Indonesia Sumbang USD 500 ribu Untuk Bantuan Kemanusiaan di Suriah

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

?

Pelaksanaan ”Second International Humanitarian Pledging Conference for Syria” yang diadakan di Kuwait pada tanggal 15 Januari 2014 berhasil mencatat komitmen bantuan yang diberikan oleh berbagai negara sebesar USD 2,4 milyar. Dari jumlah tersebut, Pemerintah Indonesia memberikan kontribusi sumbangan sebesar USD 500 ribu. “Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada Suriah termasuk menyelesaian pledge 2013 sebesar USD 500 ribu. Di masa mendatang Indonesia akan melanjutkan komitmen bantuan serupa,” demikian disampaikan Bapak Dubes Ferry Adamhar sebagai Ketua Delegasi Indonesia pada Konferensi dimaksud.

 

Konferensi dibuka oleh Amir Kuwait Sheikh Sabah Al-Ahmad Al-Jaber Al-Sabah. Sidang dipimpin oleh Sekjen PBB Ban Ki-moon, Under SG Valerie Amos dan Komisioner UNHCR Antonio Guterres dan dihadiri tidak kurang dari 80 delegasi baik dari perwakilan negara maupun berbagai organisasi internasional yang dipimpin oleh Menteri dan Dubes termasuk PM Libanon.

 

Dalam pidato pembukaan Konferensi oleh Amir Kuwait menyatakan bahwa kesediaan Kuwait menjadi tuan rumah Konferensi ke-2 ini adalah sebagai wujud tanggung jawab Kuwait terhadap rakyat Suriah dan simpati atas penderitaan mereka serta mendorong masyarakat internasional untuk meningkatkan upaya dalam mengatasi bencana kemanusiaan yang terjadi di Suriah tersebut. “Kuwait berpandangan bahwa dalam penyelesaian masalah di Suriah harus dilakukan dengan pencapaian solusi politik dan diikuti dengan pendekatan kemanusiaan. Amir menekankan bahwa masyarakat internasional mempunyai tanggung jawab sejarah, moral, kemanusiaan dan hukum untuk mengakhiri bencana di Suriah,” ujar Amir Kuwait. Dalam kesempatan ini, Amir juga mengumumkan bahwa Kuwait menyumbang USD 500 juta sebagai bantuan kemanusiaan kepada Suriah.

 

Sekjen PBB dalam sambutan pembukaan menyampaikan kembali keinginan agar semua pihak di Suriah dapat mengakhiri semua kekerasan yang selama ini menghalangi dan bahkan mengakibatkan kematian para pekerja kemanusiaan. Sekjen Ban mengharapkan bahwa melalui Konferensi ini dapat memberikan harapan dan mengakhiri keputusasaan dan mendorong peserta untuk dapat menyukseskan Konferensi ini sebagaimana pelaksanaan Konferensi yang pertama tahun 2013 lalu. Diharapkan komitmen bantuan yang akan diterima pada Konferensi ini mencapai USD 6,5 milyar.

 

Sementara Ms. Valerie Amos dan Mr. Antonio Guterres pada intinya menyampaikan agar Konferensi dapat memberikan komitmen bantuan yang lebih banyak mengingat masih banyak kekurangan kebutuhan dana untuk dapat memberikan bantuan kemanusiaan ke Suriah yang digambarkan sebagai bencana kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern dunia.

 

Delegasi yang hadir pada Konferensi ini secara umum menyampaikan pandangan yang serupa dengan arahan Amir Kuwait dalam memberikan bantuan bagi penyelesaian bencana kemanusiaan di Suriah. Beberapa delegasi juga menenkankan perlunya penyelesaian politik secara damai dan menyeluruh untuk mengakhiri konflik di Suriah secara menyeluruh.

 

Dubes Ferry Adamhar dalam kesempatan memberikan pernyataan menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia memberi perhatian seksama terhadap perkembangan krisis di Suriah. Pemerintah Indonesia secara konsisten mendukung berbagai upaya untuk mencari solusi politik dalam mengatasi konflik Suriah dan menekankan perlunya semua pihak untuk mengakhiri kekerasan sekarang juga dan duduk bersama mencari solusi. “In this regard we welcome the convening of the upcoming Geneva Talks involving all parties in the conflict and those who may contribute to forge a peace process,” ujar Dubes Ferry.

 

Seiring dengan pendekatan politis, Indonesia juga mendorong terus dilakukannya operasi bantuan kemanusiaan di Suriah guna mengatasi persoalan yang dihadapi rakyat Suriah dan menjadikan mereka sebagai pengungsi ke negara tetangga ataupun terusir dari kampung halaman akibat konflik berkepanjangan. “We are pleased to join initiative to mobilize international supports to address the situation, especially to alleviate the suffering of around 1.3 million people in Syria and some 2.2 millions in neighbouring countries of victims of the crises,” demikian Dubes Ferry lebih lanjut.

 

Perlunya penyelesaian politis secara damai dengan meningkatkan peran DK PBB serta di sisi lain mengedepankan akses bagi kelancaran bantuan kemanusiaan menjadi fokus penting peserta Konferensi. Sebagaimana disebutkan Amir dalam pembukaan bahwa menjelang Konferensi Jenewa II, Amir juga meminta DK PBB untuk menyingkirkan perbedaan dan mendorong pemulihan perdamaian dan keamanan sehingga dapat memulihkan kredibiltas lembaga DK PBB tersebut.

 

Sebagian besar delegasi yang menyampaikan pandangan dan pernyataan menyuarakan hal serupa. Tercatat misalnya PM Libanon, Menlu AS, Menlu Qatar, Menlu Norwegia, Menlu Irak, Menlu Mesir, Menteri Pembangunan Turki, Wakil Menlu Iran menegaskan perlunya masalah Suraiah dilihat secara komprehensif dan mendukung penyelesaian politis dan penciptaan perdamaian seiring dengan pemberian bantuan kemanusiaan kepada rakyat Suriah yang menjadi korban konflik.

 

Peserta Konferensi mempunyai posisi dan pemandangan yang sejalan untuk memberikan kontribusi bagi penyelesaian bencana kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern umat manusia ini. Meskipun dari segi nominal jumlah komitmen bantuan jauh dari target sebesar USD 6,5 milyar, namun hal tersebut tidak mengurangi arti penting Konferensi yang telah memberikan pesan bahwa semua pihak yang terkena dampak konflik Suriah tidak dilupakan dan kesiapan berbagi beban dengan negara tetangga yang selama ini telah menjadi rumah bagi para pengungsi Suriah.

 

Sebagaimana disampaikan oleh Deputi I PM dan Menlu Kuwait Sheikh Sabah Khaled Al-Hamad Al-Sabah dalam sambutan penutupan Konferensi bahwa dengan Konferensi ini semua pihak tetap berkomitmen dalam menyelesaikan masalah Suriah dan mengakhiri bencana kemanusiaan yang terus terjadi hingga kini di Suriah.

 

 

KBRI Kuwait,  Januari 2014