Indonesia Menjadi Observer Pada Referendum Sudan Selatan

1/8/2011

 
Tanggal 9-15 Januari akan menjadi saat yang penting dan bersejarah bagi Sudan. Karena pada tanggal tersebut akan dilaksanakan referendum untuk menentukan masa depan Sudan Selatan, apakah tetap bergabung dalam Republik Sudan atau berpisah dan menjadi negara baru, Sudan Selatan.

Sebagai negara sahabat, Indonesia berinisiatif untuk menjadi observer dalam pelaksanaan event bersejarah tersebut bersama dengan pengamat-pengamat dari berbagai negara dan organisasi nasional, regional dan internasional. Untuk itu, Pemerintah RI telah menunjuk KBRI Khartoum menjadi pengamat dalam referendum tersebut.

Di bawah arahan Dubes RI untuk Sudan dan Eritrea, Dr. Sujatmiko, para pengamat dari KBRI Khartoum akan mulai bertugas pada tanggal 7 Januari 2011 hingga diumumkannya hasil referendum pada awal Februari 2011. Dua tim pengamat akan ditugaskan di dua kota besar, yaitu Khartoum, ibu kota Republik Sudan, dan Juba, ibu kota Sudan Selatan.

Keikutsertaan Indonesia sebagai pengamat, mendapatkan sambutan yang positif dan juga apresiasi dari Pemerintah Sudan, mengingat Indonesia juga memiliki pengalaman serupa di masa lalu.

Referendum Sudan Selatan ini merupakan implementasi dari kesepakatan damai yang ditandatangani oleh Pemerintah Sudan dengan kelompok pemberontak Sudan Selatan, Sudan People’s Liberation Movement (SPLM) pada tahun 2005. Kesepakatan damai tersebut secara otomatis mengakhiri perang saudara yang terjadi sejak tahun 1983.

Salah seorang warga Khartoum, Abdullah, menyampaikan harapannya, “…semoga pelaksanaan referendum Sudan Selatan dapat berjalan lancar dan berlangsung aman..”. Nampaknya harapan tersebut akan terwujud, karena Pemerintah Republik Sudan dan Sudan Selatan pun telah menyampaikan komitmennya untuk melaksanakan referendum yang lancar, tertib dan aman, serta akan menerima apa pun hasil dari referendum tersebut nantinya.