Liputan Wawancara Dubes RI dengan Harian Elhurra

1/17/2011

 

Pada tanggal 20 Desember 2010, reporter harian Elhurra melakukan wawancara dengan Duta Besar RI, Dr. Sujatmiko seputar hubungan ekonomi Indonesia dan Sudan. Hasil wawancara tersebut adalah sebagai berikut :

1. Seberapa besar investasi Indonesia di Sudan dan kendala apa saja yang dihadapi ?

Investasi Indonesia di Sudan masih terbatas di bidang perminyakan dan industri makanan yang diwakili oleh PT. Pertamina dan PT. Indofood Sukses Makmur. Namun demikian, kami terus mendorong peningkatan investasi Indonesia di Sudan melalui pertemuan-pertemuan dengan instansi dan para pelaku usaha terkait di Indonesia.

Beberapa kendala yang dihadapi oleh Indonesia dalam berinvestasi di Sudan, diantaranya adalah sulitnya melakukan transaksi keuangan secara langsung antar bank di kedua negara, sebagai akibat dari masih diberlakukannya embargo ekonomi sepihak Amerika terhadap Sudan. Untuk memecahkan persoalan tersebut, kami telah melakukan serangkaian pertemuan dengan beberapa pejabat Pemerintah Sudan dan pihak otoritas keuangan termasuk Bank Sentral Sudan serta Duta-duta besar asing di Sudan.

Faktor keamanan akibat konflik-konflik internal di Sudan juga menjadi salah satu penyebab melemahnya minat para investor untuk menanamkan modalnya di Sudan. Kami berharap kondisi keamanan di Sudan dapat pulih secara total, khususnya paska Referendum 2011 mendatang. Disamping itu, diharapkan Pemerintah Sudan juga dapat memberikan kemudahan-kemudahan dalam berinvestasi.

2.Bagaimana cara mentransfer pengalaman ekonomi Indonesia ke Sudan ?

Berbagai cara dapat dilakukan, diantaranya adalah melalui kegiatan saling kunjung antar pejabat tinggi kedua negara termasuk kalangan pengusaha kedua negara yaitu dengan mengikuti pameran-pameran internasional dimasing-masing negara, seminar, diskusi dan penelitian-penelitian ilmiah.

Indonesia-Sudan telah memiliki payung kerjasama kedua negara diberbagai bidang melalui MoU kerjasama Indonesia-Sudan yang ditandatangani pada saat Pertemuan Komisi Bersama tahun 2003 di Jakarta. Kami berharap pada tahun 2011 mendatang, Pertemuan Komisi Bersama ke-2 dapat diselenggarakan di Khartoum. Namun demikian, bukan berarti selama ini tidak terdapat kegiatan diantara kedua negara.

3.Sejauh mana pengaruh bencana alam dan krisis keuangan global terhadap perekonomian di Indonesia ?

Secara umum, bencana alam yang menimpa Indonesia tidak berpengaruh terhadap perekonomian nasional kecuali di daerah-daerah lokasi bencana alam. Sebaliknya, indikasi perekonomian Indonesia pada tahun ini diperkirakan meningkat hingga 6%. Indikasi tersebut didukung oleh peningkatan ekspor luar negeri Indonesia yang hingga Oktober 2010 lalu telah mencapai US$ 125,13 milyar, impor mencapai US$ 109,54 milyar dan Investasi asing mencapai US$ 10,115 milyar, sedangkan tingkat inflasi hanya sebesar 5,98%.

Pengaruh paling besar yang dirasakan di sektor perekonomian Indonesia adalah merosotnya IHSG di bursa efek hingga 50% akibat penarikan dana investasi karena kekhawatiran terhadap pengaruh krisis moneter yang berkepanjangan. Namun ternyata Indonesia dapat membuktikan ketangguhan ekonominya dalam menghadapi krisis moneter, sehingga IHSG melonjak kembali hingga 60%.

4.diambil oleh Pemerintah dalam upaya meningkatkan perekonomiannya ?

Menurut laporan Bank Dunia, diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun 2010 mencapai 5,9%, sedangkan Bank Indonesia memperkirakan mencapai 6,1%, didukung oleh pertumbuhan di sektor transportasi, telekomunikasi, industri, perdagangan, investasi dan lain sebagainya.

Beberapa strategi yang diambil oleh Pemerintah dalam upaya meningkatkan perekonomiannya, diantaranya melalui penguatan stabilitas politik dan keamanan, pemberlakuan UU ekonomi, pembentukan pemerintahan yang bersih (Good Governance), upaya pembebasan tarif bea-cukai dan pajak, pemberian kemudahan-kemudahan dalam investasi dan pelayanan umum, penguatan basis ekonomi menengah-bawah melalui perogram UKM dan peningkatan promosi produk Indonesia di luar negeri.

5.Langkah-langkah apa yang diambil oleh Pemerintah Indonesia dalam mengantisipasi kenaikan harga barang ?

Harga-harga barang di Indonesia relatif stabil, bahkan kalau dibandingkan dengan harga-harga barang di Sudan bisa 5 (lima) kali lebih murah. Oleh karena itu, Indonesia berupaya untuk dapat mengekspor produk-produknya yang murah dan berkualitas tinggi ke Sudan dan ke beberapa negara lain seperti Amerika, Eropa, Jepang dan lain sebagainya.

6.Sebutkan beberapa produk Indonesia yang dipasarkan di Sudan ?

Beberapa produk Indonesia yang telah dipasarkan di Sudan, diantaranya adalah: kertas dan perlengkapan alat tulis, makanan dan minuman, elektronik dan elektrik, komponen kendaraan, peralatan rumah tangga, tekstil dan pakaian jadi dengan nilai ekspor sebesar US$ 80 juta pada tahun 2009, sedangkan impor Indonesia dari Sudan berupa minyak mentah, kapas dan lainnya sebesar US$ 668,7 juta.

Beberapa produk indonesia yang berpotensi untuk dipasarkan di Sudan, diantaranya seperti kayu, CPO, karet, teh, kopi, coklat, udang, tuna, mutiara, hasil tambang, hasil industri, bahan bangunan, pupuk, mobil, kapal laut, pesawat dan lain sebagainya. Disamping itu, Indonesia juga siap untuk melakukan alih teknologi dan tenaga ahli ke Sudan.

7. Sejarah dan perkembangan perbankan Islam di Indoesia ?

Perbankan Islam di Indonesia pertama kali berdiri pada tahun 1991 yang dipelopori oleh Bank Muamalat atas ide dan prakarsa dari pemerintah, para ulama dan pengusaha-pengusaha muslim di Indonesia. Saat ini keberadaan Bank Syariah di Indonesia telah diatur dalam UU No. 10 tahun 1998.

Hingga tahun 2007, terdapat 3 (tiga) Bank besar yang memberlakukan sistem syariah yaitu Bank Muamalat, Bank Mandiri Syariah dan Bank Mega Syariah dengan sistem transaksi murabahah, mudharabah dan musyarakah serta telah pula menerbitkan sukuk/obligasi syariah untuk meningkatkan investasi syariah. Disamping itu, terdapat 19 (sembilan belas) Bank konvesional yang telah memiliki unit usaha-usaha syariah.

Pada tahun 2003, Delegasi Bank Indonesia pernah melakukan studi banding tentang perbankan syariah di Sudan.