Alunan angklung memukau penonton di Konser musik 'Harmony in Diversity of Bamboo Music and Dance' di Kyiv

Alunan angklung yang membawakan lagu Blue Danube telah menghipnotis sekitar 500 penonton di gedung teater Konservatori Musik Kyiv, Ukraina. Decak kagum dan tepuk tangan gemuruh terus terdengar selama Tim Saung Angklung Udjo (SAU) mementaskan “Hormony in Diversity of Bamboo Music and Dance”, suatu konser musik yang digelar KBRI Kyiv untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-70 di Kyiv.  Konser dihadri oleh korps diplomatik, organisasi internasional, pejabat pemerintah UKraina, wartawan, pelajar dan pegiat seni budaya di Kyiv serta masyarakat Ukraina lainnya. 

 

Konser dibuka dengan pertunjukan singkat perjalanan angklung ketika masih memakai nada diatonis. Angklung Buhul digunakan untuk acara khusus seperti panen raya dan sebagai alat bermain bagi pemuda. Penonton pada sesi ini terlihat masih mengernyitkan dahi karena angklung dimainkan secara sangat sederhana. Tetapi ketika lagu Tanase dibawakan pada sesi Arumba, penonton mulai antusias. Permainan Arumba yang diharmonisasi dengan Angklung Toel yang sangat dinamis telah membawa penonton ke dimensi kekinian angklung, yang modern dan sophisticated. Apalagi kemudian penonton dikejutkan dengan suguhan lagu “Rospryagayte Chloptzi Koney” (Marusya raz, dva, tri) lagu rakyat Ukraina dengan irama cepat dan gembira. Tampak penonton ikut  bergoyang dan bernyanyi mengikuti irama lagu kolaborasi grup angklung KBRI Kyiv, SAU dan seniman lokal yang memainkan alat musik tradisional Ukraina yaitu bandura dan bayan (akordeon).
 
 
Program angklung interaktif menjadi salah satu pengalaman yang tak terlupakan bagi penonton. Angklung yang telah dibagikan sejak awal  ternyata dapat mereka mainkan dengan baik ketika Sam Udjo membagikan tips bermain angklung.  Dari lagu yang sederhana seperti  twinkle-twintle Little Star, Song of Do Re Mi hingga lagu barat yang popular seperti Que Sera Sera dan We are the World telah membuat penonton semakin terkesima dan bersemangat. Mereka juga semakin senang ketika diumumkan bahwa angklung dapat dibawa pulang sebagai cinderamata.
 












Perjalanan  mengenal angklung berlanjut ke pertunjukan music orchestra modern dengan menampilkan Angklung Orchestra feat Angklung Toel and Jaipong Dance.  Gadis gadis remaja memainkan sekaligus beberapa angklung ditingkahi gendang, angklung toel dan seruling bamboo secara apik telah membawakan lagu-lagu rakyat dari Nusantara mulai dari Aceh hingga Papua. Walaupun penonton tidak mengenal lagunya, namun suguhan ini telah membawa mereka mengenal Indonesia yang luas dan multietnik. Sebagai acara pamungkas, Orkes Angklung membawakan lagu La Vie en Rose by Louis Armstrong dan Blue Danube ciptaan Johann Strauss. Ketika terdengar alunan lagu yang sangat mereka kenal, keheningan melingkupi gedung konser, penonton terhanyut dengan dentingan angklung yang bening, kadang mendayu-dayu kadang menghentak. Penonton seakan terkesima lagu yang terkenal dan sering dimainkan oleh orchestra dipanggung konser dunia dapat dimainkan oleh alat musik dari bambu yang sederhana. 
 
 
Duta Besar RI Kyiv, Niniek Kun Naryatie dalam sambutan resepsi diplomatic mengungkapkan bahwa kemerdekaan Indonesia direbut dengan darah dan air mata para pahlawan. Bambu yang ketika itu digunakan sebagai senjata, ditangan para seniman berubah menjadi alat musik yang dapat menghibur dan menggelorakan semangat pemuda. Pertunjukan konser angklung pada saat resepsi diplomatik sengaja dirancang untuk memberi pesan tentang Indonesia yang baru, Indonesia yang modern, dan yang terus menyuarakan perdamaian melalui berbagai media. Angklung Indonesia dikenal sebagai alat music yang berhasil melestarikan nilai-nilai tradisi yang luhur seperti kerjasama, saling menghargai dan menjaga kerukunan social. Karena keunikannya Angklung telah ditetapkan oleh Unesco dimasukan ke dalam List of Intangible Cultural Heritage of Humanity. Diharapkan konser angklung ini bisa membawa pesan persatuan dan perdamaian bagi rakyat Ukraina yang selama dua tahun terakhir dilanda konflik berkepanjangan. Diakhir acara, Rektor Akademi Musik Ukraina, Rozka Voloymyr Ivanovich menyatakan bahwa konser pada malam ini merupakan konser musik etnik terbesar yang pernah diselenggarakan di Kyiv. Cinderamata satu set miniatur angklung diberikan kepada Rektor sebagai simbol kerjasama yang baik antara Indonesia-Ukraina dan juga diharapkan kedepan angklung dapat menjadi bagian dari kurikulum di National Music Academy of Ukraine di Kyiv.
 
 
Pertunjukan konser angklung di Kyiv merupakan rangkaian tour Saung Angklung Mang Udjo ke Eropa dalam rangka memeperingati 5 tahun angklung ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda untuk kemanusiaan dan terlaksama berkat kerjasama antara KBRI Kyiv, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, dan Kantor Perwakilan Indonesia untuk UNESCO di Paris. 
 
 
Sumber: Pensosbud KBRI Kyiv