Refleksi Perjalanan KBRI Kuwait 2013 : Mampu Selesaikan 92% Kasus TKI, Negara Bisa Berhemat Hampir 5 Miliar

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

?Mampu Selesaikan 92% Kasus TKI, Negara Bisa Berhemat Hampir 5 Miliar Sepanjang tahun 2013 persoalan yang dihadapi para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang di Kuwait mencapai 113 kasus dan 104 diantaranya berhasil diselesaikan oleh KBRI Kuwait. “Sebanyak 92 persen kasus yang berhasil diselesaikan KBRI Kuwait merupakan wujud dari perubahan paradigma dalam konteks pelayanan berbasis perlindungan yang saat ini diterapkan oleh KBRI Kuwait,” demikian ujar Ferry Adamhar, Dubes RI untuk Kuwait, dalam paparan yang disampaikan di hadapan masyarakat Indonesia dalam acara “Refleksi Perjalanan KBRI Kuwait 2013” yang diadakan secara bertahap di Provinsi Ahmadi dan Mubarak Al-Kabeer pada tanggal 7 Desember 2013 serta Provinsi Jahra pada tanggal 22 November 2013.

 

Dengan penyelesaian masalah secara komprehensif tersebut juga berdampak positif ke bidang lain termasuk dalam hal beban anggaran bagi negara. “Jika dikonversikan dalam uang maka limpahan positif dari keberhasilan menangani kasus TKI adalah setara dengan hampir Rp. 5 miliar uang negara yang bisa dihemat,” ujar Dubes RI. Perhitungan tersebut didasarkan pada asumsi kebutuhan untuk pembelian tiket, pelayanan selama berada di tempat transit di KBRI hingga dan biaya lain selama TKI menunggu penyelesaian kasus masing-masing. Jumlah tersebut memang semakin menurun dimana selama masa penyelesaian kasus TKI pada tahun 2011, maka negara terhitung dapat menghemat pengeluaran sekitar Rp. 30 miliar pada tahun 2011 dan Rp. 8 miliar pada tahun 2012.

 

Penurunan jumlah tersebut menunjukkan bahwa sebagai Perwakilan RI yang mempunyai titik berat dalam perbaikan pelayanan kekonsuleran dan perlindungan TKI secara khusus, KBRI Kuwait telah berhasil menjalan amanat dan tugas yang dibebankan dengan baik. Sudah bukan rahasia lagi jika selama ini masih ada kesan bahwa Perwakilan RI di wilayah Timur Tengah umumnya dan Kuwait pada khususnya selalu diidentikkan dengan TKI yang bermasalah. Untuk itu, Bapak Dubes Ferry Adamhar menjelaskan bahwa semenjak kedatangannya di Kuwait pada tahun 2010 lalu, persoalan TKI adalah hal utama yang harus diberikan solusi secara komprehensif. “Syukurlah hingga akhir tahun 2013 ini, dari semula KBRI menjadi tempat singgah bagi sekitar 600 TKI yang bermasalah maka hingga akhir Desember ini jumlahnya hanya mencapai tidak lebih dari 9 orang TKI saja, itupun untuk TKI yangmasih yang masih menunggu penyelesaian masalah mereka,” jelas Dubes RI.

 

Seiring dengan penyelesaian berbagai masalah TKI tersebut, hak-hak TKI yang berhasil diperoleh kembali tercatat sekitar Rp. 1,3 miliar dalam bentuk hak-hak gaji yang terselesaikan ataupun tiket pesawat dari para majikan.

 

Penyelesaian berbagai masalah di bidang TKI tersebut pada gilirannya menjadi faktor penting dalam merealisasikan visi KBRI Kuwait secara luas. Sebagaimana diketahui bahwa visi KBRI adalah “Membangun Kerja Sama yang Saling Menguntungkan dan Persahabatan Indonesia – Kuwait yang Lebih Erat serta Meningkatkan Profil Indonesia di Negara Akreditasi”. Berdasar visi ini, maka KBRI telah bekerja keras sepanjang tahun 2013 ini khususnya untuk mewujudkannya. Semakin baiknya penanganan masalah TKI maka secara langsung dan tidak langsung juga akan memberikan citra positif bagi profil Indonesia di Kuwait. Indonesia tidak lagi dikenal sebagai negara asal para tenaga kerja informal yang sering bermasalah di Kuwait, tetapi sebagai mitra penting Kuwait dalam kerjasama di berbagai bidang.

 

Lebih lanjut Bapak Dubes Ferry Adamhar kemudian menjelaskan tentang perkembangan berbagai hubungan bilateral RI-Kuwait di segala aspek. Di bidang kekonsueran, beberapa tindakan praktis telah dilakukan sepanjang tahunh 2013 ini yaitu dengan misi untuk “Menampilkan KBRI yang sesuai dengan fungsi & perannya serta mengembalikan integritas KBRI sebagai Perwakilan Indonesia”, maka KBRI Kuwait melakukan pembenahan menyeluruh terhadap ruang kantor pelayanan serta perubahan pola pikir petugas di bidang kekonsuleran. “KBRI Kuwait sekarang menerapkan prinsip pelayanan berbasis perlindungan dalam bentuk same day service kepada para pihak yang membutuhkan layanan kekonsuleran dan akan akan ditingkatkan menjadi while you are waiting,” ujar Bapak Dubes. Dengan prinsip tersebut, maka wajah kantor layanan konsuler juga dibuat seperti layaknya standar pelayanan umum yang dikenal dalam berbagai sektor jasa modern saat ini. KBRI telah menerapkan prinsip nomor antri dan jenis layanan secara elektronik, pencantuman bea kekonsuleran secara transparan, pembuatan struktur akses kantor layanan yang aman dan mudah melakukan evakuasi sekiranya ada keadaan darurat.

 

Pelaksanaan e-consular yang dideklarasikan tahunu 2013 telah sampai pada tahap penyelesaian akhir dan akan diuji coba pada bulan Januari 2014. Melalui e-consular ini maka KBRI telah maju lagi selangkah untuk memberi pelayanan yang murah, cepat dan accountable. Para pelanggan bisa melakukan dengan men-download  dari website KBRI dan memilih pelayanan yang akan dipilih. Setelah itu semua akan diproses langsung, sehingga para pelanggan hanya datang untuk prosesakhir dari pelayanan konsuler. Bentuk inovasi ini akan lebih memotong mata rantai birokrasi sehingga pelayanan dapat diberikan cepat dan tepat dengan memperhatikan kerahasiaan.

 

Salah satu produk layanan kekonsuleran yang inovatif di KBRI Kuwait adalah dengan dibuatnya proses pembayaran tidak melalui uang tunai tetapi menggunakan mesin K-Net. Dengan metode ini memberikan kemudahan kepada publik ketika harus melakukan pembayaran sebagaimana sektor perdagangan modern.

 

Inovasi lain dari pelayanan kekonsuleran yang berbasis perlidungan adalah pembuatan ‘Surat Keterangan Cuti’ kepada para TKI informal. Hal penting dari inovasi ini adalah KBRI memberikan keberpihakan kepada TKI dengan meminta majikan untuk memberikan kontrak kerja serta menetapkan batas minimal gaji yang harus diberikan. Jika mereka menolak, maka surat keterangan dimaksud tidak akan dikeluarkan oleh KBRI. “Dan, alhhamdulillah dengan cara tersebut maka kedua pihak akhirnya sama-sama senang dimana TKI informal mendapat jaminan gaji yang lebih baik dan majikan mendapat jaminan TKI akan kembali lagi,”  kata Dubes RI. Tercatat hingga akhir tahun 2013 ini sudah diterbitkan sekitar 2.500 surat dan semua berjalan dengan baik.

 

Di bidang peluang penempatan dan perlindungan tenaga kerja, KBRI Kuwait juga mencatat hasil yang baik. Tercatat selama tahun 2013 terdapat 874 TKI baru yang bekerja di Kuwait di berbagai sektor. Dan kecenderungan semakin besar pada tahun-tahun mendatang karena saat ini sedang dalam proses penyelesaian surat-surat yang dibutuhkan. Dalam hal pelayanan TKI, KBRI Kuwait juga mengeluarkan Kartu Tanda Kerja Luar Negeri (KTKLN) sejak bulan Juni 2013. Tercatat hingga akhir tahun ini terdapat 447 buah KTKLN yang sudah diberikan kepada mereka yang membutuhkan dengan layanan yang cepat dan mudah.

 

Kemajuan di bidang politik sejauh ini terdapat hubungan yang semakin erat antara kedua negara. Kemajuan nyata dalam bidang ini adalah dengan dimasukkannya Indonesia sebagai salah satu mitra penting Kuwait dalam politik luar negeri yang dikenal dengan circle 5+2+5+7. Indonesia adalah salah satu dari 7 negara penting bagi Kuwait dalam pengembangan polugri mereka. Selain itu, yang utama adalah tetap diperolehnya pengakuan Kuwait terhadap prinsip negaara kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

 

Di bidang ekonomi, diplomasi Indonesia di Kuwait sepanjang tahun 2013 dilakukan dengan prinsip: membangun Hubungan Langsung (non-by proxy) Indonesia dan Kuwait dan peningkatan promosi dan peningkatan profil perekonomian Indonesia di Kuwait. Dalam kaitan ini, KBRI Kuwait telah melakukan berbagai promosi aktif di berbagai kegiatan ekonomi dan perdagangan yang digelar di Kuwait. Di sisi lain, Dubes RI juga secara aktif melakukan pendekatan kepada berbagai pihak dan beberapa pengusaha ternama di Kuwait guna mendorong makin banyaknya hubungan ekonomi-perdagangan RI dan Kuwait.

 

Adapun di bidang sosial budaya dan penerangan, hubungan RI-Kuwait semakin baik dan meningkat. Tercatat dalam hal kunjungan wisata dari warga Kuwait adalah sebesar kurang lebih 1000 orang dalam tahun 2013, meningkat dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 800 orang. Hal ini hanya dari catatan mereka yang mengajukan visa ke KBRI sedangkan jika dihitung juga dengan mereka yang langsung datang dengan visa kunjungan saat kedatangan (VKSK) maka jumlah wisatawan Kuwait mencapai jumlah yang signifikan. Kecenderungan positif ini merupakan hasil kerja keras yang tiada henti dari KBRI Kuwait yang melakukan promosi aktif kepada semua pihak di Kuwait.

 

Kegiatan “Refleksi” ini mendapat apresiasi yang tinggi dari berbagai unsur masyarakat Indonesia di Kuwait. Sebagaimana disampaikan anggota masyarakat di Jahra bahwa dengan kegiatan ini membuka kesadaran bahwa selama ini KBRI telah melakukan banyak hal dan itu ditanggapi secara positif oleh masyarakat. Selain sebagai saran menyampaikan catatan perjalanan KBRI, kegiatan ini juga efektif untuk menjalin aspirasi masyarakat yang diharapkan dapat menjadi masukan bagi perbaikan kinerja di tahun mendatang. Beberapa hal yang menjadi perhatian masyarakat diantaranya adalah: persoalan TKI formal di Kuwait Oil Company (KOC) yang dalam beberapa tahun terhenti dan perlu dipikirkan untuk kembali membuka; masalah peluang perekrutan tenaga perawat di KOC; kemungkinan mendirikan sekolah Indonesia di Kuwait; persoalan adanya perbedaan perlakukan terhadap WNI dalam mendapat paspor yaitu ada yang mendapat 24 dan 48 halaman; semakin sedikitnya perawat Indonesia yang masuk ke Kuwait dalam beberapa tahun terakhir.