Ratu Indonesia Berbaju Bodo di Festival La Vendimia, di Ica, Perú

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Baju Bodo berwarna merah yang dikenakan oleh Ruth Dhebora Santa Clara Gultom, wakil Indonesia pada acara la 46 edición del Festival International de la Vendimia de Ica 2011, 13 Maret 2011 mengundang kekaguman masyarakat Ica di Perú.

 

Ungkapan ´´muy bonita´´ (cantik sekali) dan kilatan blitz kamera tak henti ditujukan kepada wakil Indonesia yang hadir pada acara dimaksud. Baju Bodo dan aksesoris tambahan seperti hiasan kembang goyang, kalung dan gelang tangan mengundang rasa ingin tahu masyarakat setempat yang secara bergantian menanyakan makna dari aksesoris dan baju Bodo tersebut.

 

Kehadiran wakil Indonesia yang memakai baju Bodo disesuaikan dengan undangan dari Pemerintah Regional Ica kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Lima untuk berpartisipasi pada acara festival musim panen anggur yang dilaksanakan setiap minggu ke-2 bulan Maret. Festival tersebut adalah salah satu acara pariwisata terbesar di Perú dan yang dimeriahkan oleh rangkaian pertunjukan kebudayaan khas Perú.

 

Setiap perwakilan negara yang memiliki perwakilan di Lima-Perú juga mengirimkan wakil sebagai ´´Ratu Festival´´ di Festival International de la Vendimia de Ica. Selain Indonesia, terdapat 8 kedutaan besar negara lainnya yang mengirimkan wakilnya, yakni Ekuador, Kolombia, Costa Rica, Mesir, Guatemala, Mexico, Panama dan Chile. Kehadiran ratu-ratu tersebut dimaksudkan sebagai sarana pertukaran kebudayaan antara negara-negara yang berpartisipasi.

 

Pada malam puncak festival (13 Maret 2011), para ´´ratu´´ diminta untuk memakai pakaian tradisional masing-masing dan diarak berkeliling kota Ica dalam suatu parade mobil hias. Pada kesempatan itulah, Ruth Dhebora Santa Clara Gultom yang mengenakan baju Bodo memperkenalkan kekhasan pakaian nacional Indonesia yang diwakili oleh pakaian tradisional suku Bugis.   

 

Selain berpartisipasi dalam acara Ratu Festival, KBRI Lima juga menampilkan 3 (tiga) tarian Indonesia yang dipertunjukkan di dua tempat yang berbeda. Pada 11 Maret 2011, tim tari KBRI Lima menampilkan tari Payung di ruang pertemuan kantor pemerintah regional Ica (Salón de Actos MPI) dan disaksikan oleh para pejabat pemerintah setempat, seperti el primer regidor Gustavo Martínez. Pada malam harinya, tim tari KBRI Lima juga menampilkan dua tari lainnya, yakni tari Piring dan tari Bambu Gila di Bodego ´´Lazo´´, Camino de Reyes-San Juan Baustita.

 

Secara khusus, KBRI Lima mendapatkan mendapatkan apresiasi positif oleh pemerintah regional Ica atas keikutsertaan Indonesia pada festival dimaksud untuk yang pertama kalinya. Partisipasi Indonesia dan penampilan tim tari KBRI Lima di sela-sela acara festival dianggap oleh pihak penyelenggara sebagai bentuk pertukaran budaya yang mewakili tujuan diundangnya perwakilan-perwakilan asing di Perú.

 

Ica merupakan wilayah Perú yang terletak sekitar 300 km dari ibu kota negara, Lima. Kota ini dikenal sebagai produsen Pisco, minuman fermentasi anggur khas Perú. Selain sebagai penghasil anggur, kota ini juga dikenal sebagai penghasil asparagus dan paprika. Produktivitas hasil pertanian di kota Ica menjadikannya sebagai penyumbang 65% eskpor produk pertanian Perú ke negara-negara lain.

 

Lima, 14 Maret 2011