Indonesia dan Georgia Sepakat Tingkatkan Kerjasama Ekonomi dan Good Governance

Tbilisi, GeorgiaIndonesia dan Georgia memiliki banyak potensi yang dapat dimanfaatkan dalam peningkatan hubungan kedua negara, khususnya di bidang ekonomi dan Good Governance.

Hal tersebut mengemuka dalam Forum Konsultasi Bilateral (FKB) ke-3 RI-Georgia yang dipimpin oleh Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri RI, Duta Besar Dian Triansyah Djani dan Deputi Menteri Luar Negeri Georgia, David Jalagania, di Tbilisi, Georgia (26/11). Dalam Pertemuan tersebut, kedua pihak juga menandatangani MoU Kerjasama Pelatihan dan Pendidikan Diplomatik RI-Georgia.

Dalam rangka diplomasi ekonomi, “Kami dorong saling kunjung antara pengusaha, agen perjalanan, jurnalis, dan mahasiswa untuk lebih memanfaatkan potensi yang dimiliki kedua pihak”, kata Dubes Djani setelah memberi penjelasan mengenai potensi ekonomi Indonesia dan prioritas Presiden Jokowi.

Foto 1.jpg

Foto 2.jpg
Foto 3.jpg

“Pada bulan Mei 2016 akan diselenggarakan pameran terintegrasi “Windows to Indonesia” di Tbilisi dan mengharapkan partisipasi pelaku bisnis Indonesia”, kata Niniek Kun Naryatie, Dubes RI untuk Georgia yang berkedudukan di Kyiv. Georgia juga membuka peluang bagi Indonesia untuk memasok produk terkait wisata seperti infrastuktur, toiletries, furniture dan produk unggulan industri kreatif Indonesia.

Georgia adalah salah satu mitra dagang potensial Indonesia di kawasan Kaukasus. Nilai perdagangan kedua negara pada tahun 2014 sebesar USD 79,32 juta dengan surplus  di pihak Indonesia senilai USD 66,17 juta. Komoditi Indonesia seperti CPO, kopi, teh, dan karet diserap oleh pasar Georgia yang memiliki perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan Uni Eropa, CIS, dan Turki,

Indonesia dapat memanfaatkan Georgia sebagai pintu masuk komoditas Indonesia ke kawasan Eropa Tengah dan Timur serta Asia Tengah. Sedangkan Georgia dapat memanfaatkan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 31 Desember 2015.  

Menurut Dubes Djani, kedua pihak juga dapat bekerja sama melalui tukar pengalaman dalam upaya pemberantasan korupsi dan peningkatan pelayanan publik berdasarkan Good Governance. David Jalagania menyampaikan bahwa Georgia siap berbagi pengalamannya dalam reformasi sektor publik kepada Indonesia.

Georgia cukup berhasil dalam reformasi sektor publik sejak merdeka dari Uni Soviet pada tahun 1991. Berdasarkan Transparency International terkait Corruption Perceptions Index, tahun 2014 Georgia menempati peringkat ke-50 dari 175 negara. Selain itu, Georgia menduduki peringkat ke-24 dalam Ease of Doing Business Index yang dikeluarkan Bank Dunia.