Pengalaman dan Investasi Indonesia di Bidang Energi Dinanti Sudan

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

“Kami menantikan peran yang lebih besar dari Indonesia untuk mengembangkan eksplorasi dan eksploitasi minyak di Sudan karena Indonesia memiliki pengalaman dan teknologi perminyakan yang saya yakin dapat diterapkan di Sudan” ujar Lual Achuil Deng, Menteri Perminyakan Sudan, dalam kesempatan pertemuan dengan Dubes RI, Dr. Sujatmiko, baru-baru ini.

“Teknologi yang dimiliki Indonesia dapat meningkatkan kapasitas produksi kilang-kilang minyak Sudan yang saat ini tengah mengalami penurunan produksi. Untuk itu pengusaha minyak Indonesia harus segera datang ke Sudan untuk bertemu saya dan akan saya atur pertemuan dengan Oil Exploration and Production Authority (OEPA) untuk membahas rencana kerjasamanya”, lanjutnya lagi.

Hasil pelaksanaan referendum Sudan Selatan yang kemungkinan besar akan menjadikan Sudan Selatan menjadi negara merdeka, diyakini tidak akan berpengaruh pada upaya Sudan untuk meningkatkan produksi minyaknya mencapai 1.000.000 barel per hari pada tahun 2015. Menteri Lual mengungkapkan bahwa target tersebut sangat feasible, mengingat masih banyaknya kandungan minyak Sudan yang belum tereksploitasi.

“Memang saat ini terdapat beberapa kilang minyak yang mengalami penurunan produksi, namun bukan karena kandungannya menurun, tetapi dibutuhkan teknologi khusus untuk mengangkat minyak tersebut”, ungkap seorang pejabat Pertamina dalam kesempatan terpisah.

Sujatmiko menegaskan, “Para pengusaha minyak Indonesia harus segera menangkap peluang-peluang ini. Terutama dengan semakin gencarnya Sudan untuk mengekploitasi kekayaan minyaknya. Dalam jangka waktu 6 bulan ke depan Sudan berencana untuk membangun mini refinary dengan kapasitas mencapai 10.000 barel per hari, Indonesia bisa ambil bagian di situ. Selain itu,” lanjut Sujatmiko, “Sudan juga menawarkan 3 buah blok kepada Indonesia untuk ikut serta dalam kegiatan eksplorasi. Selain ketiga blok yang belum ada operatornya tersebut, Sudan juga tawarkan satu blok lain, yang ditinggalkan oleh operator utamanya.”

Sebenarnya, Pertamina telah melakukan eksplorasi minyak di lepas pantai Laut Merah, bersama-sama dengan perusahaan minyak dari Cina, Nigeria dan Sudan, sejak tahun 2007. Namun Pertamina perlu segera mengambil peluang-peluang lain untuk dikembangkan, termasuk terkait rencana Sudan untuk membangun jaringan pipa penyalur minyak ke Ethiopia dan Kenya.

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Sudan

Menteri Negara Kelistrikan Sudan, As-Saddiq Mohammed Ali Al-Sheikh mengatakan “Dengan selesainya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air di Bendungan Merowe, kebutuhan listrik Sudan sudah terpenuhi bahkan berlebih, namun kami memiliki kendala dalam hal transmisi ke daerah-daerah terpencil. Kami ingin menimba pengalaman dari Indonesia”.

Sementara itu, Dubes Sujatmiko seusai bertemu dengan Menteri Kelistrikan mengatakan, “Sudan ingin bekerjasama dengan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan berbagai alat transmisi listrik, baik untuk didistribusikan ke kota dan desa di seluruh Sudan yang jaraknya ribuan kilometer maupun untuk tujuan ekspor ke negara tetangga terdekat.” “Ini adalah peluang ekspor Indonesia di bidang peralatan listrik yang harus segera dimanfaatkan oleh pengusaha Indonesia”, lanjut Sujatmiko.

Jika tidak ada kendala, Menteri Negara Kelistrikan Sudan akan berkunjung ke Indonesia dalam waktu dekat untuk bertemu dengan Kementerian dan pihak-pihak terkait di Indonesia untuk membicarakan secara kongkrit peluang-peluang kerjasama Indonesia-Sudan di bidang ini.

Tidak hanya mengeskploitasi kekayaan minyaknya, Sudan juga berkeinginan untuk mengembangkan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir dan telah mendapat lampu hijau dari IAEA. Menteri Kelistrikan Sudan pun menyatakan ingin menimba pengalaman dari Indonesia yang saat ini juga sedang mempersiapkan pembangunan PLTN.

Khartoum, 1 Februari 2011