KJRI Kota Kinabalu Adakan Seminar Dan Konsultasi Investasi Di Indonesia

Pada hari Kamis, tanggal 8 Desember 2016, KJRI Kota Kinabalu mengadakan 'Seminar dan Konsultasi" mengenai peluang investasi di Indonesia, di Sun Hall, SKY Hotel, Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. Konsul Jenderal RI untuk Negeri Sabah dan Wilayah Labuan-Malaysia, Akhmad DH. Irfan telah membuka seminar secara resmi yang dihadiri oleh 50 (limapuluh) orang perwakilan Organisasi Perdagangan dan Perindustrian dari berbagai kelompok masyarakat Sabah seperti: Bumiputera, Melayu, China, dan India serta wakil dari BIMP-EAGA Business Council, Sabah Federation Industry, dan University Malaysia Sabah.

 

Seminar telah menghadirkan narasumber, Sdr Dwi Tjahyanto Suharso, PhD selaku Konsultan Pakar Investasi Indonesia dan Helen Stephani selaku Pengusaha dan Alumni PPEI. Kedua nara sumber secara bergantian membahas mengenai peluang investasi dan regulasi di Indonesia mengenai ketenagakerjaan, lingkungan, dan berbagai tips berinvestasi di Indonesia.

 

Kedua narasumber seminar mengatakan bahwa kebijakan terkini Indonesia, khususnya bagi peningkatan pelayanan kepada investor adalah dengan meluncurkan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) untuk memudahkan proses penanaman modal bagi investor, dan juga menawarkan sejumlah insentif bagi investor yang memenuhi kriteria yang ada. Ditambahkan juga bahwa Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, sangat berpotensi bagi industri halal khususnya untuk konsumsi domestik. Sehingga dipaparkan juga mengenai peluang investasi di sektor industri halal seperti makanan dan minuman, kosmetika, obat-obatan halal, serta prosedur dan tatacara memperoleh sertifikasi halal.

SEMINAR-7.jpgSEMINAR-8.jpg

 

Hendro Retno Wulan, Fungsi Ekonomi KJRI Kota Kinabalu selaku Kordinator acara mengatakan : "Kegiatan ini merupakan acara yang bertujuan untuk menarik para investor potensial di Sabah agar lebih memahami mengenai investasi di Indonesia, bagaimana berinvestasi apa yang diperlukan untuk berinvestasi dalam meningkatkan ekonomi perdagangan dan kegiatan produksi kedua belah pihak Indonesia dan Sabah," kata Hendro Retno Wulan,.

 

Connie Chong, seorang pengusaha Sabah bidang makanan dan jasa perjalanan yang hadir dalam seminar mengatakan bahwa dirinya tertarik menghadiri seminar karena Indonesia mempunyai beraneka ragam produksi makanan yang terus berkembang dan memiliki banyak tempat yang bagus untuk berwisata. Oleh sebab itu dirinya berminat mencari peluang investasi di Indonesia atau paling tidak membuka kerjasama dengan pengusaha Indonesia di bidang yang sama dengannya. 

 

Wartawan media cetak Sabah, Zaini dan Naddin dari Media Utusan Borneo dan Harian Bernama telah menemui Konjen RI selepas acara seminar dan bertanya lebih lanjut mengenai statistik iklim investasi di Indonesia. Kepada mereka, Konjen RI memberi keterangan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang besar dan sangat berpotensial di seluruh dunia untuk berinvestasi disamping India, China, dan Amerika Serikat. Dengan jumlah persentase penduduk lebih dari 70% usia produktif (usia muda), Indonesia mampu menjaga pertumbuhan ekonomi, perdagangan dan kegiatan produksi yang berimplikasi pada rata-rata GDP sekitar 5-6 % pada periode 2010-2014. Pemerintah Indonesia sangat memerlukan pembangunan infrastruktur, maritim, dan tenaga listrik sehingga berusaha membuka peluang kerjasama dan investasi lebih besar di bidang-bidang tersebut, terlebih jika hal itu dapat mempercepat laju pembangunan di daerah, khususnya di luar Jawa.

 

Pada akhirnya, seminar ini mendapatkan sambutan yang hangat dari para peserta yang hadir. Dari sejumlah pertanyaan yang diajukan oleh para peserta, dapat disimpulkan bahwa minat dunia usaha di Sabah untuk mencari peluang bisnis, investasi dan kerjasama dengan Indonesia amat tinggi. Hal ini tentunya perlu ditindaklanjuti dengan beberapa program di masa yang akan datang, seperti penyelenggaraan one-on-one business meetings antara calon investor potensial dan pengusaha dari kedua belah pihak, Indonesia dan Sabah.