Peningkatan Kerjasama Indonesia-Sudan Melalui Media Pendidikan

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

  

“Hubungan Indonesia-Sudan sangat dekat secara historis, namun akan lebih penting dan berarti jika kedua negara dapat mengisi hubungan tersebut dengan kerjasama yang lebih kongkrit untuk dapat dimanfaatkan bagi kedua bangsa. Salah satunya adalah melalui media pendidikan. Melalui pendidikan, akan terjadi people-to-people contact yang lebih intens”, demikian disampaikan Dubes RI untuk Sudan, Dr. Sujatmiko, setelah bertemu Menteri Agama dan Wakaf Sudan, Dr. Dr. Azhari Al-Tigani Awad Al-Seed, dan juga dengan Rektor International University of Africa, Prof. Dr. Hassan Makki, di Khartoum, baru-baru ini.

 

Saat ini terdapat 315 mahasiswa Indonesia yang tengah menyelesaikan studinya di Sudan dan sebagian besar mendapatkan beasiswa, tetapi mahasiswa Sudan yang menuntut ilmu di Indonesia tidaklah banyak. Untuk itu perlu dilakukan upaya terpadu agar terjadi keseimbangan tersebut, antara lain dengan memberikan beasiswa untuk mahasiswa Sudan maupun promosi pendidikan Indonesia di Sudan, mengingat cukup banyak mahasiswa Sudan yang berminat dan mampu melanjutkan pendidikannya di Indonesia. Sebagai perbandingan, jumlah mahasiswa Sudan di Malaysia mencapai 3.000 mahasiswa dan hanya sekitar 2% nya yang menerima beasiswa.

 

Mahasiswa perlu diberi dukungan agar dapat lebih berkonsentrasi menimba ilmu, oleh sebab itu Dubes RI menyampaikan rencana untuk membangun asrama bagi mahasiswa Indonesia, karena terdapat mahasiswa (non beasiswa) yang harus tinggal di rumah-rumah penduduk, bahkan terpaksa tinggal di sekretariat PPI maupun di tempat lain karena mahalnya biaya hidup di Sudan. Menanggapi hal tersebut, Menteri Tigani berjanji akan mencarikan tanah wakaf untuk dapat digunakan sebagai tempat dibangunnya asrama mahasiswa.

 

Dubes RI mengungkapkan, “Untuk meningkatkan jumlah mahasiswa Sudan di Indonesia, dibutuhkan dana yang memadai dalam bentuk pemberian beasiswa. Selain sumber dana yang dapat digali dari Pemerintah Indonesia dan perguruan tinggi di Indonesia. Saya akan segera mencarikan dana dari sumber yang lain, baik dari Indonesia sendiri, maupun dari Sudan.”

 

Selain peningkatan jumlah mahasiswa yang melanjutkan studinya di kedua negara, akan dirancang pula mekanisme pertukaran pengajar dan tenaga professional lainnya di bidang pendidikan. Saat ini telah ditandatangani beberapa MoU kerjasama antara Indonesia dan Sudan, antara lain MoU kerjasama antara International University of Africa dengan Universitas As-Safiiyah Jakarta pada tahun 2010, dengan Universitas Muhammadiyah Solo pada tahun 2010 dan dengan Universitas Ar Raniri Aceh. “Sebagai implementasi kerjasama dengan Ar Raniri, telah dibentuk joint program pasca sarjana yang telah menghasilkan 15 lulusan bergelar MA di Ar Raniri, Aceh” ungkap Prof. Dr. Hassan Makki.

 

Dari pertemuan tersebut terungkap pula mengenai kebutuhan Sudan akan tenaga-tenaga pengajar antara lain di bidang teknologi informasi, kedokteran dan farmasi. Untuk itu Prof. Dr. Hassan Makki mengundang dosen-dosen Indonesia untuk mengajar di kampusnya. Pihak universitas akan menyediakan seluruh fasilitas yang dibutuhkan dan juga gaji yang sesuai.

 

Selain itu, sebagai upaya meningkatkan people-to-people contact, KBRI Khartoum tengah mencoba memanfaatkan kavling tanah seluas 900 m2 yang berada di Taman Internasional, Khartoum, sebagai pusat promosi Indonesia dan sekaligus pusat kegiatan masyarakat Indonesia yang terbuka bagi masyarakat Sudan.

 

Penyelenggaraan Haji Sudan Tahun 2010

 

Dubes RI menyampaikan apresiasinya dan ucapan selamat kepada Menteri Tigani atas lancarnya penyelenggaraan musim haji tahun 2010 di Sudan dan berharap kiranya penyelenggaraan di musim-musim haji selanjutnya dapat lebih baik lagi. Selain itu, Dubes RI juga berharap kiranya pada musim haji tahun 2011 yang akan datang dan seterusnya, keinginan masyarakat Indonesia di Sudan untuk menunaikan ibadah haji dapat terlaksana.

 

Pada musim haji tahun 2010, dari 130 pendaftar calhaj Indonesia di Sudan, hanya 20 orang yang berhasil berangkat haji. Gagalnya mereka karena telah penuhnya kuota Sudan.

 

 

Khartoum, 20 Januari 2011