Konjen RI Karachi ingin Tingkatkan Penetrasi Produk Indonesia ke Sukkur

​Konjen RI Karachi, Hadi Santoso telah membahas peluang meningkatkan perdagangan bilateral Indonesia-Pakistan dengan Ketua Kadin Sukkur, Aamir Ali Khan Ghouri, Senior Vice President Kadin Sukkur, Irfan Samad, dan wakil Ketua Kadin Sukkur, Jawed Ali Shaikh  beserta para anggota Kadin Sukkur pada hari Rabu, 2 Desember 2015 di kantor Kadin Sukkur.

 
Kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan neraca perdagangan bilateral sejalan dengan prioritas pembangunan Presiden Joko Widodo terkait pembangkit energi, infrastruktur dan transportasi. “Banyaknya proyek pemerintah Indonesia yang akan dilakukan beberapa tahun kedepan merupakan peluang potensial untuk meningkatkan perdagangan kedua negara sahabat karena arus perpindahan produk/komoditas potensial akan semakin lancar”, ujar Hadi Santoso.
 
“Neraca perdagangan kedua negara telah mencapai US$ 2,2 milyar tahun 2014. Kami berharap nilai ini akan meningkat baik tahun ini dan di tahun-tahun berikutnya. Hal itu tidaklah mustahil jika di dukung oleh Kadin Sukkur”, tambah Hadi Santoso.
 
“Saya pribadi sudah beberapa kali mengunjungi Indonesia baik untuk tujuan usaha maupun wisata bersama keluarga. Dari pengalaman tersebut, banyak hal bisa dipelajari dari kemajuan Indonesia khususnya di pengembangan hospitality services”, komentar Aamir Ali Khan.
 
“Produk konsumsi Indonesia baik berupa alat perlengkapan rumah tangga, alat tulis, pasta gigi sampai produk santan dan nata de coco sudah masuk ke Sukkur. Kualitas dan harga yang bersaing membuat produk Indonesia tersebut dengan mudah diterima di kalangan konsumen Sukkur. Selain itu, seiring dengan akan selesainya pembangunan dry port dan tersedianya kawasan industri, Kadin berharap untuk dapat meningkatkan interaksi dengan eksportir maupun investor Indonesia untuk menjajagi peluang lain yang belum tersentuh”, tambah Ketua Kadin Sukkur itu.
 
“Sebagai contoh pemanfaatan IP PTA adalah peluang ekspor kurma Pakistan ke Indonesia untuk  meningkatkan neraca perdagangan kedua negara karena berdasarkan IP PTA, ekspor kurma (dates) Pakistan ke Indonesia akan dikenakan tarif 0%. Jika sudah demikian, tentu eksportir dan importir akan menikmati keuntungan”, saran Hadi Santoso kepada Aamir Ali Khan Ghouri.
 
Pemanfaatan IP PTA merupakan langkah nyata yang bisa segera dilaksanakan komunitas pengusaha kedua negara sahabat. Bagi Indonesia, kegesitan eksportir untuk datang dan menggali peluang perdagangan untuk produk konsumsi akan mudah diterima karena citra positif importir setempat akan kualitas produk Indonesia. Bagi Sukkur, pemanfaatan IP PTA secara signifikan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perdagangan agribisnis seperti kurma. Sukkur yang dikenal sebagai penghasil kurma Pakistan memiliki peluang besar untuk ekspor ke Indonesia. (Sumber: KJRI Karachi)