Komunitas Peselancar Indonésia di Portugal (Associacao de Surf Amigos da Indonesia (ASAI)

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Diluar perkiraan, acara peresmian Komunitas Peselancar Indonésia di Portugal (Associacao de Surf Amigos da Indonesia (ASAI), dan peluncuran buku "Sumatra Regresso ao Paraiso"(Sumatra Return to Paradise), menuai sukses besar. Acara "cocktail reception", dihadiri lebih dari 350 orang dari berbagai strata masyarakat Portugal seperti pejabat Kemlu, Perwakilan negara sahabat dan anggota ASAI, anggota ALIAC, tokoh-tokoh masyarakat, pemerhati seni budaya Indonesia, public figure, media/wartawan TV dan cetak, biro-biro perjalanan. Acara peresmian dan peluncuran buku yang diselanggarakan pada tanggal 15 Desember 2010 di Museum Oriente bekerjasama dengan ASAI, dan Museum Oriente. Komentar positif dari berbagai kalangan dan media atas inisiatif pembentukan ASAI sertã penjualan buku yang cukup laris telah memberikan bukti yang cukup mengenai besarnya animo masyarakat Portugis terhadap Indonesia.

Pembentukan ASAI merupakan kegiatan cukup unik dan menarik, serta baru pertama kali di Portugal. Komunitas ini akan mudah menarik perhatian peselancar Portugis, yang telah memiliki minat dan kecintaan berselancar ke Indonésia, sehingga kegiatan ini akan bermanfaat bagi sektor pariwisata. Lebih dari itu, pembentukan ASAI juga dapat menjadi pilar baru hubungan bilateral dengan Portugal, karena akan memperkuat people to people contact secara nyata dan praktis, dan dapat menjangkau langsung masyarakat (civil society). ASAI sudah menyusun program kerja yang konkrit, yang antara lain melakukan pertukaran peselancar mulai tahun depan, yang diharapkan kecintaan terhadap Indonesia semakin mengakar. Kegiatan-kegiatan yang telah dan akan dilakukan oleh Komunitas ini merupakan ajang promosi yang efektif dan efesien karena dilakukan oleh warga Portugis sendiri dan yang mencintai Indonesia. Sehingga penyebarluasan informasi tentang Indonesia ke berbagai pelosok Portugal dilakukan secara sukarela dan penuh kecintaan. Ini sangat penting untuk mencapai hasil promosi yang diharapkan.

Dubes RI menyatakan senang dan menyambut baik pembentukan Komunitas dimaksud, termasuk peluncuran buku yang begitu bagus dan menarik bagi kalangan peselancar. Secara khusus disampaikan pula terima kasih kepada anggota peselancar, yang selama ini telah merintis dan mengembangkan kegiatan peselancar di Nias, Mentawai dan Krui. Kegiatan yang dilakukan peselancar Portugis di Sumatera selama ini penting dan mirip dengan yang dilakukan pelaut Portugis 500 tahun lalu, yang datang mencari rempah-rempah di Nusantara. Para pemuda/i Portugis mengulangi langkah serupa dengan berkunjung ke Sumatera mencari ombak untuk berselancar, ombak yang dapat mendekatkan bangsa kedua negara yang tinggal saling berjauhan. Ini kami anggap dapat menjadi pilar penting bagi hubungan bilateral Indonésia-Portugal, yang pernah memiliki pertalian sejarah dan budaya yang cukup dalam di masa lalu. Pertalian itu saat ini masih terasa dalam budaya dan bahasa kedua bangsa.

Miguel Ruivo selaku Presiden ASAI dalam pidatonya mengungkapkan kegembiraannya dengan telah terbentuknya Komunitas ini dan berterima kasih kepada KBRI yang turut membidani dan mendukung pendirian Komunitas itu. Menurutnya, Komunitas ini sudah lama menjadi cita-cita para peselancar untuk membentuk wadah untuk saling berbagi pengalaman dan sekaligus untuk mengembangkan kegiatan terkait selancar dan pariwisata yang bermanfaat bagi Portugal dan Indonesia. Disamping itu, peluncuran buku tentang selancar di Sumatra tersebut merupakan tahap awal dari kegiatan ASAI, dan kedepan akan dikembangkan kegiatan lainnya seperti program cultural exchange melalui pertukaran peselancar kedua negara. Selain itu, Miguel Ruivo mengungkapkan bahwa anggota ASAI secara suka rela telah mengumpulkan sumbangan dari warga Portugal untuk disalurkan kepada korban tsunami Mentawai yang saat ini sudah terkumpul sekitar 1200 Euro.

Buku Sumatra Regresso ao Paraiso (Sumatra Return to Paradise) menggambarkan tempat-tempat selancar di daerah Sumatera, seperti Nias, Mentawai, Krui, dll, merupakan surganya para peselancar. Ini yang sebagian besar peselancar Portugis yang pernah berselancar di Indonesia jatuh hati dan tidak bosan-bosannya berulang kali mengunjungi Indonesia. Kecintaan terhadap Indonesia (Sumatra) mendorong para surfer Portugal mengabadikan hal tersebut dalam sebuah buku yang akhirnya dapat terbit saat ini. Secara khusus, Goncalo menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada KBRI yang telah mendukung dan memfasilitasi penerbitan buku tersebut.

Ketua Lembaga Persahabatan Indonésia-Portugal (ALIAC), Dubes Antonio Pinto da Franca, dalam sambutannya menyampaikan penghargaan yang tinggi atas pembentukan Komunitas tersebut. Menurutnya, pembentukan Komunitas tersebut merupakan inisiatif yang cemerlang karena sangat bermanfaat untuk mendekatkan orang-orang yang mencintai Indonesia, terutama para peselancar yang sebagian besar sudah berulang kali ke Indonesia. Banyak warga Portugal yang pernah berkunjung ke Indonesia dan mencintai Indonesia namun tersebar (scattered) di berbagai wilayah di Portugal. Komunitas ini merupakan salah satu simpul yang dapat menyatukan warga Portugal yang mencintai Indonesia tersebut. Ini sangat strategis untuk mengeratkan tali persahabatan Indonesia-Portugal di masa mendatang.
Micahel Gulbenkian, salah seorang pengusaha dan budayawan terkenal Portugis yang hadir pada acara itu mengatakan, bahwa pembentukan Komunitas ini merupakan langkah jitu dalam menjembatani hubungan antara warga kedua negara. Menurut Micahel Gulbenkian, penilaian masyarakat Portugis kepada Indonésia saat ini sudah berubah 180 derajat, dan ini terlihat jelas dari minat kaum muda Portugis berkunjung ke Indonésia dan melakukan kegiatan seperti ini, yang dinilai akan memiliki dampak positif jangka panjang.

Acara ditutup dengan pemutaran film tentang selancar di Indonesia melalui pengalaman para peselancar Portugis dan sajian makanan khas Indonesia.
KBRI LISABON.-pen