Anne Avantie memberi tips berbusana kantor di Kemlu dalam Bincang-bincang Etika Busana Kantor dan Peragaan Busana yang diselenggarakan oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemlu. Acara yang berlangsung pada pagi ini (13/7) digelar untuk memberikan pemahaman tentang bagaimana etika berpakaian di tempat kerja.
“Cara kita berpakaian menentukan penilaian orang lain terhadap kita,” ucap Ketua DWP Kemlu, Ibu Masrifah Wardhana dalam pidatonya mengawali kegiatan. Tak hanya itu, tambahnya lagi, pembawaan diri dalam berpakaian turut menentukan keberhasilan pergaulan dan mencerminkan kepribadian tiap orang.
Didampingi dua orang pembawa acara, Anne Avantie menjelaskan beberapa poin tentang etika mengenakan sandang di tempat kerja. Dalam kesempatannya berbagi pengalaman, Anne Avantie mengatakan bahwa berpakaian merupakan pilihan pribadi untuk menempatkan diri.
“Kita adalah fashion designer untuk diri kita sendiri,” tegas Anne Avantie kepada khalayak. Gaya berpakaian ke kantor, menurutnya, diserahkan kembali ke tiap individu. Hal tersebut penting dilakukan mengingat tiap orang dianggap mengerti karakter diri masing-masing.
Lebih jauh, ibu asal Semarang ini menyatakan bahwa kita dapat mengambil inspirasi dari berbagai jenis busana tanah air. Namun, kembali ia sampaikan bahwa kita harus menyesuaikannya dengan kepribadian.
Selain menjelaskan tips mengenai etika berbusana di tempat kerja, Anne Avantie juga banyak bercerita tentang kisah hidupnya. “Saya terbiasa untuk memegang alat jahit sejak kecil,” kenang desainer kebaya yang menyabet penghargaan Ernst and Young Entrepreneurial Winning Women 2012 ini.
Dibesarkan dari keluarga yang sederhana, Anne Avantie mengaku sudah diarahkan menjadi perancang busana oleh ibundanya. Sepulang sekolah, dirinya sudah dibiasakan mengerjakan usaha mode milik ibunya di rumah. Tak heran jika pengalaman tersebut berhasil menuntunnya sukses sampai sekarang.
“Saya kalau membuat baju itu pakai feeling,” ungkap perempuan yang memiliki fobia terbang ini. Intuisinya tersebut terbukti mampu menghasilkanproduk yang dikenal baik nasional hingga internasional. Hingga kini, dirinya terus berusaha menjaga ciri khas kebayanya agar tetap terlihatseksi, klasik, dan mewah.
Tak hanya berbagai pengalaman, Anne Avantie juga memberikan kesempatan peserta untuk melihat karyanya. Berbagai jenis kebaya dan batik hasil rancangannya ditampilkan dalam kesempatan yang sama.
Berdurasi sekitar 30 menit, sesi peragaan busana yang dilakukan oleh para peragawati menampilkan dua tema kebaya Anne Avantie. Selain itu, hadir pula tiga pasang pegawai Kemlu yang bertindak sebagai model dan memeragakan busana batik koleksi perancang yang memiliki workshop di Semarang tersebut.
Melalui acara ini, peserta diharapkan dapat melakukan padu padan busana ke kantor dengan baik. “Padu padan yang beretika dan representatif,” tegas Ibu Masrifah. Dengan begitu, kelak terwujud tertib fisik di lingkungan kantor Kemlu. (Sumber : Dit. Infomed/PLE/Nik)