Seminar tentang Indonesia di Universitas Tertua di Amerika Latin

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Indonesia, negara yang kaya akan hasil laut, ternyata masih harus mengimpor tepung ikan dari Peru. Fakta menarik tersebut diungkapkan oleh Duta Besar RI untuk Peru dan Bolivia, Yosef Berty Fernandez pada acara seminar dengan tema “Indonesia en la UNMSM” (Indonesia di Universitas Nasional Mayor San Marcos) pada 2 Desember 2010.

Tepung ikan yang diimpor dari Peru merupakan bahan baku pakan ternak, terutama untuk pakan ternak ayam. Dengan nada bercanda, Duta Besar Yosef Berty Fernandez menyampaikan bahwa Indonesia terus mengimpor karena ayam-ayam di Indonesia ternyata lebih menyukai tepung ikan dari Peru dibandingkan tepung ikan buatan Indonesia. Lelucon tersebut mengundang tawa dari sekitar 250 peserta yang memenuhi ruang auditorium ´´Salon de Grado´´, Fakultas Ekonomi UNMSM.

Acara yang juga dihadiri oleh Dekan Fakultas Ekonomi UNMSM, Mg. Humberto Campodónico Sánchez,  Direktur Fakultas Ekonomi Kawasan Asia, Profesor Carlos Aquino, dan para dosen UNMSM tersebut bertujuan untuk memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat Peru, khususnya kalangan akademisi di UNMSM. Universidad Nacional Mayor de San Marcos merupakan universitas tertua di Amerika Latin yang berdiri sejak tahun 1551 dan banyak melahirkan tokoh-tokoh terkenal Peru, seperti Víctor Raúl Haya de la Torre, pendiri partai APRA (Aliansi Amerika Revolusionari Popular) yang merupakan salah satu partai besar di Peru.

Pada kesempatan tersebut Duta Besar Yosef Berty Fernandez menyampaikan presentasi mengenai perkembangan politik, ekonomi, sosial dan budaya di Indonesia. Juga dipaparkan kebijakan polugri Indonesia dan peran Indonesia di forum-forum internasional seperti ASEAN, APEC, FEALAC, GNB, G-77, G-15, G-20, peran aktif Indonesia di PBB serta perkembangan hubungan Indonesia-Peru yang telah menginjak usia 35 tahun. Selain itu, informasi mengenai beasiswa Darmasiswa juga disampaikan di akhir presentasi.

Duta Besar Yosef Berty Fernandez menyampaikan penghargaan kepada UNMSM atas kerjasama dalam penyelenggaraan seminar tersebut, yang diharapkan dapat memberikan informasi mengenai Indonesia dan menjadi ajang tukar pikiran dalam rangka peningkatan hubungan Indonesia-Peru. Di akhir presentasinya, Duta Besar menyampaikan bahwa meskipun Indonesia dan Peru memiliki banyak perbedaan, namun kedua negara dapat melakukan kerjasama yang dilandasi oleh semangat  persahabatan.

Menanggapi presentasi yang dibawakan Duta Besar Yosef Fernandez, Profesor Carlos Aquino menjelaskan bahwa Peru dapat mengambil pelajaran atas perkembangan yang terjadi di Indonesia, baik di sektor ekonomi, politik maupun sosial budaya. Peran Indonesia di dalam membangun ASEAN dapat dijadikan pelajaran bagi Peru untuk dapat lebih mengembangkan hubungan regional  Peru dengan negara-negara di kawasan melalui forum Komunitas Andina. Forum tersebut dibentuk pada tahun 1969, dua tahun setelah dibentuknya ASEAN pada 1967. Dalam perkembangannya, ASEAN dianggap lebih maju dibandingkan dengan Komunitas Andina.

Selain itu, Profesor Carlos Aquino juga menggarisbawahi pentingnya untuk mengenal Indonesia lebih dalam mengingat Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman budaya, agama dan gaya hidup. “Penting untuk mengenal lebih dalam suatu negara, dalam hal ini Indonesia, agar setiap kerjasama yang dilakukan dapat terjalin dengan baik dan optimal”, jelasnya.

Di akhir acara, Dekan Fakultas Ekonomi UNMSM, Mg. Humberto Campodónico Sánchez, memberikan piagam penghargaan kepada Duta Besar Yosef Berty Fernandez. Yang bersangkutan menyampaikan harapan agar presentasi tentang Indonesia dapat kembali dilaksanakan dengan menghadirkan  pejabat atau tokoh pengusaha Indonesia.

 Untuk memeriahkan suasana, tim tari dan angklung KBRI Lima menampilkan pertunjukan Tari Payung, Tari Saman dan musik angklung. Pertunjukan dimaksud mendapatkan apresiasi positif dari para peserta yang menghadiri acara  “Indonesia en la UNMSM”.

 

 

Ditulis oleh:

Wahid Fairus Azis

Peserta Magang Sekdilu XXXV

KBRI Lima