Kuwait

PROFIL EKONOMI KUWAIT
 
Profile ekonomi Kuwait pada tahun 2011 cukup baik, ditengah-tengah situasi dan kondisi sebagian negara-negara Arab yang dilanda krisis, akibat pergolakan politik dalam negeri masing-masing, yang dikenal dengan istilah ”Arab Spring”, Kuwait dapat mempertahankan dan meningkatkan kondisi ekonominya.
 
 Pada tanggal 11 Agustus 2011, Kementerian Keuangan Kuwait mengumumkan bahwa Kuwait memperoleh surplus keuangan sebesar KD 5,28 milyar (US$ 19,4 milyar) untuk tahun anggaran 2010/2011 (tahun fiskal Kuwait dimulai tanggal 1 April dan berakhir tanggal 31 Maret). Pemasukan tahun anggaran 2010/2011 adalah sebsar KD 21,5 milyar, sementara pengeluaran sebesar KD 16,2 milyar. Sektor perminyakan masih tetap dominan sebagai pemasukan terbesar yaitu KD 19,9 milyar.
 
Surplus ini berkat patokan asumsi harga minyak yang ditetapkan dalam tahun fiskal 2010/2011 sebesar US$ 43 barel per hari (bpd), namun dalam kenyataannya harga minyak dunia selama tahun 2010/2011 berkembang dalam kisaran US$ 65 s/d US$ 115 bpd. Hal ini memberikan keuntungan besar bagi Kuwait yang merupakan salah satu negara eksportir minyak terbesar di dunia.
 
 Dari jumlah surplus tersebut 10% dimasukkan dalam ”Sovereign Wealth Fund” negara Kuwait, yang disimpan dalam dua badan keuangan negara yaitu, the Reserve Fund for Future Generations (RFFG) dan the State General Reserve Fund (SGRF). Aset kekayaan negara di kedua badan tersebut dikelola oleh Kuwait Investment Authority (KIA), yang sebagian besar ditanamkan dalam investasi protofolio di berbagai bursa saham di Eropa dan Amerika Serikat.
 Kuwait Finance House (KFH), sebuah perbankan Syariah terbesar di Kuwait melaporkan bahwa sumber utama pemasukan terbesar pemerintah Kuwait adalah dari sektor minyak dan pendapatan dari aset-aset yang ditanamkan di luar negeri.
 
Sementara itu, bank terbesar di Kuwait, National Bank of Kuwait (NBK) mengeluarkan laporan pertumbuhan ekonomi Kuwait tahun 2011, sebesar 4,7%. Hal ini utamanya dipengaruhi oleh tingginya harga dan produksi minyak. Produksi minyak Kuwait sampai dengan bulan Nopember 2011 adalah sebesar 2,6 juta bpd.
 
 Pertumbuhan ekonomi Kuwait juga didorong oleh tingkat konsumsi masyarakat yang stabil. Masyarakat Kuwait sangat dikenal menggemari konsumsi makan di luar rumah. Berdasarkan survei yang dilakukan MasterCard, pada pertengahan semester kedua tahun 2011, bersantap dan hiburan menjadi prioritas penting bagi masyarakat Kuwait. Rumah makan cepat saji berada pada peringkat outlet makan paling disukai. Sekitar 88% responden memilih rumah makan cepat saji. Urutan berikutnya adalah mid-range restoran keluarga/kafe (55%), restoran fine dining (32%) dan santapan di hotel (19%).
 
Dalam aktivitas perdagangan internasional, Kuwait mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010. Nilai ekspor minyak meningkat menjadi US$ 88,214 milyar dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar US$ 59,084 milyar. Sementara itu, nilai ekspor non-migas juga meningkat 4,3% dibandingkan tahun 2010. Ekspor Kuwait selain minyak dan turunannya adalah di sektor perikanan. Menurut data yang dikeluarkan Biro Ekonomi Uni Eropa tahun 2010, sepuluh mitra dagang utama Kuwait adalah; Korea Selatan, Jepang, India, Uni Eropa, Amerika Serikat, RRC, Singapura, Pakistan, Saudi Arabia, dan Mesir.
 
 Inflasi di Kuwait sampai dengan Oktober 2011 meningkat 0,1% menjadi 4,7% yang dikarenakan kenaikan harga barang secara global di negara GCC, akan tetapi angka riil inflasi tersebut jauh dari perkiraan ketakutan bahwa kenaikan gaji dan hibah dari Amir Kuwait akan memacu inflasi yang lebih tinggi.
 
 Dengan berbagai capaian di bidang ekonomi tersebut, Kuwait akan semakin percaya diri dalam mencapai visi Amir Kuwait Sheikh Sabah Al Ahmad Al Jaber Al Sabah untuk menjadikan negara Kuwait sebagai hub keuangan dan perdagangan di kawasan pada tahun 2025. Berbagai proyek pembangunan vital telah dicanangka semenjak tahun 2010. Proyek-proyek tersebut antara lain pengembangan dan perluasan Kuwait International Airport, pembangunan rumah sakit baru dan universitas, perumahan baru dan pelabuhan kotainer Mubarak Al Khabir.
 
 Kerjasama regional di antara negara-negara anggota GCC tercermin dari beberapa investasi jangka menengah dan jangka panjang. Salah satu kesepakatan yang sudah berjalan adalah pembangunan sistem jalur kereta api (GCC Railway) senilai US$ 15 miliar, yang diharapkan sudah dapat beroperasi pada tahun 2019. Kuwait telah menandatangani kontrak KD 2 juta dengan sebuah perusahaan konsultan internasional untuk membuat studi kelayakan pada bulan Oktober 2011, sedangkan kereta bawah tanah Kuwait diharapkan sudah dapat beroperasi pada tahun 2017. Proyek patungan ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian Kuwait dan negara-negara GCC pada umumnya. Jalur kereta api tersebut akan membentang dari Kuwait sampai dengan Oman melalui negara-negara GCC lainnya.
 
KFH memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Kuwait tahun 2012, tidak akan berbeda jauh dengan tahun 2011. Hal ini didasari bahwa dalam 8 bulan, tahun anggaran berjalan 2011/2012, Kuwait telah memperoleh surplus sebesar KD 11,6 milyar. Dengan patokan asumsi harga minyak yang ditetapkan dalam APBN 2011/2012 sebesar US$ 60 (bpd), dan melihat harga minyak di pasaran dunia seperti Brent yang sampai dengan akhir tahun 2011 berada di atas US$ 100, maka diperkirakan Kuwait akan kembali memperoleh surplus dalam tahun fiskal 2011/2012.
 
 Pada tahun 2012, diperkirakan Kuwait dapat meningkatkan produksi minyaknya sampai dengan 3 juta bpd. Hal ini sesuai dengan target Kuwait tahun 2020, untuk dapat memproduksi minyak sebesar 4 juta bpd.
 
Dalam laporanya, KFH sedikit menurunkan angka pertumbuhan ekonomi Kuwait tahun 2012 sebesar 4,5% dibandingkan tahun 2011 sebesar 4,7%. Menurut laporan tersebut, penurunan ini diakibatkan oleh kelesuan pasar global, utamanya pasar di Amerika Serikat dan Eropa.
 
Di sisi lain beberapa pengamat ekonom melihat bahwa prospek pengembangan ekonomi di Kuwait masih pada tahap aman dan menjanjikan bagi pengembangan bisnis ke depan. Isu politik antara Iran dengan negara-negara Barat dapat memberikan keuntungan tersendiri bagi Kuwait. Iklim politik yang memanas di wilayah Timur Tengah diperkirakan dapat mempertahankan harga minyak dunia di atas asumsi APBN 2011/2012 sebesar US$ 60. Keberhasilan pelaksanaan Pemilu anggota Parlemen ke-14 pada tanggal 2 Februari 2012, dapat juga memicu pertumbuhan ekonomi Kuwait. Masyarakat sangat berharap agar Parlemen dan Pemerintah dapat berjalan beriringan dalam mempercepat pembangunan ekonomi, yang selama ini terkendala akibat perseteruan berkepanjangan di antara kedua lembaga tersebut.

?