Indonesia dan Sudan Miliki Potensi Perdagangan yang Menjanjikan

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Semalam (16/4) Dubes RI menerima sebanyak 50 pengusaha Sudan dalam jamuan makan malam di Wisma Duta KBRI Khartoum. Sebagian besar pengusaha yang hadir adalah pengusaha besar Sudan yang memiliki jaringan kerja luas, tidak hanya Sudan tapi juga meliputi negara-negara Timur Tengah dan Afrika.

 

Pengusaha terkemuka yang turut hadir dalam jamuan tersebut antara lain dari Asosiasi Pengusaha Sudan,  Export Development Bank, Sidgo Holding Co. Ltd., Asosiasi Kontraktor Sudan, dan Social Security Investment Authority (SSIA).

 

Duta Besar Sujatmiko menjelaskan bahwa Sudan dan Indonesia masing-masing memiliki potensi ekspor yang menjanjikan. Sudan misalnya, memiliki potensi ekspor ke Indonesia seperti minyak mentah, daging halal, habbatussauda (jintan hitam), gum arabic, dsb. Sementara Indonesia memiliki potensi ekspor ke Sudan di sektor industri kertas, material bangunan, produk elektronik, perlengkapan rumah sakit, alat pertanian, furniture, alat-alat berat, dsb.

 

Sektor jasa juga menjadi perhatian. "Sejumlah kalangan telah meminta secara resmi kepada kami untuk mengembangkan bisnis sektor ini dengan mendatangkan tenaga kerja di bidang konstruksi, buruh tani, sektor peternakan dan perawat", tutur Sujatmiko. Khusus untuk perawat, tengah diupayakan untuk mendatangkan, sebagai tahap awal, 120 perawat Indonesia ke Sudan.

 

Untuk meningkatkan nilai ekspor-impor Sudan dan Indonesia, KBRI Khartoum telah mengundang pengusaha Sudan untuk melakukan kunjungan bisnis ke Indonesia serta bertemu dengan counterpart masing-masing. "Sementara ini sebanyak 17 orang pengusaha telah menyampaikan kesediaannya, dan kami terus menunggu dari yang lain", jelas Sujatmiko. “Bidang-bidang yang mereka minati adalah dari foodstuff, confectionaries, canned tuna, alat-alat pertanian, perminyakan dan pertambangan, peralatan rumah sakit, konstruksi, peternakan, kertas, ban, bahan-bahan bangunan, alat-alat berat, perbankan hingga tenaga terampil dan ahli di bidang kesehatan (dokter, perawat, operator alat) dan pertanian. Dan di antara mereka yang berangkat, adalah chairman SSIA, yang mempunyai kewenangan untuk menentukan perusahaan mana yang dapat berinvestasi dan menjalankan usahanya di Sudan”, lanjutnya lagi.

 

Menurut rencana, business trip akan dilakukan pada tanggal 26-29 April 2011 yang meliputi pertemuan dengan pejabat kementerian terkait, pertemuan dengan para  Pengusaha Indonesia di kantor KADIN, one-on-one meeting dengan para pengusaha Indonesia, serta kunjungan ke sejumlah pabrik untuk lebih mengenali potensi ekonomi Indonesia.

 

"Dalam waktu dekat kami juga akan mengundang pengusaha Indonesia untuk datang ke Sudan guna menjajaki peluang usaha dan investasi di negeri ini", tambah Sujatmiko. “Dari berbagai pertemuan yang kami lakukan, telah banyak permintaan agar Indonesia dapat mengerjakan proyek-proyek besar di Sudan dan juga melakukan investasi di bidang pertanian skala besar, industri gula, kulit, pabrik ban, dsb”. ”Yang cukup menarik adalah adanya peluang bagi pengusaha retailer Indonesia. Pemilik Hotel Corinthians (Burj El Fateh), salah satu hotel internasional di Khartoum, telah meminta pengusaha Indonesia untuk menjadi pengelola pusat perbelanjaan di hotel tersebut’, lanjut Sujatmiko.

 

Dalam kesempatan tersebut juga ditampilkan video mengenai produk-produk strategis dan maju, serta pariwisata Indonesia untuk lebih meningkatkan motivasi para pengusaha Sudan untuk menjalin kerjasama dengan pengusaha Indonesia.

 

 

Khartoum, 17 April 2011