pun ingin menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan harapan kami pada seluruh masyarakat Indonesia di Inggris dan Irlandia:

• Agar jangan ragu-ragu untuk menyampaikan saran dan masukan guna peningkatan kinerja KBRI;
• Agar seluruh warga masyarakat Indonesia dapat ikut serta memberikan penjelasan kepada warga setempat guna memperkuat citra baik Indonesia;
• Agar seluruh warga Indonesia dapat menjadi tamu yang baik di negeri ini dengan cara mematuhi hukum dan peraturan setempat; dan
• Agar seluruh warga Indonesia di Inggris dan Irlandia dapat terus membina ikatan kebersamaan, rasa ke-kita-an dan jalinan persaudaraan diantara sesama anak bangsa.

Dalam kesempatan ini, kami juga ingin menegaskan kembali komitmen seluruh jajaran KBRI London untuk bekerja keras, bersikap kreatif, jujur dan amanah dalam melaksanakan tugas kami sehari-hari.

Sebelum kami mengakhiri sambutan ini, ijinkan kami juga untuk menghimbau segenap masyarakat Indonesia di Inggris dan Irlandia untuk memperhatikan kesehatan pribadi dan keluarga, terutama dalam menghadapi wabah flu babi yang saat ini sedang melanda Inggris dan Irlandia.

Hingga saat ini ratusan ribu orang di Inggris telah tertular virus tersebut. Kami berharap sekiranya ada anggota masyarakat Indonesia yang terinfeksi flu babi dapat segera memeriksakan diri ke dokter dan juga menginformasikan kami di KBRI.

Akhirnya, dalam kesempatan yang baik ini, perkenankan kami menyampaikan penghargaan atas segala pengabdian dan usaha yang telah saudara-saudari curahkan demi membantu kesuksesan perjuangan Bangsa Indonesia. Sekecil apa pun sumbangsih yang Saudara-Saudari lakukan adalah sangat berarti bagi bangsa kita.

Dengan Ridho Tuhan YME, kami yakin, kita semua, Bangsa Indonesia yang besar ini, akan mampu memperbaiki hari depan kita ke arah yang lebih baik dan lebih gemilang.

Akhirnya kami ucapkan: Dirgahayu Republik Indonesia ke-64,

Wassalammuallaikum warahhmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera dan terima kasih atas perhatian hadirin semua.

London, 17 Agustus 2009